Merahputih.com - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi menutup akses pelayaran di Selat Hormuz pada Selasa (3/3) sebagai respons atas ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel. Langkah strategis yang diprediksi akan melambungkan harga minyak dunia hingga 200 dolar AS per barel.
Penutupan jalur logistik energi paling vital di dunia ini terjadi menyusul serangan rudal Iran terhadap tanker-tanker Barat dan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan udara sekutu akhir Februari lalu.
Baca juga:
Peringatan Keras IRGC dan Dampak Ekonomi Global
Blokade ini menjadi pernyataan perang urat saraf sekaligus ekonomi terhadap sekutu. Penasihat Komandan IRGC, Ibrahim Jabari, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan balasan langsung terhadap intervensi asing di kawasan Teluk.
"Amerika Serikat serakah akan minyak. Biarkan mereka tahu bahwa kami kini telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintasinya," tegas Jabari dalam keterangannya melalui Kantor Berita ISNA.
Jabari memproyeksikan bahwa penghentian arus lalu lintas di selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut akan menciptakan krisis energi global. Dampak instan sudah mulai terasa di sektor logistik, biaya pengiriman maritim ke Irak melonjak 60 persen akibat kenaikan premi asuransi perang.
Saat ini, setidaknya tujuh kapal tanker dilaporkan terjebak di perairan Irak, sementara Pelabuhan Um Qasr lumpuh tanpa aktivitas bongkar muat.
Baca juga:
Selat Hormuz Ditutup, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Sebut Stok BBM Aman
Eskalasi Militer di Jalur Energi Dunia
Situasi di Teluk Persia memanas setelah IRGC meluncurkan rentetan rudal dan drone yang menghantam kapal tanker milik AS dan Inggris awal pekan ini. Eskalasi ini merupakan serangan balasan setelah jet tempur AS dan Israel membombardir Teheran pada 28 Februari, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur parah dan tewasnya pemimpin tertinggi Iran.
Sebagai jalur utama pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) dan minyak mentah dunia, penutupan Selat Hormuz oleh Iran dianggap sebagai "tombol nuklir" ekonomi yang dapat melumpuhkan industri global dalam waktu singkat.