Flashpacker, Glampacker, Luxpacker dan 100 Destinasi Digital di Indonesia

Thomas KukuhThomas Kukuh - Jumat, 23 Maret 2018
Flashpacker, Glampacker, Luxpacker dan 100 Destinasi Digital di Indonesia

Ilustrasi: Taman laut Bunaken memiliki biodiversitas kelautan salah satu yang tertinggi di dunia. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya membuka sekaligus menjadi keynote speech pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) I Tahun 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kamis malam ( 22/3). Rakornas bertema ini ‘Digital Destination & Nomadic Tourism’ dan diadakan selama dua hari dari tanggal 22 sampai 23 Maret 2018.

Rakornas ini, diharapkan bisa menghasilkan sejumlah keputusan strategis diantaranya komitmen pemerintah daerah dalam mengembangkan destinasi digital dengan target 100 pasar digital di 34 provinsi dengan dukungan regulasi terhadap pengembangan 10 nomadic tourism (glamp camp, home pod, dan caravan) serta dukungan regulasi aksesibilitas untuk sea plane.

Menpar Arief Yahya menegaskan, digital destination dan nomadic tourism sebagai strategi untuk merebut wisatawan mancanegara (wisman), dimana tahun ini mentargetkan 17 juta wisman dan akan meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2019.

Menpar menjelaskan, bahwa destinasi digital adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di media sosial, dan nge-hits di instagram. Generasi milenial atau lebih populer kids zaman now sering menyebut diferensiasi produk destinasi baru ini dengan istilah instagramable. "Saya ingin tahun 2018 ini ada 100 Destinasi Digital di 34 provinsi di Tanah Air,” kata Arief Yahya.

Ilustrasi: Taman laut Bunaken memiliki biodiversitas kelautan salah satu yang tertinggi di dunia. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Menpar Arief Yahya juga mengatakan, digital destination menjadi tuntutan di era digital. Dimana generasi milenial atau kids zaman Now adalah sebagai konsumen yang paling haus akan pengalaman (experience) dibanding generasi-generasi sebelumnya.

Hasil survei di seluruh dunia (Everbrite-Harris Poll, 2014) membuktikan bahwa milenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman (experience) ketimbang barang (material goods).

Selain itu, Rakornas juga fokus membahas nomadic aksesibilitas dan nomadic amenitas berikut atraksinya yang dapat mendorong para pelaku industri pariwisata mau mengembangkan bisnis ini, terutama untuk amenitas dan aksesibilitasnya.

Borobudur
Ilustrasi: Keindahan panorama saat matahari terbit di Candi Borobudur. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Menurut Menpar, nomadic tourism sebagai solusi dalam mengatasi keterbasan unsur 3 A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas) khususnya untuk sarana amenitas atau akomodasi yang sifatnya bisa dipindah-pindah dan bentuknya bermacam-macam glamp camp, home pod, dan caravan.

Sedangkan, sebagai aksesibilitasnya adalah sea plane dengan mudah membawa wisatawan dari pulau ke pulau, di Indonesia jumlah pulau mencapai 17 ribu lebih. “Nomadic tourism, untuk sementara akan difokuskan pada 10 destinasi prioritas atau ‘Bali Baru’, dengan memanfaatkan empat destinasi sebagai pilot project. Yakni, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur,” ujar Menpar.

Nomadic Tourism, menurut Arief Yahya, memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena treatmet-nya juga relatif mudah. Sehingga idealnya para pelaku industri pariwisata mau mengembangkan bisnis ini, terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya. Karena, konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial.

mentawai
Ilustrasi: Wisatawan asing berselancar di laut Siberut Barat Daya, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Seperti diketahui di era zaman now jumlah backpacker di seluruh dunia mencapai 39,7 juta orang yang terbagi dalam 3 kelompok besar. Yakni flashpacker, glampacker dan luxpacker.

