Cuaca Panas Ekstrem Berlanjut di Eropa, Prancis Catat 2.025 Kematian

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 03 Juli 2026
Cuaca Panas Ekstrem Berlanjut di Eropa, Prancis Catat 2.025 Kematian

Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Unsplash/Warren Wong)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — GELOMBANG panas yang menyapu Eropa membawa dampak ribuan kematian. Prancis melaporkan terjadi peningkatan lebih dari 2.000 kematian selama pekan terakhir gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa pada Juni. Prakirawan cuaca memperingatkan suhu ekstrem akan kembali melanda benua tersebut dalam beberapa hari mendatang.

Prancis mengalami hari terpanas sepanjang sejarah secara rata-rata nasional pada 24 Juni, dengan suhu di Paris hampir mencapai 41 derajat celsius. Separuh wilayah negara itu bahkan berada dalam status siaga merah akibat gelombang panas.

Sebagai akibatnya, jumlah kematian di Prancis meningkat 29 persen pada pekan terakhir Juni jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan terjadi peningkatan yang jelas dalam angka kematian, terutama pada kelompok usia di atas 45 tahun.

Laporan mengenai tingginya angka kematian ini muncul ketika sejumlah wilayah di Eropa, termasuk Inggris, bersiap menghadapi suhu yang kembali sangat tinggi mulai akhir pekan ini.

Menurut BBC Weather, area tekanan udara tinggi saat ini berkembang dari Kepulauan Azores menuju Portugal dan Spanyol. Pada akhir pekan, gelombang panas diperkirakan meluas ke Prancis dan wilayah selatan Inggris.


Baca juga:

WHO Peringatkan Gelombang Panas yang Menyapu Eropa Sebabkan 1.300 Kematian


Siaga Level Merah Kebakaran Hutan di Prancis




Suhu panas ekstrem dilaporkan terjadi di berbagai belahan Prancis. Di Prancis bagian selatan, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat celsius, sedangkan wilayah Bordeaux, Toulouse, dan Agen diperkirakan mengalami suhu puncak 36 hingga 37 derajat celsius.

Lembaga meteorologi Prancis, Meteo-France, telah mengeluarkan peringatan siaga merah untuk risiko kebakaran hutan pada Jumat dan Sabtu di wilayah selatan negara itu. Lembaga tersebut memperingatkan kondisi cuaca membuat risiko terjadinya kebakaran sangat tinggi ketimbang kondisi normal pada musim panas.

Pada Kamis (1/7), Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengatakan hampir 7.000 kebakaran telah terjadi sejak awal musim panas, dengan sekitar 8.700 hektare lahan telah terbakar. Hampir 3.000 orang terpaksa dievakuasi setelah kebakaran hutan terjadi di Kota Sainte-Marie-la-Mer dan menyebar ke Canet-en-Roussillon pada Kamis


Baca juga:

Gelombang Panas Menyengat Paris, Rumah Duka Overload


Jumlah Kematian Melonjak




Tak hanya kebakaran hutan, gelombang panas juga meninggalkan korban jiwa yang masif. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis, pada Jumat (2/7) mengumumkan jumlah kematian yang tercatat pada 22 hingga 28 Juni meningkat sebanyak 2.025 kasus, atau hampir 30 persen. Di wilayah Paris saja, angka kematian melonjak hingga 62 persen.

Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan angka tersebut mungkin masih merupakan perkiraan yang lebih rendah daripada kondisi sebenarnya sehingga jumlah korban meninggal diperkirakan akan lebih tinggi setelah seluruh data terkumpul.

Jumlah korban tewas akibat tenggelam juga meningkat tajam selama gelombang panas. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan pada Sabtu pekan lalu bahwa sebanyak 72 orang meninggal karena tenggelam sejak 18 Juni.


Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas di Eropa




Perubahan iklim terus mendorong kenaikan suhu di seluruh dunia, terutama di Eropa. Menurut layanan iklim Copernicus, Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat dengan laju pemanasan dua kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata global.

