MerahPutih.com - Data penutupan perdagangan sesi I di BEI pada Selasa (19/05), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 202,97 poin atau 3,08 persen ke posisi 6.396,27. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 13,67 poin atau 2,10 persen ke posisi 637,42.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.731.057 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,96 miliar lembar saham senilai Rp 15,13 triliun. Sebanyak 96 saham naik, 611 saham menurun, dan 107 tidak bergerak nilainya.
Pada Selasa (19/5), Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran pejabat Danantara Indonesia melakukan kunjungan ke Gedung BEI.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai, saham-saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini berada pada level undervalued (di bawah harga wajar) dengan nilai Price to Book Value (PBV) masih di bawah 1 kali.
Baca juga:
Dasco, Danantara dan OJK Cek IHSG dan Nilai Tukar Rupiah di BEI
Dalam kondisi normal, ia menjelaskan valuasi saham-saham sektor perbankan seharusnya dapat berada pada kisaran di atas 2 hingga 3 kali PBV.
Apalagi kalau kita lihat perbankan, dari Price to Book-nya itu below 1, di bawah 1, dimana kalau keadaan normal itu above 2, above 3. Jadi definitely there’s a potential upside,
ujar Rosan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5).
Rosan menegaskan volatilitas naik dan turunnya harga di pasar saham merupakan hal yang wajar. Namun, secara fundamental kondisi emiten-emiten di pasar modal Indonesia tercatat solid dan memiliki potensi imbal hasil yang menarik.
Jadi, kami dari Danantara melihat ini memang di bursa pasti ada up and down. Tapi kalau kita lihat dari fundamental perusahaan, ini baik, mempunyai yield yang tinggi, pricing saat ini sangat baik,
ujar Rosan.
Rosan mengatakan, keyakinan tersebut juga sejalan dengan perkembangan positif jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia.
Jumlah investor ritel kini telah mencapai 26-27 juta investor, atau tumbuh signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 juta investor, atau bertambah sekitar 6 juta investor.
Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap prospek pasar modal Indonesia ke depan.
Logikanya peningkatan ini terjadi karena investor kita yakin bahwa bursa kita makin baik ke depannya dan promising. Kalau tidak, seharusnya jumlah investor justru turun. Kalau melihat bursa ini tidak ada prospek, ya logikanya seperti itu,
ujar Rosan.