Kisah dan Sejarah Keluarga dalam Lukisan Sinta Tantra

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Sabtu, 06 Agustus 2022
Kisah dan Sejarah Keluarga dalam Lukisan Sinta Tantra

Pameran "Constellations of Beings" karya Sinta Tantra mengeksplorasi masa lalu Sinta dalam lingkup konstelasi (tatanan) keluarganya. (ISA Art & Design)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KELUARGA menjadi tempat pertama seseorang memulai kehidupannya. Orang tumbuh dan berkembang, menapaki lingkungan baru di luar keluarga, bersentuhan dengan banyak hal, lalu mungkin menjadi berjarak dengan keluarga. Tapi sejauh apapun perjalanan seseorang, pada akhirnya dia akan kembali pulang ke keluarga.

Tak terkecuali bagi Sinta Tantra, seniman perempuan berdarah Bali yang menempuh laku kesenimanannya di tiga negara : Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia. Dia menjadikan keluarga sebagai sumber inspirasi lukisannya. Semua karya tersebut tersua dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Constellations of Being di ISA Art & Design Gallery di Wisma 46, Jakarta.

Digelar oleh ISA Art & Design, sebuah firma konsultan seni dan galeri seni yang berbasis di Jakarta, dan dikuratori oleh Doktor Sadiah Boonstra, pameran ini mengeksplorasi masa lalu Sinta dalam lingkup konstelasi (tatanan) keluarganya guna menciptakan konstelasi-konstelasi baru atas sejarah, emosi, pengalaman, bentuk, warna, dan materi.

Guna mendapatkan inspirasi bagi karya-karyanya, Sinta bertanya kepada kedua orang tuanya mengenai sejarah dan memori berkesan dalam keluarga. Hasilnya, sebuah kumpulan lukisan-lukisan cantik yang bercerita mengenai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan sekaligus tentang hubungan antar-keluarga atau “konstelasi” antara ibu-ayah-anak dan kakek-sepupu-cucu.

“Saya mendapati bahwa kakek buyut saya ternyata seorang yang sangat berbakat. Dia pemahat batu atau undagi dalam bahasa Bali, yang sinonim dengan 'arsitek.' Bersama sepupu, dia berkeliling Bali mencari nafkah. Keduanya mengerjakan pahatan batu yang rumit untuk Istana Air di Taman Ujung yang dibangun oleh Raja Karangasem,” kata Sinta dalam katalog pameran yang ditulis Sadiah Boonstra.

Baca juga:

Karya Seni 'Faith in Speculations' Bercerita Sejarah Kelam Indonesia

lukisan sinta tantra
Deborah Iskandar (Direktur ISA Art & Design), Sinta Tantra (tengah), dan Sadiah Boonstra (Kurator) di depan lukisan Two Cousins (Batu Bata). (ISA Art & Design)

Kisah keduanya diabadikan Sinta lewat lukisan berjudul "Two Cousins (Batu Bata)". Lukisan itu menampilkan dua lingkaran di tengah dengan warna berbeda saling beririsan. Di pinggir lukisan terdapat beberapa persegi panjang.

"Meskipun abstrak dalam komposisi, dua lingkaran di tengah bisa diartikan sebagai dua sepupu, ilustrasi persahabatan dan persaudaraan mereka. 'Batu Bata' mengacu pada jenis Batu atau bata Bali, di sini diwakili oleh bentuk persegi panjang," terang Sadiah Boonstra.

Sinta melukis menggunakan bahan cat tempera di atas linen foto serta memakai bahan organik dan mineral–yang ia gambarkan sebagai proses “hidup dan bernafas.” Akhir-akhir ini, ia juga melirik penggunaan material emas yakni dengan cara menempelkan lembar demi lembar daun emas di dalam lukisannya.