Kondisi tersebut memicu gelombang panas musim panas yang semakin sering terjadi, meningkatkan tekanan terhadap pasokan air di Eropa, serta memperparah kebakaran hutan.(dwi)

Baca juga:

Gelombang Panas Tewaskan Ribuan Orang, Nasib Keselamatan WNI di Eropa Jangan Sampai Luput

#Prancis #Gelombang Panas #Cuaca Ekstrem
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 21-24 Agustus 2026: Kota-Kota Ini Diprediksi Diguyur Hujan Lebat Hingga Diterjang Angin Kencang
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan intensitas hujan sedang hingga lebat
Angga Yudha Pratama - Kamis, 20 Agustus 2026
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 21-24 Agustus 2026: Kota-Kota Ini Diprediksi Diguyur Hujan Lebat Hingga Diterjang Angin Kencang
Dunia
Permukaan Air telah Capai Rekor Terendah, Kerangka Manusia Bermunculan di Waduk AS
Kekeringan yang sedang berlangsung menyebabkan permukaan air di sejumlah wilayah barat AS terus menyusut.
Dwi Astarini - Kamis, 20 Agustus 2026
Permukaan Air telah Capai Rekor Terendah, Kerangka Manusia Bermunculan di Waduk AS
Dunia
Ilmuwan Iklim Ingatkan Bahaya El Nino, Suhu Global Naik Sebabkan Kekeringan
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi iklim global selama periode Agustus-Oktober.
Dwi Astarini - Kamis, 20 Agustus 2026
Ilmuwan Iklim Ingatkan Bahaya El Nino, Suhu Global Naik Sebabkan Kekeringan
Indonesia
BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem 10 Agustus 2026, Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai
BMKG memperingatkan cuaca ekstrem pada 10 Agustus 2026. Hujan lebat hingga angin kencang melanda sebagian wilayah Indonesia.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem 10 Agustus 2026, Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai
Indonesia
Waspada! Puncak Kemarau 2026 Terjadi pada Agustus hingga September, Hotspot Bisa Makin Meningkat
Meskipun kondisi kemarau 2026 diperkirakan tidak sekering El Nino 1997, pemerintah tetap perlu mewaspadai dampak lanjutan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 04 Agustus 2026
Waspada! Puncak Kemarau 2026 Terjadi pada Agustus hingga September, Hotspot Bisa Makin Meningkat
Indonesia
Prakiraan Cuaca Indonesia 4-7 Agustus 2026, Kota-Kota Ini Berpotensi Diterpa Angin Kencang dan Hujan Sedang
Meski sebagian besar daerah mulai memasuki kondisi kering, dinamika atmosfer memicu peningkatan curah hujan dan terpaan angin kencang
Angga Yudha Pratama - Selasa, 04 Agustus 2026
Prakiraan Cuaca Indonesia 4-7 Agustus 2026, Kota-Kota Ini Berpotensi Diterpa Angin Kencang dan Hujan Sedang
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG 3 Agustus: Jakarta Selatan, Timur, dan Barat Diguyur Hujan Sore Ini
Pergerakan cuaca di Jakarta hari ini terbilang cukup dinamis
Angga Yudha Pratama - Senin, 03 Agustus 2026
Prakiraan Cuaca BMKG 3 Agustus: Jakarta Selatan, Timur, dan Barat Diguyur Hujan Sore Ini
Indonesia
Prakiraan Cuaca 31 Juli-3 Agustus: Daftar Wilayah Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang
Meskipun sebagian besar wilayah Indoensia sudah memasuki kemarau, beberapa daerah tetap perlu mengencangkan sabuk pengaman menghadapi cuaca ekstrem
Angga Yudha Pratama - Jumat, 31 Juli 2026
Prakiraan Cuaca 31 Juli-3 Agustus: Daftar Wilayah Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang
Indonesia
Prakiraan Cuaca Indonesia 28–30 Juli 2026: Kota-Kota Ini Berpotensi Diguyur Hujan Sedang Hingga Angin Kencang
BMKG membagikan beberapa imbauan penting untuk masyarakat
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Prakiraan Cuaca Indonesia 28–30 Juli 2026: Kota-Kota Ini Berpotensi Diguyur Hujan Sedang Hingga Angin Kencang
Dunia
3.800 Orang di Spanyol Meninggal Akibat Gelombang Panas, Rp 205,54 Miliar Disiapkan Buat Fasilitas Perlindungan
Spanyol telah mencatat 32 kebakaran hutan hebat sejak awal 2026 yang menghanguskan sekitar 153 ribu hektar lahan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 28 Juli 2026
3.800 Orang di Spanyol Meninggal Akibat Gelombang Panas, Rp 205,54 Miliar Disiapkan Buat Fasilitas Perlindungan
Bagikan