Merahputih.com - Kecelakaan kereta api Stasiun Bekasi Timur antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin malam mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan memicu desakan evaluasi total sistem perkeretaapian nasional.
Anggota Komisi V DPR RI, Abdul Hadi, menyoroti kegagalan sistem keselamatan yang seharusnya mampu mencegah tabrakan beruntun di jalur sibuk.
Kegagalan Sistem Persinyalan dan Proteksi
Abdul Hadi menegaskan bahwa insiden tragis ini merupakan sinyal adanya persoalan sistemik yang sangat serius. Ia meminta Kementerian Perhubungan serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membuka fakta secara transparan mengenai kronologi kejadian.
Baca juga:
Jasa Raharja Terbitkan Jaminan untuk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
Rangkaian peristiwa bermula saat sebuah taksi menemper KRL, yang menyebabkan rangkaian kereta berhenti di tengah jalur sebelum akhirnya tertabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek dari belakang.
“Rantai kejadian ini harus dibuka secara terang. Fakta bahwa ada KRL yang tertahan seharusnya dapat terdeteksi dalam sistem. Persinyalan mestinya memberikan peringatan jelas kepada kereta di belakang bahwa jalur belum aman,” ujar Abdul Hadi dalam keterangannya, Selasa (28/4).
Ia menambahkan bahwa teknologi seperti Automatic Train Protection (ATP) harus segera diimplementasikan secara merata.
Teknologi tersebut memastikan kereta berhenti secara otomatis ketika mendeteksi potensi bahaya atau pelanggaran sinyal, sehingga tidak hanya bergantung pada faktor manusia semata.
Bahaya Perlintasan Sebidang yang Mengancam Nyawa
Selain masalah teknis di jalur rel, ia juga menyoroti lemahnya pengamanan di perlintasan sebidang. Masuknya kendaraan ke jalur rel hingga memicu berhentinya KRL menunjukkan bahwa infrastruktur pengamanan masih sangat rapuh.
Baca juga:
Jasa Raharja Terbitkan Jaminan untuk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
Abdul Hadi mendorong pemerintah mempercepat pembangunan flyover dan underpass di titik-titik padat guna memutus kontak langsung antara kendaraan jalan raya dengan jalur kereta api.
“Ini bukan sekadar kecelakaan, tetapi sinyal adanya potensi persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. Keselamatan transportasi publik harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Hadi juga mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak lengah meskipun evaluasi transportasi mudik sebelumnya menunjukkan hasil positif. Tragedi di Bekasi Timur ini menjadi catatan kelam yang menuntut perbaikan segera dari sisi infrastruktur, pengawasan, hingga penegakan hukum bagi pelanggar perlintasan.