Istana Klarifikasi Pertukaran Data dengan AS, Komisi I DPR Minta Transparansi

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 24 Juli 2025
Istana Klarifikasi Pertukaran Data dengan AS, Komisi I DPR Minta Transparansi

Gedung DPR RI. (Foto: MerahPutih.com/Dicke Prasetia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - WAKIL Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menyambut baik klarifikasi dari pihak Istana terkait dengan mekanisme pertukaran data pribadi antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam kesepakatan dagang yang juga mencakup penurunan tarif impor.
?
Pernyataan itu merespons penjelasan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi yang menyatakan pertukaran data hanya untuk kepentingan komersial, tidak dikelola oleh negara lain, dan tetap sejalan dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
?
“Kami mengapresiasi penjelasan dari Istana yang menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga data pribadi warga negara. Ini merupakan langkah penting dalam membangun kepercayaan publik,” kata Dave di Jakarta, Kamis (24/7).
?
Namun, politisi Partai Golkar ini menegaskan Komisi I akan terus memantau implementasi kesepakatan ini secara ketat. Ia meminta transparansi lebih lanjut terkait dengan jenis data yang dipertukarkan, mekanisme keamanan, dan standar perlindungan yang diterapkan. “Meskipun dijelaskan bahwa pertukaran data ini sebatas kebutuhan komersial dan sesuai UU PDP, detail mengenai jenis data yang dipertukarkan, mekanisme keamanannya, dan standar perlindungan yang diterapkan harus dipastikan transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Baca juga:

Data Pribadi Indonesia ‘Dikuasai’ AS, DPR: Jangan Sampai Bertentangan dengan Undang-Undang


?
Selain itu, ia juga menyoroti poin dalam kesepakatan yang menyatakan Indonesia akan mengakui AS sebagai negara dengan tingkat perlindungan data yang memadai. Menurutnya, hal ini memiliki konsekuensi besar dan harus dikaji lebih mendalam.
?
“Pengakuan ini memiliki konsekuensi besar. Kami perlu memastikan bahwa standar perlindungan data di Amerika Serikat benar-benar setara atau bahkan lebih tinggi daripada yang kita miliki, demi menjamin data pribadi warga negara kita terlindungi secara optimal,” tegasnya.
?
Di masa depan, lanjut Dave, Komisi I akan berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, untuk memastikan kesepakatan ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga melindungi hak-hak dasar masyarakat.
?
“Transparansi dan pengawasan parlemen merupakan kunci untuk memastikan bahwa setiap kesepakatan internasional tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga melindungi hak-hak fundamental rakyat, terutama dalam hal kedaulatan data,” pungkasnya. (Pon)

Baca juga:

Ketua DPR Minta Pemerintah Lindungi Data Pribadi WNI dalam Kesepakatan dengan AS

#Data Pribadi #Amerika Serikat #Komisi I DPR
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Trump Buka Opsi AS Lakukan Pendudukan di Iran dan Kuasai Selat Hormuz
Trump berpendapat, perang dengan Iran, yang kini memasuki bulan kesembilan, tidak dapat disebut sebagai perang karena “tidak ada seorang pun yang terluka”
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 07 November 2026
Trump Buka Opsi AS Lakukan Pendudukan di Iran dan Kuasai Selat Hormuz
Dunia
Partai Demokrat Menangi Pemilu Sela 2026, Mempercepat Status Donald Trump sebagai 'Lame Duck'
Hasil ini menjadi bentuk penolakan tegas dari puluhan juta pemilih terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Dwi Astarini - Rabu, 04 November 2026
Partai Demokrat Menangi Pemilu Sela 2026, Mempercepat Status Donald Trump sebagai 'Lame Duck'
Dunia
Learjet 60 Jatuh di Florida, Satu Keluarga Dinyatakan sebagai Korban Tewas
Seorang pengusaha di bidang teknologi beserta keluarganya dinyatakan sebagai korban tewas pada Minggu tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 03 November 2026
Learjet 60 Jatuh di Florida, Satu Keluarga Dinyatakan sebagai Korban Tewas
Dunia
Selat Hormuz Belum Dibuka, Ini 7 Syarat Iran kepada Amerika Serikat
Iran mengajukan tujuh syarat kepada AS sebelum bersedia berunding dan membuka Selat Hormuz. Tuntutannya mencakup pencabutan sanksi hingga penghentian blokade.
Yusuf Abdillah - Selasa, 03 November 2026
Selat Hormuz Belum Dibuka, Ini 7 Syarat Iran kepada Amerika Serikat
Dunia
Trump Isyaratkan Serangan, Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Lebih Lama
Iran memperingatkan perang baru dengan Amerika Serikat bisa berlangsung lebih lama. Ancaman muncul setelah Donald Trump mengisyaratkan serangan lanjutan.
Yusuf Abdillah - Senin, 02 November 2026
Trump Isyaratkan Serangan, Iran Peringatkan Perang Baru dengan AS Bisa Lebih Lama
Dunia
9 Tewas dalam Insiden Jet Jatuh di Florida, Ciptakan sebuah Kawah Besar di Tengah Jalan Perumahan
Pesawat menukik ke tanah hampir secara vertikal dan meledak menjadi bola api besar.
Dwi Astarini - Senin, 02 November 2026
  9 Tewas dalam Insiden Jet Jatuh di Florida, Ciptakan sebuah Kawah Besar di Tengah Jalan Perumahan
ShowBiz
Neil Young Gugat Tim Kampanye Donald Trump, Perkara Pakai Lagu ‘Rockin' in the Free World’ untuk Kampanye
Young menyatakan penggunaan lagu miliknya yang dirilis pada 1989, 'Rockin' in the Free World', tanpa izin.
Dwi Astarini - Kamis, 29 Oktober 2026
 Neil Young Gugat Tim Kampanye Donald Trump, Perkara Pakai Lagu ‘Rockin' in the Free World’ untuk Kampanye
Dunia
3 Kapal Tengker Hantam Ranjau di Selat Hormuz, Iran Sebut Kapal Matikan Radar
Militer Iran menyebut ketiga kapal tersebut telah menonaktifkan sistem radar dan navigasi mereka dan juga mengabaikan peringatan yang dikeluarkan Angkatan Laut IRGC.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 29 Oktober 2026
3 Kapal Tengker Hantam Ranjau di Selat Hormuz, Iran Sebut Kapal Matikan Radar
Dunia
Kuba Mengadu ke PBB: 2,6 Juta Rakyatnya Susah Minum Gara-Gara Trump
Kuba mengadu ke PBB usai 2,6 juta rakyatnya kesulitan air minum akibat krisis listrik dan blokade ekonomi Amerika Serikat. Simak laporan resminya!
Wisnu Cipto - Kamis, 29 Oktober 2026
Kuba Mengadu ke PBB: 2,6 Juta Rakyatnya Susah Minum Gara-Gara Trump
Indonesia
Trump Masih Ingin Jadikan Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 Amerika Serikat
Pada 3 Januari, AS melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Caracas, ibu kota Venezuela, yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Oktober 2026
Trump Masih Ingin Jadikan Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 Amerika Serikat
Bagikan