Kesehatan

Jerawat Muncul karena Makan Kacang, Benarkah?

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 26 Januari 2021
Jerawat Muncul karena Makan Kacang, Benarkah?

Mitosnya, makan kacang bikin jerawatan.(foto: Unsplash/melanie kreutz)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ADA mitos yang menyebut makan kacang menyebabkan jerawat muncul di wajah. Oleh karena itu, banyak perempuan menghindari makan kacang agar terhindar dari petaka jerawatan.

Apa benar demikian? Masak sih, makan kacang bisa bikin jerawat di wajah?

Namun hingga kini, hubungan antara makanan yang dimakan dan timbulnya jerawat masih belum jelas. Beberapa studi yang dilakukan puluhan tahun terakhir menunjukkan bahwa ada kemungkinan kaitan antara keduanya.

BACA JUGA:

Fashion Item Wajib Masa Kini: Mask Chain

Jerawat pada wajah tumbuh karena kondisi hormon androgen. Hormon itu akan mulai aktif pada saat remaja. Kepekaan kulit terhadap hormon ditambah dengan bakteri pada kulit serta asam lemak di dalam kelenjar minyak membuat jerawat tumbuh.

Selain itu, ada hal-hal lain yang memacu timbulnya jerawat, seperti naik turunnya hormon ketika perempuan sedang haid, menyentuh atau memencet jerawat, hingga menggunakan helm yang rapat.

Pada 2005 dan 2006, para ahli dari Harvard School of Public Health di Amerika Serikat melakukan dua penelitian untuk melihat hubungan antara konsumsi susu dan timbulnya jerawat. Kedua penelitian tersebut menyimpulkan adanya hubungan antara konsumsi susu sapi dan tumbuhnya jerawat pada wajah mereka.

Selain itu, beberapa penelitian lain membuktikan kemungkinan hubungan konsumsi makanan tertentu dan timbulnya jerawat, misalnya cokelat dan makanan berindeks glikemik tinggi.

Makanan dengan indeks glikemik tinggi akan meningkatkan kadar hormon insulin. Kadar insulin yang terus bertambah akan meningkatkan kadar hormon androgen. Hormon androgen itulah yang akan mendorong produksi sebum atau minyak. Produksi minyak yang berlebih akan meningkatkan kemungkinan terjadinya jerawat.

Mengenai mito makan kacang menyebabkan jerawat, para ahli masih berbeda pendapat akan hal itu. Namun, yang jelas, penelitian yang dilakukan American Academy of Dermatology dan the Journal of American Medical Association menunjukkan bahwa kacang tidak menimbulkan jerawat.

Mitos kacang bikin jerawatan muncul karena kacang-kacangan mengandung lemak. Padahal, lemak yang paling banyak terkandung dalam kacang merupakan lemak tak jenuh. Lemak tak jenuh merupakan jenis lemak baik yang justru punya manfaat baik buat kesehatan.

Akan tetapi, kacang-kacangan yang diolah dengan cara digoreng mengandung kadar lemak jenuh tinggi. Itu disebabkan minyak yang digunakan untuk menggoreng mengandung lemak jenuh. Oleh karena itu, mengonsumsi gorengan, termasuk kacang goreng, dalam jumlah berlebihan memang bisa memicu masalah pada kulit seperti jerawat.

Bisa dikatakan, bukan kacang yang memicu masalah kulit, melainkan kandungan lemak jahat yang didapat dari minyak goreng. Jadi solusinya, bila kamu suka makan kacang tapi tak mau jerawatan, pilih kacang-kacangan yang dipanggang, bukan digoreng.(dwi)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan