Demi Tujuh Gunungan Grebeg Maulud, Ribuan Warga Rela Berdesakan
Penutupan Perayaan Pasar Malam Sekaten (Foto: MErahPutih/Fredy Wansyah)
MerahPutih Budaya - Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) telah ditutup. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, penutupan PMPS selalu diikuti Grebeg Maulud sebagai prosesi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Grebeg Maulud pun diadakan di kawasan Masjid Gedhe Kauman. Kamis (24/12) pagi, ribuan warga telah memadati kawasan ini. Tanah lapang yang disebut Alun-Alun yang berada persis di depan masjid mulai dipadati warga.
Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Kawasan Alun-Alun dan Masjid Gedhe semakin padat manusia. Mereka tak hanya warga Yogyakarta, melainkan juga luar Yogyakarta. Bahkan, tak jarang wisatawan asing terlihat di antara lautan manusia itu. Meski wisatawan asing, mereka tampak antusias mengikuti prosesi Gerebeg Maulud.
Area parkir semakin padat. Jalanan menuju Alun-alun semakin padat. Panasnya matahari dan suasana desak-desakan tak menghentikan keinginan warga yang ingin menyaksikan dari dekat iring-iringan gunungan. Beberapa di antara mereka rela berdiri berdesak di sisi jalur yang akan digunakan untuk iring-iringan gunungan serta pasukan prajurit kraton atau dikenal dengan sebutan Bregodo.
Waktu telah memasuki pukul 09.30 WIB. Tanda-tanda gunungan akan muncul semakin dekat. Tak berbeda dari biasanya, Grebeg Maulud kali ini menyuguhkan tujuh gunungan. Umumnya, gunungan tersebut merupakan hasil pertanian, seperti buah-buahan, dan panganan ala masyarakat Yogyakarta.
Ketujuh gunungan tersebut ialah 3 gunungan lanang, 1 gunungan pawuhan, 1 gunungan wadon, 1 gunungan dharat, dan 1 gunungan gepak. Seluruhnya disediakan Kraton Yogyakarta
Sekira pukul 10.00 WIB, gunungan mulai diarak. Pemandu upara mengiringi perjalanan gunungan serta menginstruksikan para pengiring gunungan. Pemandu sesekali menjelaskan para pengiring gunungan.
Seluruh gunungan dipanggul para abdi dalem kraton. Mereka diiringi para bregodo. Lantunan musik tradisional mengiringi langkah mereka.
Tiga dari tujuh gunungan diarak dan dibawa ke Masjid Gede Kauman, Puro Pakualaman, dan komplek Kepatihan. Ribuan warga tetap setia di sisi jalur arak-arakan meski suasana tampak sesak dan padat. Mereka menyaksikan hingga arak-arakan sampai tujuan. Bahkan, warga pun berebut mencari tempat di mana gunungan akan dibagi-bagikan.
Sesaat tiba di masjid, gunungan di persiapkan untuk diberi doa. Tak lupa, seluruh warga yang hadir ikut memanjatkan doa. Prosesi doa dipandu tokoh agama Islam di Yogyakarta. Suasana mulai agak hening.
Usai doa, suasana kembali riuh. Para penjaga gunungan mulai membagi-bagikan gunungan. Warga pun berebut. Ada yang dapat dengan mudahnya buah-buahan dari gunungan, ada pula yang bersusah payah. Ada yang relah dihimpit demi seoonggok makanan dari gunungan, ada pula yang dengan tenang justru mendapatkan makanan yang terlempar.
"Dari dulu kita tahu, makanan gunungan kayak gini ada berkahnya. Aku seneng, kami sama-sama dapat berkah dari hasil bumi," kata salah seorang warga yang mendapatkan hasil gunungan kepada merahputih.com usai prosesi bagi-bagi gunungan. (fre)
BACA JUGA:
Bagikan
Berita Terkait
Fanny Soegi Hadirkan “Jogja Lantai 2”, Liriknya Memotret Sisi Sunyi Yogyakarta
Sambut Long Weekend Isra Mikraj, KAI Daop 6 Kerahkan 4 KA Tambahan
Tiket KA ke Yogyakarta Paling Banyak Diburu Saat Libur Nataru 2026
Yogyakarta Jadi Tujuan Favorit Wisata Orang Jakarta
Pendaki Hilang di Merapi, 1 Dievakuasi tapi 1 belum Ditemukan
Presiden Prabowo Minta Setiap Kerdatangannya tak lagi Disambut Anak-Anak, Kasihan Lihat Kepanasan dan Ganggu Jam Sekolah
Gunung Merapi Keluarkan 4 Kali Awan Panas Guguran, Masyarakat Diminta Waspada
Daftar Raja Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta yang Dimakamkan di Imogiri
Astana Pajimatan Imogiri, Kompleks Permakaman Raja-Raja Mataram dari Dulu hingga Kini
Mulai 2026, Jemaah Calon Haji Banten dan DIY Berangkat dari Embarkasi Cipondoh dan Yogyakarta