MERAHPUTIH.COM — HILANGNYA lima jurnalis bersama tiga kru kapal di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa profesi jurnalistik memiliki risiko tinggi.
Terutama ketika wartawan ditugaskan meliput wilayah bencana dan kondisi alam yang sulit diprediksi.
Kelima jurnalis tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA Biro Banten, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus atau Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Wartawan senior Naek Pangaribuan menilai peristiwa tersebut menunjukkan tugas jurnalistik di lapangan tidak terlepas dari berbagai risiko, terutama ketika wartawan bekerja di lokasi bencana.
Menurut Naek, wartawan memang dituntut untuk berada di lapangan dan mendapatkan informasi secara langsung. Namun, keberanian menjalankan tugas tidak boleh berarti mengabaikan keselamatan.
“Nyawa wartawan tetap harus menjadi prioritas,” ujar Naek di Jakarta, Jumat (11/9)
Baca juga:
Menurut dia, wartawan yang meliput bencana menghadapi risiko yang berbeda dengan peliputan dalam kondisi normal. Oleh karena itu, setiap penugasan seharusnya diawali dengan pemetaan risiko dan persiapan keselamatan yang memadai. Peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan ancaman aktivitas vulkanis, tetapi juga kondisi laut, cuaca, gelombang, angin hingga kemungkinan perubahan situasi secara cepat.
Naek mengatakan perusahaan pers dan wartawan perlu memiliki kesadaran yang sama bahwa keselamatan merupakan bagian dari profesionalisme jurnalistik. “Profesionalisme seorang wartawan bukan hanya bagaimana mendapatkan berita yang eksklusif atau cepat, melainkan juga bagaimana dia menjalankan tugas dengan perhitungan risiko yang matang dan bisa kembali dengan selamat,” jelas salah seorang tokoh senior di Persatuan Wartawan Indonesia ini.
Di tengah proses pencarian delapan orang tersebut, pemerintah telah mengerahkan kekuatan gabungan. Sebanyak 11 kapal dilibatkan untuk mencari para korban di perairan Selat Sunda.
Upaya pencarian tersebut menjadi harapan bagi keluarga, rekan sesama wartawan dan seluruh insan pers agar delapan orang yang hilang dapat segera ditemukan. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bahwa berita yang dihasilkan seorang wartawan sering kali lahir dari situasi yang tidak mudah. Wartawan bencana harus mendekati lokasi yang berisiko agar masyarakat memperoleh informasi mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.
Namun, kebutuhan masyarakat terhadap informasi tidak seharusnya menghilangkan kewajiban untuk melindungi keselamatan jurnalis.
“Tidak ada berita yang nilainya lebih tinggi daripada nyawa manusia. Kalau situasi di lapangan sudah membahayakan, harus ada keberanian untuk menghentikan atau mengubah pola peliputan,” ujar Naek.
Saat ini, keluarga dan rekan-rekan para korban masih menunggu perkembangan pencarian.
Harapannya sederhana, kelima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat.(knu)
Baca juga:
Insiden Jurnalis Hilang di Kawasan Anak Krakatau, Dewan Pers: tak Ada Berita Seharga Nyawa