DPR Minta Pemerintah Jangan Takut Terhadap Tiongkok Hanya Karena Utang

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Senin, 13 Januari 2020
DPR Minta Pemerintah Jangan Takut Terhadap Tiongkok Hanya Karena Utang

Pergerakan Kapal Perang Republik (KRI) dengan kapal Coast Guard Tiongkok.(ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad meminta pemerintah tegas terkait polemik di Natuna dengan Tiongkok dan aktif melakukan diplomasi ataupun menyiapkan strategi khusus.

"Kelihatannya sedang dipersiapkan oleh Menteri KKP dalam rangka mengatasi masalah itu," kata Dasco kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (13/1).

Dia meminta persoalan utang tidak menjadi alasan. "Saya pikir (utang) bukan menjadi suatu alasan pemerintah tetap menegakkan kedaulatan di wilayah kita dan tidak takut hanya karena utang kalau perlu kita tidak usah utang kepada Tiongkok," jelas dia.

Baca Juga:

Kapal Tiongkok Keluar ZEE Indonesia Usai Jokowi ke Natuna

Disinggung perlu atau tidaknya pemerintah memanggil Dubes Indonesia untuk Tiongkok, Dasco mengatakan akan menyampaikan hal itu dalam rapat koordinasi. "Saya pikir itu kita akan sampaikan dalam rapat koordinasi dengan pemerintah yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat antara DPR dan pemerintah," katanya.

Ia mengatakan perlu dicari solusi tegas, karena kapal Tiongkok masih ada di Natuna. Sehingga kapal asing tidak masuk ke perairan Natuna. “Saya pikir perlu dibicarakan solusi dan alternatif jangka panjang. Pemerintah perlu memikirkan langkah yang lebih tegas,” ujar Dasco.

Armada perang Angkatan Laut Indonesia
Masuknya kapal asing ke wilayah perairan Indonesia menunjukkan perlunya pangkalan militer di kawasan Natuna Utara (Foto: Antaranews)

Dasco menilai kapal Tiongkok yang masih mondar-mandir di Natuna harus segera diusir, karena itu pemerintah harus lebih tegas lagi. Hal itu supaya kapal tersebut tidak masuk ke Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI). “Pemerintah perlu memikirkan langkah lebih tegas dalam tindakan diplomasi maupun strategi khusus,” katanya.

Tidak menutup kemungkinan opsi penarikan duta besar Indonesia di Tiongkok akan dilakukan. “Saya pikir itu akan kita sampaikan (penarikan duta besar) dalam rapat koordinasi dengan pemerintah,” ungkapnya.

‎Sebelumnya, konflik antara Indonesia dengan Tiongkok kembali terjadi di Perairan Natuna yang berbatasan dengan Laut Tiongkok Selatan. Sejumlah kapal penangkap ikan asal Tiongkok yang didampingi kapal Coast Guard negaranya masih berkegiatan di perairan yang masih masuk dalam teritori Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) milik Indonesia.

Baca Juga:

Polemik Natuna, Indonesia Tidak Akan Bernegosiasi dengan Tiongkok

Pemerintah Indonesia juga melakukan sejumlah upaya agar kapal-kapal Tiongkok yang tengah mencari ikan ini meninggalkan perairan Indonesia. Namun, hingga kini belum cukup menunjukkan hasil yang signifikan.

Bahkan, pada Rabu (8/1) lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah berkunjung ke Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Dia menegaskan, wilayah Kepulauan Natuna merupakan teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tetapi, pasca-kunjungan Presiden Joko Widodo keberadaan kapal ikan asing (KIA) di perairan tersebut masih ada. (Knu)

#Perairan Natuna
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Tekan Harga Bahan Pokok, Pemerintah Perpanjang Rute Tol Laut Dari Jakarta ke Natuna
Natuna menerima empat unit refrigerated container atau kontainer pendingin untuk pengiriman barang dari Tanjung Priok ke Natuna.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 November 2025
Tekan Harga Bahan Pokok, Pemerintah Perpanjang Rute Tol Laut Dari Jakarta ke Natuna
Indonesia
8 Kapal Ikan Asal Vietnam ‘Tertangkap Basah’ Masuk Indonesia secara Ilegal
Penindakan terhadap kapan ilegal asing ke wilayah Indonesia terus berlangsung.
Ikhsan Aryo Digdo - Rabu, 04 Desember 2024
8 Kapal Ikan Asal Vietnam ‘Tertangkap Basah’ Masuk Indonesia secara Ilegal
Indonesia
Bakamla Tepis Isu Kapal Penjaga Pantai China Kembali Terobos Natuna Utara
Irvansyah memastikan kapal-kapal Bakamla secara bergantian terus berpatroli di Laut Natuna Utara setiap harinya.
Wisnu Cipto - Senin, 18 November 2024
Bakamla Tepis Isu Kapal Penjaga Pantai China Kembali Terobos Natuna Utara
Bagikan