MerahPutih.com - for Revenge kembali menghadirkan karya terbaru melalui single bertajuk Museum Duka. Dalam lagu ini, for Revenge menggandeng YB atau Reza Arap serta Tepe untuk menghadirkan kolaborasi yang mempertemukan tiga karakter musikal berbeda.
Kolaborasi tersebut berawal dari hubungan kreatif yang terjalin ketika ketiganya sempat tampil bersama membawakan Serana dan Penyangkalan dalam sebuah festival.
Dari pertemuan itu, muncul gagasan untuk melanjutkan kerja sama melalui sebuah karya baru. Ide kolaborasi tersebut kemudian diinisiasi oleh YB melalui Boniex, vokalis for Revenge.
Baca juga:
for Revenge Hadirkan Lagu Penuh Emosi untuk Film 'Spider-Man: Brand New Day'
'Museum Duka' Jadi Ruang untuk Menyimpan Kenangan
Bagi YB, Museum Duka menggambarkan ruang personal yang dimiliki setiap orang untuk menyimpan sosok maupun kenangan yang telah pergi.
Ruang tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari hati, sebuah ruangan, hingga benda-benda yang masih disimpan sebagai pengingat.
Ketika rasa rindu kembali datang, seseorang seolah kembali mengunjungi ruang tersebut dan bertemu lagi dengan kenangan yang pernah ditinggalkan.
Lagu ini bukan cuma tentang gue, bukan cuma tentang for Revenge. Kami berusaha mewakili mereka yang juga merasa kehilangan,
YB.
Museum Duka juga menjadi pengalaman baru bagi YB. Melalui lagu ini, ia untuk pertama kalinya bernyanyi menggunakan bahasa Indonesia sekaligus berkolaborasi secara langsung dengan sebuah band.
Lirik Museum Duka - for Revenge, YB, Tepe
Di tengah riuh
Di sela gegap gempita yang beradu
dan ingar bingar yang tak lekas meredup
Terulang lagi
Kudengar lagi
Nama yang kuyakini menunggu
Meski tak kan terjawab
Kalimat yang belum lengkap
Ini terlalu cepat
Aku tak pernah siap
Jika tak bisa mati
Tetap duka yang akan kupilih
Jika hidup tersangkal mati
Rumah mana yang harus kutempati lagi
Katanya waktu kan menyembuhkan
dan tak ada yang sukar di luar batasan
Ini terlalu cepat
Aku tak kan pernah siap
Jika tak bisa mati
Tetap duka yang akan kupilih
Jika hidup tersangkal mati
Rumah mana yang harus kutempati
Jika tak bisa
Mungkin tak bisa
Kan kujalani dengan jiwa
yang mati
Bergegas ku kembali
Pusara yang kau huni
Jika tak bisa mati
Tetap duka yang akan kupilih
Jika hidup tersangkal mati
Rumah mana yang harus kupilih nanti
(far)