MerahPutih.com - Kecelakaan beruntun yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4), menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya. Tragedi itu menjadi alarm keras bagi keselamatan transportasi kereta api di Indonesia.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, menyoroti perlintasan sebidang di Jalan Ampera, di lokasi kejadian, yang masih menggunakan palang pintu manual dioperasikan warga.
“Praktik penggunaan palang manual yang dioperasikan masyarakat masih berisiko tinggi sehingga perlu ditingkatkan melalui sistem yang lebih modern,” kata Ridwan, kepada wartawan, Rabu (28/4).
Flyover atau Underpass Solusinya
Menurut Ridwan, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret dengan mempercepat pembangunan flyover atau underpass di kawasan Bekasi Timur. Infrastruktur tersebut dinilai dapat mengurangi interaksi langsung antara kendaraan dan jalur kereta.
“Pembangunan flyover atau underpass di wilayah dengan lalu lintas tinggi juga perlu dipercepat untuk meminimalkan potensi kecelakaan,” tambahnya.
Investigasi Masalah Sinyal
Ridwan juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem persinyalan dan komunikasi operasional kereta api.
Khususnya, Ridwan menyoroti adanya jeda waktu antara insiden awal dengan tabrakan berikutnya, yang menurutnya harus menjadi fokus investigasi.
“Perlu investigasi lebih lanjut, apakah karena human error atau keandalan teknologi,” tandas politikus Golkar itu. (Pon)