Ekonom Prediksi USD Bisa Tembus Rp 18.000, Yield Obligasi AS Jadi Pemicu Utama

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Senin, 18 Mei 2026
Ekonom Prediksi USD Bisa Tembus Rp 18.000, Yield Obligasi AS Jadi Pemicu Utama

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.529 per Dolar AS, Level Terendah Sepanjang Masa

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Ekonom dan analis pasar modal Ferry Latuhihin memprediksi tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Bahkan, ia memperkirakan kurs rupiah berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.

Menurut Ferry, salah satu faktor utama yang menekan rupiah saat ini adalah kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau US Treasury 10 tahun.

“Sekarang tekanan terhadap rupiah bertambah. Yield US 10-Treasury sudah di 4,6 persen dan bisa naik ke 4,9 persen,” kata Ferry kepada wartawan di Jakarta, Senin (18/5).

Kenaikan yield obligasi AS biasanya mendorong investor global memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Baca juga:

Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai

Selain faktor eksternal tersebut, Ferry menilai lonjakan harga minyak dunia turut mempersempit ruang penguatan rupiah.

“Harga minyak yang terus merangkak naik juga tidak memberikan ruang bagi rupiah untuk bertahan walaupun BI mati-matian intervensi,” ujarnya.

Dengan kombinasi tekanan dari yield obligasi AS dan kenaikan harga minyak, Ferry memperkirakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah bisa menyentuh level psikologis baru dalam waktu dekat.

“Minggu ini naga-naganya dolar bisa ke Rp 18.000,” katanya.

Baca juga:

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.529 per Dolar AS, Level Terendah Sepanjang Masa

Ferry juga menyoroti sentimen investor asal China terhadap iklim investasi di Indonesia. Menurut dia, sejumlah pelaku usaha China mulai menyampaikan keberatan terhadap beberapa kebijakan pemerintah, termasuk kenaikan pajak dan royalti.

Ia menilai apabila sentimen negatif investor terus berlanjut, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar.

“Kekuatan lain yang bisa menghancurkan rupiah adalah China yang sangat kecewa,” ucapnya.

Ferry menekankan stabilitas rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga persepsi investor terhadap kepastian dan kenyamanan berinvestasi di Indonesia.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu menjaga kebijakan yang mampu mempertahankan kepercayaan pasar serta mendorong arus modal masuk ke dalam negeri. (Pon)

#Ekonomi #Inflasi #Dolar AS #Kurs Rupiah
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Bakom Tegaskan tak Ada Niat Menempatkan BI di Bawah Pemerintah
Independensi tidak boleh mengorbankan koordinasi antarlembaga.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Bakom Tegaskan tak Ada Niat Menempatkan BI di Bawah Pemerintah
Indonesia
Alasan Kurs Rupiah Jalan di Tempat Pagi Ini Versi Ekonom
Geliat rupiah sepanjang hari ini bakal sangat dipengaruhi oleh rilis Neraca Pembayaran Indonesia
Angga Yudha Pratama - Jumat, 21 Agustus 2026
Alasan Kurs Rupiah Jalan di Tempat Pagi Ini Versi Ekonom
Indonesia
Rupiah Tahan Napas di Rp17.748 per Dolar AS, IHSG Malah Asyik Unjuk Gigi Pagi Ini
Di lantai bursa uang, nilai tukar rupiah terpantau adem ayem tanpa pergeseran angka signifikan
Angga Yudha Pratama - Jumat, 21 Agustus 2026
Rupiah Tahan Napas di Rp17.748 per Dolar AS, IHSG Malah Asyik Unjuk Gigi Pagi Ini
Indonesia
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba
BI merupakan bank sentral yang wewenangnya bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba
Indonesia
Rupiah Ngamuk Pagi Ini Berbarengan dengan Meroketnya IHSG, Dolar AS Kehilangan Taji
Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak seirama menuju tren positif
Angga Yudha Pratama - Kamis, 20 Agustus 2026
Rupiah Ngamuk Pagi Ini Berbarengan dengan Meroketnya IHSG, Dolar AS Kehilangan Taji
Indonesia
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
BI melaporkan ULN Indonesia triwulan II-2026 naik 4,4% yoy menjadi USD 453,4 miliar dengan rasio ULN terhadap PDB 30,6%.
Wisnu Cipto - Selasa, 18 Agustus 2026
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
Lifestyle
6 Jurusan Kuliah dengan Lulusan Paling Banyak Menganggur, Manajemen Teratas
BPS mencatat 1,03 juta pengangguran terdidik per Mei 2026. Simak 6 jurusan kuliah dengan lulusan paling banyak menganggur dan penyebabnya.
ImanK - Senin, 17 Agustus 2026
6 Jurusan Kuliah dengan Lulusan Paling Banyak Menganggur, Manajemen Teratas
Indonesia
RAPBN 2027: Pemerintah Patok Harga Minyak USD 75 per Barel, Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari
Pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah Indonesia USD75 per barel dalam RAPBN 2027. Lifting minyak ditargetkan 610 ribu barel per hari.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 14 Agustus 2026
RAPBN 2027: Pemerintah Patok Harga Minyak USD 75 per Barel, Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari
Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi dalam 13 Tahun, Mengapa Prabowo Patok Target Luar Biasa di 2027?
Sepanjang semester I 2026, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,45 persen (yoy)
Angga Yudha Pratama - Jumat, 14 Agustus 2026
Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi dalam 13 Tahun, Mengapa Prabowo Patok Target Luar Biasa di 2027?
Indonesia
Prabowo Ungkap Ekonomi Indonesia Tetap Berdiri Tegak, Pertumbuhan Semester I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun
Prabowo menyebut ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh pada level tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Pendapatan negara hingga Juli tumbuh 21,3%.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 14 Agustus 2026
Prabowo Ungkap Ekonomi Indonesia Tetap Berdiri Tegak, Pertumbuhan Semester I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun
Bagikan