Flashpacker atau digital nomad memiliki potensi sekitar 5 juta orang. Dimana mereka adalah orang yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja. Sedangkan glampacker atau milenial nomad mencapai 27 juta orang dengan mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable. Nah, untuk luxpacker atau luxurious nomad sebanyak 7,7 juta. Mereka adalah orang-orang yang lebih suka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia.

Rakornas Kemenpar I, di tahun 2018 diikuti 532 peserta terdiri atas pejabat di lingkungan Kemenpar, tim ViWI 2018, bupati dan wali kota, dinas pariwisata, asosiasi, co-branding, kementerian dan lembaga, serta GenPi dan Juragan Pasar. (mkf)

#Wisata #Pariwisata Indonesia #Kementerian Pariwisata
Bagikan
Ditulis Oleh

Thomas Kukuh

Berita Terkait

Travel
Resorts World Genting Jalin Kemitraan Kemitraan Strategis dengan Stakeholder Pariwisata, Bersiap Kenalkan Eufloria
Resorts World Genting melakukan penguatan kehadirannya di pasar Indonesia melalui penandatanganan kerja sama strategis.
Dwi Astarini - Rabu, 28 Januari 2026
Resorts World Genting Jalin Kemitraan Kemitraan Strategis dengan Stakeholder Pariwisata, Bersiap Kenalkan Eufloria
Indonesia
Whoosh Jadi Incaran Turis Asing, Hampir 300 Ribu WNA Malaysia Datang Cuma Buat Naik
Jumlah penumpang Whoosh WNA mencapai 401.282 orang, naik 60 persen dibandingkan tahun 2024 sebanyak 251.525 penumpang.
Wisnu Cipto - Senin, 26 Januari 2026
Whoosh Jadi Incaran Turis Asing, Hampir 300 Ribu WNA Malaysia Datang Cuma Buat Naik
Indonesia
Indonesia Kalah Saing dengan Negara Tetangga dalam Urusan Pariwisata, DPR 'Semprot' Pemerintah
Guna mengembalikan kepercayaan dunia, Bambang mendesak pemerintah segera membentuk polisi pariwisata khusus seperti yang telah sukses diterapkan di Malaysia dan Filipina
Angga Yudha Pratama - Rabu, 21 Januari 2026
Indonesia Kalah Saing dengan Negara Tetangga dalam Urusan Pariwisata, DPR 'Semprot' Pemerintah
Indonesia
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Ancol kini menggelar promo tiket masuk seharga Rp 35 ribu. Nantinya, pengunjung mendapatkan voucher makan senilai Rp 20 ribu.
Soffi Amira - Kamis, 15 Januari 2026
Promo Ancol 2026: Tiket Masuk Rp 35 Ribu, Gratis Voucher Makan Rp 20 Ribu
Indonesia
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Larangan pergerakan kapal pada malam hari di wilayah perairan Taman Nasional (TN) Komodo.
Wisnu Cipto - Jumat, 09 Januari 2026
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Indonesia
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Menjadi representasi transformasi layanan kereta api dari sekadar moda transportasi menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Januari 2026
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Indonesia
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Aktivitas perjalanan di Cirebon selama Nataru mencerminkan tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat sekaligus meningkatnya minat perjalanan wisata berbasis kereta api.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Indonesia
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Perjalanan dengan kereta api kini dimaknai sebagai momen menikmati waktu, suasana, dan keindahan alam di sepanjang jalur rel.
Dwi Astarini - Jumat, 02 Januari 2026
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Foto Essay
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Suasana warga piknik bersama keluarga menikmati matahari terbenam di Pantai Pattaya, Chonburi, Thailand, Sabtu (20/12/2025).
Didik Setiawan - Sabtu, 27 Desember 2025
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Indonesia
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Untuk itu, ia mendesak Pemprov DKI agar lebih masif dalam menyebarkan informasi pembukaan ini melalui berbagai kanal resmi pemerintah
Angga Yudha Pratama - Jumat, 26 Desember 2025
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
Bagikan