Kesehatan

Kiwis yang Lahir setelah 2008 Dilarang Merokok

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 10 Desember 2021
 Kiwis yang Lahir setelah 2008 Dilarang Merokok

Industri rokok Selandia Baru telah menjadi target legislator selama lebih dari satu dekade. (freepik.com/nensuria)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SELANDIA Baru akan melarang penjualan tembakau untuk generasi muda dalam upaya untuk akhirnya menghentikan kebiasaan merokok di negara tersebut.

Warga Selandia Baru--yang biasa disebut Kiwis--yang lahir setelah 2008 tidak akan dapat membeli rokok atau produk tembakau seumur hidup mereka. Undang-undang yang mengatur hal itu diharapkan akan diberlakukan tahun depan.

"Kami ingin memastikan kaum muda tidak pernah mulai merokok," kata Menteri Kesehatan Dr Ayesha Verall seperti diberitakan BBC (9/12).

BACA JUGA:

Musisi hingga Bintang Hollywood Mulai Meninggalkan Rokok Konvensional

Langkah itu merupakan bagian dari larangan keras terhadap rokok yang diumumkan Kementerian Kesehatan Selandia Baru pada Kamis (9/12).

Para dokter dan pakar kesehatan lain di negara itu menyambut baik reformasi 'terdepan di dunia', yang akan mengurangi akses ke tembakau dan membatasi kadar nikotin dalam rokok. "Ini akan membantu orang berhenti atau beralih ke produk yang kurang berbahaya. Aturan ini juga mengurangi kemungkinan anak muda kecanduan nikotin," kata Prof Janet Hook dari University of Otago.

perokok
Para dokter dan pakar kesehatan lain di negara itu menyambut baik larangan tersebut. (freepik.com/jcomp)

Tindakan keras itu mendapat reaksi beragam. "Saya rasa itu langkah yang bagus, sungguh," kata seorang pria kepada kantor berita Reuters.

“Karena saat ini banyak anak kecil yang berkeliaran dengan rokok di mulutnya. Publik bertanya-tanya bagaimana mereka mendapatkan rokok ini. Itu juga bagus untuk diriku sendiri karena aku bisa menghemat lebih banyak uang," imbuhnya.

Namun, yang lain telah memperingatkan bahwa langkah itu dapat menciptakan pasar gelap untuk tembakau, sesuatu yang diakui oleh pernyataan resmi kementerian kesehatan. "Bea dan cukai akan membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk menegakkan kontrol perbatasan," tegas mereka.

"Ini semua 100 persen teori dan 0 persen substansi. Akan ada gelombang kejahatan. Geng dan penjahat akan mengisi celah," ujar Sunny Kaushal, Ketua Dairy and Business Owners Group, kelompok lobi untuk toko serbaada lokal kepada situs berita Stuff Selandia Baru.

Lonjakan perokok muda

perokok
Dalam beberapa tahun terakhir, vaping jauh lebih populer di kalangan generasi muda. (freepik.com/master1305)


Selandia Baru bertekad untuk mencapai tujuan nasional mengurangi tingkat perokok nasional menjadi 5 persen pada 2025. Tujuan akhirnya ialah menghilangkan perokok sama sekali.

Saat ini, 13 persen orang dewasa Selandia Baru merokok, dengan tingkat yang jauh lebih tinggi di antara penduduk asli Maori. Jumlahnya melonjak hingga hampir sepertiga. Warga Maori juga menderita penyakit dan kematian pada tingkat yang lebih tinggi.

Kementerian Kesehatan Selandia Baru mengatakan merokok menyebabkan satu dari empat kanker dan tetap menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah bagi 5 juta penduduk Selandia Baru. Industri rokok telah menjadi target legislator selama lebih dari satu dekade.

Sebagai bagian dari tindakan keras yang diumumkan pada Kamis, pemerintah juga memperkenalkan kontrol tembakau utama, termasuk secara signifikan membatasi tempat rokok dapat dijual dan mengeluarkan rokok dari supermarket dan toko kelontong.

Jumlah toko yang diizinkan untuk menjual rokok akan dikurangi secara drastis menjadi di bawah 500 dari sekitar 8.000 sekarang. Demikian diungkapkan para pejabat.

Dalam beberapa tahun terakhir, vaping, rokok elektrik yang menghasilkan uap dan memberikan nikotin telah menjadi jauh lebih populer di kalangan generasi muda daripada rokok.

Namun, otoritas kesehatan Selandia Baru memperingatkan bahwa vaping juga berbahaya. Para peneliti telah menemukan agen penyebab kanker yang berbahaya dalam cairan rokok elektrik.

Pada 2017 negara tersebut telah mengadopsi vaping sebagai jalur untuk membantu perokok berhenti dari tembakau.(aru)

#Kesehatan #Rokok #Selandia Baru
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan