Jangan Sepelekan Makan Malam Lebih Awal

P Suryo RP Suryo R - Rabu, 30 September 2020
Jangan Sepelekan Makan Malam Lebih Awal

Bahaya makan larut malam untuk tubuh.(Foto; Unsplash/Pablo Merchan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SERING enggak teratur kalau mau makan malam? Mulai sekarang, sebaiknya kamu memperbaiki jam makan malammu. Hal ini penting banget dilakuin apalagi kamu yang lagi diet.

Kalori adalah kunci utama yang membuat berat badanmu naik. Sehingga bila kamu makan kalori lebih banyak akan berpengaruh untuk timbanganmu. Namun, waktu makan ternyata mempengaruhi juga dalam berat badan kita.

Baca Juga:

Ini yang Terjadi Jika Kamu Makan Malam Terlalu Larut

makan
Makan yoghurt menjadi pilihan untuk makan malam yang sehat. (Foto: Unsplash/Julian Hochgesang)

Dilansir dari Healthline.com, makan terlambat akan mengakibatkan pada penambahan berat badan. Hal ini juga dikaitkan dengan jam makan malam yang telat akan juga mengakibatkan kadar gula darah tinggi.

Tidak hanya itu penelitian juga menunjukkan bahwa makan malam terlambat akan mengakibatkan obesitas. Menurut profesor kedokteran menjelaskan kepada Healthline.com, penelitian dilakukan pada 10 wanita dan 10 pria untuk melihat bagaimana metabolisme mereka ketika makan malam pada jam 22.00 dan tidur pada pukul 11 malam.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kadar gula darah mereka lebih tinggi. Kemudian jumlah lemak yang dibakar pun juga lebih rendah. Meskipun makanan yang mereka konsumsi itu sama. Penelitian ini juga membuktikan bahwa orang yang telat makan memiliki kadar gula darah naik 20% dan pembakaran lemak berkurang 10%.

Baca Juga:

Ini Waktu Paling Tepat Makan Malam Biar Berat Badan Cepat Turun

makan
Makan malam terlambat akan mengakibatkan obesitas. (Foto: Unsplash/I Yunmai)

Ini membuktikan bahwa waktu makan sangat berpengaruh untuk tubuh kita, terutama dalam mengontrol kalori. Selain itu, dengan mengatur waktu makan kita akan membantu mencegah adanya risiko penyakit jantung atau diabetes. Terutama untuk orang dewasa, kalori di malam hari merupakan makanan berat yang harus dibakar oleh tubuh.

Untuk itu lebih baik mengonsumsi makanan yang berprotein tinggi seperti yoghurt yang diberi taburan kacang-kacangan pada sore hari. Kurangi rasa makan besar di malam hari dengan menggantinya dengan salad beserta ayam panggang atau buah. Hal ini bisa menjadi makan makanan berat di malam hari, kamu bisa memakan makanan berat di siang atau pagi hari saja.

Jadi sebaiknya hindari makan makanan pada larut malam, meski pun tidak menambahkan kalori di dalamnya. Bila harimu panjang, kamu bisa menyiapkan cemilan sehat di sore hari untuk mengurangi rasa lapar di malam harinya. (ren)

Baca Juga:

Orang yang Makan di Larut Malam Cenderung Mengonsumsi Kalori dan Junk food Lebih Banyak

#Kesehatan #Menu Makanan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan