Merahputih.com - Kondisi nilai tukar rupiah pada Kamis (23/4) terhadap dolar AS mengalami tekanan hebat akibat gejolak ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pergerakan mata uang Indonesia yang terus merosot memicu perhatian serius dari pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Penyebab Rupiah Tertekan Geopolitik Global
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa faktor eksternal menjadi pemicu utama fluktuasi mata uang nasional.
Baca juga:
Pada perdagangan pagi ini, rupiah merosot hingga 108 poin atau setara 0,63 persen ke level Rp17.289 per dolar AS, menjauh dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.181.
“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” tegas Airlangga Hartarto, Kamis (23/4).
Pemerintah saat ini terus meninjau perkembangan pasar mengingat angka tersebut sudah melampaui asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2026 yang dipatok pada angka Rp16.500 per dolar AS.
Airlangga menekankan bahwa pemerintah tidak akan mengambil langkah reaktif setiap hari, melainkan menyerahkan mandat pengawasan stabilitas kepada Bank Indonesia (BI).
Langkah Bank Indonesia Redam Volatilitas
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kenaikan harga energi dunia. Situasi ini mendorong investor mengalihkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap sebagai aset safe haven.
Baca juga:
Ketidakpastian Perang di Timur Tengah Masih Akan Bikin Rupiah Bergejolak
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. Selain itu, BI mengambil langkah taktis dengan menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi. Kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing serta memperkuat fondasi nilai tukar.