MerahPutih.com - Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, penguatan pertahanan menjadi salah satu aspek yang disorot melalui pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Penambahan alutsista Indonesia mencakup kapal perang, jet tempur, pesawat angkut, helikopter, hingga kendaraan tempur amfibi. Pengadaan tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan pertahanan di wilayah darat, laut, dan udara, sekaligus memperkuat kemampuan TNI dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Sebagai negara kepulauan dengan wilayah luas, Indonesia membutuhkan kemampuan pertahanan yang dapat menjangkau berbagai daerah. Presiden Prabowo menegaskan, kekuatan TNI tidak hanya diperlukan untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi bencana dan berbagai kesulitan.
TNI adalah alat negara yang sangat besar peranannya dalam menghadapi bencana, menghadapi kesulitan, menghadapi masalah-masalah kepentingan masyarakat. Jadi saya kira ini akan menambah kemampuan kita. Wilayah kita sangat besar, sebesar Eropa, kemudian sekian belas ribu pulau. Udara bagi kita sangat-sangat menentukan,
Presiden RI, Prabowo Subianto.
Prabowo juga menekankan pentingnya membangun TNI yang lebih efektif, tidak hanya dalam menjaga wilayah negara, tetapi juga dalam mendukung pembangunan nasional.
"Dan yang sangat penting, semua TNI sekarang kita bangun untuk menjadi lebih efektif, tidak hanya menjaga wilayah, tapi juga mengamankan dan mendukung pembangunan nasional," katanya.
Dalam konteks dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pengadaan alutsista menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pertahanan nasional. Berikut sejumlah alutsista yang tercatat dalam penguatan kemampuan TNI.
Baca juga:
TNI AL Diperkuat Fregat Italia dan Kapal Perang Baru

Penguatan pertahanan maritim dilakukan melalui kehadiran sejumlah kapal perang baru. Dua fregat buatan Italia, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, menjadi bagian dari penguatan armada TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Kedua kapal produksi Fincantieri tersebut diserahkan secara bertahap dan kini memperkuat Komando Armada II (Koarmada II) di Surabaya untuk mendukung pengamanan wilayah laut Indonesia.
Selain fregat, TNI AL menerima Kapal Cepat Rudal (KCR) bernama KRI Belati. Kapal multifungsi yang diproduksi di dalam negeri itu dapat digunakan untuk patroli maupun sebagai kapal kombatan.
Indonesia juga menerima KRI Sriwijaya-100, kapal eks Angkatan Laut Italia yang diperoleh melalui hibah dan secara resmi diterima pada 24 September 2026.
Kapal sepanjang 180,2 meter tersebut memiliki dek penerbangan yang dapat menampung sejumlah helikopter dan pesawat nirawak. Kecepatannya disebut mencapai sekitar 30 knot.
Kehadiran berbagai kapal tersebut menjadi bagian dari penguatan kemampuan operasional TNI AL dalam menjaga wilayah perairan Indonesia.
Rafale dan A400M Menambah Kapasitas TNI AU
Di matra udara, TNI Angkatan Udara (TNI AU) menerima dua pesawat angkut Airbus A400M Atlas dalam dua tahap, yakni November 2025 dan Maret 2026.
Pesawat ini mampu mengangkut hingga 116 personel bersenjata lengkap, berbagai kendaraan, serta perlengkapan militer berukuran besar. Kemampuan tersebut juga dapat digunakan untuk menunjang operasi kemanusiaan.
A400M telah dikerahkan untuk mendukung pengiriman logistik bagi korban gempa di Sumatra dan Aceh. Pemanfaatan pesawat angkut untuk misi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan transportasi udara militer juga dapat menunjang distribusi bantuan dalam situasi darurat.
Sementara itu, jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation, Prancis, mulai tiba di Indonesia pada 2026. Dari total 42 unit yang dipesan, enam pesawat dilaporkan telah berada di Indonesia dan ditempatkan di Skadron Udara 12, Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
Rafale memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8 dan mampu membawa persenjataan hingga 9.500 kilogram. Kehadirannya diharapkan meningkatkan kesiapan TNI AU dalam menjaga ruang udara nasional.
Selain Rafale dan A400M, Indonesia menerima empat unit Dassault Falcon 8X. Jet berkapasitas 13–16 penumpang ini memiliki jangkauan terbang hingga 11.945 kilometer untuk menunjang kebutuhan mobilitas udara jarak jauh.
Penguatan armada udara juga mencakup pengadaan delapan unit helikopter H225M Caracal dan dua unit helikopter H225T VVIP. Kedua tipe helikopter tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan angkut taktis militer.
Helikopter Mi-35M Disiapkan untuk Mendukung Logistik di Papua
Penguatan alutsista juga mencakup TNI Angkatan Darat (TNI AD). Dua helikopter Mi-35M buatan Rusia diterima pada pertengahan 2026 dan mulai beroperasi di Pusat Penerbangan Angkatan Darat, Semarang, pada awal September.
Meski memiliki kemampuan tempur, helikopter tersebut direncanakan lebih banyak mendukung pengiriman logistik di wilayah Papua. Tantangan geografis di wilayah itu membuat kemampuan angkut udara menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung kegiatan operasional.
Penggunaan helikopter untuk kebutuhan logistik juga sejalan dengan peran TNI yang tidak hanya berkaitan dengan pertahanan, tetapi turut mencakup dukungan kepada masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.
Baca juga:
2 Tahun Prabowo-Gibran, Pengamat Pertanyakan Dampak Kebijakan ke Rakyat
Marinir Terima 12 Kendaraan Tempur Amfibi
Di lingkungan Korps Marinir TNI AL, sebanyak 12 kendaraan tempur amfibi AAV-M35 buatan Amerika Serikat diterima pada September 2026.
Kendaraan tersebut dapat membawa hingga 24 personel dan bergerak di darat maupun air. AAV-M35 menggunakan mesin berkekuatan 525 horsepower, dengan kecepatan maksimum 75 kilometer per jam di darat dan 15 kilometer per jam di air.
Untuk mendukung operasi tempur, kendaraan ini dilengkapi senapan mesin kaliber 12,7 milimeter serta pelontar granat otomatis kaliber 40 milimeter.
Kendaraan amfibi tersebut menambah jenis kemampuan operasional yang dibutuhkan Marinir untuk menjalankan tugas di lingkungan darat dan perairan.
Penguatan Pertahanan dalam Dua Tahun Pemerintahan
Berbagai alutsista tersebut memperlihatkan cakupan penguatan kemampuan TNI di tiga matra, mulai dari armada laut, pesawat tempur dan angkut, helikopter, hingga kendaraan tempur amfibi.
Dalam konteks dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pengadaan alutsista menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kapasitas pertahanan Indonesia. Namun, dampak penguatan tersebut juga bergantung pada kesiapan operasional, pemeliharaan, personel, serta pemanfaatan setiap alutsista sesuai kebutuhan.
Sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo, pembangunan kekuatan TNI diarahkan agar lebih efektif dalam menjaga kedaulatan sekaligus mendukung pembangunan nasional. (Asp)