Untuk komposisi karyanya yang berimbang, karya-karya Sinta terinspirasi dari pergerakan-pergerakan seni tempo dulu seperti Bauhaus, Art Deco, Abstract Expressionism, dan Modernism. Sementara untuk gayanya, seniman muda ini mengaku lebih terinspirasi dari Nyoman Lempad dan Sol LeWitt dengan garis-garis dua dan tiga dimensinya.

Sebelum pameran ini, Sinta melakukan riset mendalam selama lebih dari dua tahun kala pandemi. Inspirasi pameran tunggal ini dipetik dari siluet-siluet dedaunan tropis dengan latar bentuk-bentuk geometris abstrak dan linen. Di sini kelihatan upaya Sinta menerjemahkan pengaruh yang didapat dari pelukis-pelukis asal Eropa seperti Henri Matisse dan Jean Arp lalu dilebur dengan bentuk-bentuk simbolis khas seniman Bali, Nyoman Lempad.

"Sebagai orang yang bersentuhan dengan lingkungan Eropa, Amerika, dan Indonesia, Tantra memiliki pandangan multikultural yang unik yang memungkinkannya untuk menggabungkan elemen dari berbagai dunia tempat dia tinggal," tambah Sadiah.

Baca juga:

Pameran Seni Rupa "Manifesto VIII : Transposisi" Digelar

lukisan sinta tantra
Inspirasi pameran tunggal ini dipetik dari siluet-siluet dedaunan tropis dengan latar bentuk-bentuk geometris abstrak dan linen. (ISA Art & Design)

Itu juga memberikan kesempatan kepada Tantra untuk menorehkan karir sebagai seniman perempuan mandiri. Ini bukan prestasi kecil mengingat tak mudah menjadi seniman perempuan independen di Bali lantaran adanya tantangan berupa struktur sosial, kurangnya infrastruktur seni, dan harapan masyarakat terhadap perempuan.

Lukisan-lukisan yang ditampilkan juga mengeksplorasi tentang rasa berwujud dan memiliki, fluiditas migrasi, identitas, dan pergeseran dari manusia ke mahkluk global, menggabungkan kolonialisme masa lalu dengan masa kini guna melahirkan topik baru serta cara untuk melihat dan menghubungkan kembali dengan masa lalu.

"Saya ingin terhubung dengan orang-orang pada tingkatan yang telah melampaui kata-kata dan budaya. Saya memiliki perbendaharaan bentuk dan warna yang dapat saya pasang dan bongkar serta seperangkat aturan yang bisa saya ikuti atau saya langgar jika diperlukan, kata Tantra.

"Saya tertarik untuk menciptakan semacam tekanan bagi penikmat karya saya dalam hal komposisi dan kombinasi; tempat di mana mereka dapat menemukan narasi mereka dan di mana saya dapat menemukan narasi saya," lanjut Tantra.

Meski komposisi visual untuk mayoritas lukisannya dibuat dengan bantuan perangkat digital, untuk merampungkan lukisan aslinya, Sinta tetap menggunakan cara manual memakai tangan yang dilakukannya di studio dengan melibatkan persiapan yang mumpuni.

Nah, buat kamu yang tertarik mencari inspirasi dan mempelajari karya seni, pameran ini patut masuk jadwal kunjunganmu. Pameran ini berlangsung dari 6 Agustus sampai 30 September 2022. (dru)

Baca juga:

Pameran Seni 'Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak' Diperpanjang Hingga Maret

#Pameran Seni #Seni Rupa
Bagikan
Ditulis Oleh

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.

