Merahputih.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terjun bebas sebesar 204,9 poin atau 2,86 persen ke posisi 6.969,40 pada penutupan perdagangan Jumat (8/5).
Penurunan tajam ini menempatkan indeks di bawah level psikologis 7.000, yang terpicu oleh kombinasi sentimen negatif global serta rontoknya saham-saham di sektor pertambangan.
Baca juga:
Stabilkan Rupiah, Purbaya Bakal Aktifkan Dana Stabilisasi Obligasi
Dampak Ketegangan Global dan Nilai Tukar
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi IHSG bergerak searah dengan pelemahan mayoritas bursa global dan regional Asia. Ketidakpastian hasil perundingan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar di tingkat eksternal.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin menambah beban berat bagi pergerakan indeks domestik.
"Kondisi ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi, di mana hal ini disebabkan oleh perundingan AS dan Iran yang belum menemukan jalan tengahnya, dan kalau dilihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga kembali melemah," ujar Herditya, Jumat (8/5).
Tekanan Royalti Progresif Sektor Minerba
Sentimen negatif dari dalam negeri muncul setelah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan skema royalti progresif baru untuk komoditas mineral utama. Kebijakan ini bertujuan mengoptimalkan penerimaan negara, namun langsung memukul emiten berbasis pertambangan logam.
Sektor bahan baku (IDXBASIC) tercatat anjlok paling dalam sebesar 7,80 persen, sementara sektor energi (IDXENERGY) merosot 4,59 persen.
Berdasarkan usulan tersebut, royalti konsentrat tembaga naik menjadi 9-13 persen dari sebelumnya 7-10 persen. Kenaikan signifikan juga menyasar komoditas emas yang diusulkan meningkat dari rentang 7-16 persen menjadi 14-20 persen.
Baca juga:
IHSG Tak Bertenaga, Rupiah Justru Curi Panggung di Angka Rp17.280 Pada Perdagangan Jumat (24/4)
"Skema ini mencakup kenaikan batas atas royalti serta penyesuaian rentang harga guna mengoptimalkan penerimaan negara saat harga komoditas naik," tambah Herditya.
Data perdagangan mencatat sebanyak 607 saham melemah, berbanding terbalik dengan hanya 138 saham yang menguat. Aktivitas transaksi di bursa mencapai nilai fantastis sebesar Rp36,07 triliun dengan volume perdagangan 54,39 miliar saham.