Berita Terkait

Fun
ArtMoments Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Angkat Tema ‘Offerings’ dan Hadirkan Lebih dari 70 Peserta
ArtMoments Jakarta 2026 resmi digelar di Agora Ballroom dengan tema “Offerings”. Ajang seni kontemporer ini menghadirkan lebih dari 70 peserta dari berbagai negara.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 05 Juni 2026
ArtMoments Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Angkat Tema ‘Offerings’ dan Hadirkan Lebih dari 70 Peserta
Fun
Art Jakarta Gardens 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Seni Kontemporer hingga Panggung Musik Outdoor
Art Jakarta Gardens 2026 resmi digelar di Hutan Kota by Plataran dengan 31 instalasi patung, pertunjukan seni budaya, hingga panggung musik outdoor.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 08 Mei 2026
Art Jakarta Gardens 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Seni Kontemporer hingga Panggung Musik Outdoor
Fun
ArtMoments Jakarta 2026 Angkat Tema 'Offerings', Hadirkan 75 Galeri dan Seniman Asia
ArtMoments Jakarta 2026 digelar pada 4–7 Juni di Agora Ballroom dengan tema 'Offerings'. Ajang seni ini menghadirkan 75 peserta dari Asia Tenggara hingga Korea Selatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 07 Mei 2026
ArtMoments Jakarta 2026 Angkat Tema 'Offerings', Hadirkan 75 Galeri dan Seniman Asia
Lifestyle
Fadli Zon Resmikan Art Jakarta Gardens 2026, Tekankan Kolaborasi dan Edukasi Seni
Jakarta Art Gardens juga menjadi sarana edukasi publik agar semakin dekat memahami dan menghargai seni rupa sebagai bagian penting dari kehidupan budaya kita
Dwi Astarini - Kamis, 07 Mei 2026
Fadli Zon Resmikan Art Jakarta Gardens 2026, Tekankan Kolaborasi dan Edukasi Seni
Fun
Art Jakarta Gardens 2026 Siap Digelar, Hadirkan 26 Galeri di Hutan Kota
Art Jakarta Gardens 2026 resmi diumumkan. Edisi kelima ini hadir di Hutan Kota dengan 26 galeri, pameran outdoor, hingga program seni interaktif.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 April 2026
Art Jakarta Gardens 2026 Siap Digelar, Hadirkan 26 Galeri di Hutan Kota
Fun
Ireland’s Eye 2026 Hadir di Jakarta, Eksplorasi Lanskap dan Budaya Irlandia
Ireland’s Eye 2026 digelar di Jakarta, menampilkan seni kontemporer Irlandia dengan tema lanskap, budaya, dan memori lintas generasi.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 03 April 2026
Ireland’s Eye 2026 Hadir di Jakarta, Eksplorasi Lanskap dan Budaya Irlandia
Fun
Illustrated Ramadhan Jakarta 2026 Dibuka di ASHTA SCBD, Hadirkan Pameran Ilustrasi Ramadan
Illustrated Ramadhan Jakarta 2026 resmi dibuka di ASHTA District 8 SCBD. Hadirkan berbagai program selama 10 hari.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 11 Maret 2026
Illustrated Ramadhan Jakarta 2026 Dibuka di ASHTA SCBD, Hadirkan Pameran Ilustrasi Ramadan
Fun
Art Jakarta Papers 2026 Sukses Digelar, Catat 9.289 Pengunjung di Edisi Perdana
Art Jakarta Papers 2026 sukses digelar. Pameran ini mencatat 9.289 pengunjung di edisi perdana.
Soffi Amira - Rabu, 11 Februari 2026
Art Jakarta Papers 2026 Sukses Digelar, Catat 9.289 Pengunjung di Edisi Perdana
Lifestyle
Fadli Zon Dorong Seni Rupa Kertas Indonesia Tembus Panggung Global
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong seni rupa berbasis kertas Indonesia menembus panggung global saat membuka Art Jakarta Papers 2026 di Jakarta.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 07 Februari 2026
Fadli Zon Dorong Seni Rupa Kertas Indonesia Tembus Panggung Global
Fun
Ragam Aktivitas di Jakarta Art Papers 2026, dari Instalasi hingga Diskusi Seni
Jakarta Art Papers akan digelar perdana pada 5-8 Februari 2026 di Jakarta, menghadirkan 28 galeri Asia dan menyoroti seni rupa berbasis kertas.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 06 Februari 2026
Ragam Aktivitas di Jakarta Art Papers 2026, dari Instalasi hingga Diskusi Seni
Bagikan