MERAHPUTIH.COM — LEWAT tengah malam di Pakistan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menulis di X. Ia membagikan bahwa upaya diplomatik terus berkembang secara stabil, kuat, dan penuh tenaga. “Ada potensi hasil yang substansial dalam waktu dekat,” katanya. Berselang beberapa jam kemudian, sekitar pukul 03.00 waktu setempat, Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menulis di X bahwa telah terjadi langkah maju dari tahap yang kritis dan sensitif.
Demikianlah perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung alot, dimediasi Pakistan. Setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan ancaman akan membumihanguskan Iran, diikuti serangan ke Pulau Kharg, Iran bereaksi keras menutup semua jalur diplomasi mereka dengan AS. Namun, pihak Pakistan tak menyerah. Mereka terus berupaya agar kesepakatan gencatan senjata tercapai.
Pada jam-jam sebelum gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan, muncul beberapa tanda kecil harapan dari Pakistan. Sebuah sumber dari Pakistan, dikutip BBC, menyebut pembicaraan terus berlangsung dengan cepat. Pakistan berperan sebagai perantara antara Iran dan Amerika Serikat.
Mereka yang melakukan negosiasi dari pihak Pakistan terdiri dari lingkaran yang sangat kecil. Suasana pembicaraan disebut muram dan serius, tetapi tetap berharap bahwa penghentian permusuhan akan menjadi hasilnya. Masih ada beberapa jam tersisa. Sumber tersebut mengatakan ia bukan bagian dari lingkaran kecil itu.
Baca juga:
Gencatan Senjata Iran-AS: Syarat Israel Tak Sejalan dengan Teheran
Selama beberapa minggu terakhir, Pakistan telah bertindak sebagai perantara antara Iran dan Amerika Serikat dengan menyampaikan pesan di antara kedua pihak. Pakistan memiliki hubungan historis dengan Iran, berbagi perbatasan, dan sering menyebut hubungan mereka sebagai ‘persaudaraan’.
Di lain sisi, mengenai hubungan Pakistan dan Amerika Serikat, Presiden Trump pernah menyebut kepala angkatan bersenjata Pakistan, Field Marshal Asim Munir, sebagai Field Marshal ‘favoritnya’ dan mengatakan bahwa ia mengenal Iran lebih baik daripada kebanyakan orang.
Dalam usaha mencapai kesepakatan gencatan senjata AS dan Iran, PM Sharif tak lupa meminta Presiden Trump untuk memperpanjang tenggat selama dua minggu dan meminta Iran membuka Selat Hormuz untuk periode yang sama.
Namun, kesepakatan itu masih jauh dari pasti. Saat berbicara di parlemen pada Selasa (7/4) malam, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan, hingga Senin, pihaknya sangat optimistis bahwa segala sesuatunya bergerak ke arah yang positif. Namun, optimisme itu berubah setelah Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Senin dan Iran menyerang Arab Saudi.
Meski begitu, ia menyampaikan bahwa Pakistan masih berusaha mengelola situasi semaksimal mungkin.
Field Marshal Munir bahkan menyampaikan kritik yang lebih terbuka. Saat berbicara kepada para pejabat militer pada Selasa, ia mengatakan serangan terhadap Arab Saudi merusak upaya tulus untuk menyelesaikan konflik melalui cara damai. Ini merupakan salah satu bahasa paling keras yang digunakan Pakistan terhadap Iran sejak konflik dimulai.
Akhirnya, kesepakatan tercapai. Sesaat sebelum pukul 05.00, Perdana Menteri Sharif mengumumkan gencatan senjata telah disepakati dan mengundang kedua pihak untuk bertemu di Islamabad pada Jumat (10/4) untuk melanjutkan negosiasi guna mencapai kesepakatan yang final.
“Kami masih sangat berhati-hati,” kata sumber Pakistan, dikutip BBC. Ia menyebut situasi masih sangat rapuh. Hingga kini, belum ada kepercayaan antarkedua pihak, dengan posisi yang sangat mengakar.
Meski Pakistan mungkin akan menjadi tuan rumah pertemuan kedua pihak di meja perundingan, pertanyaannya pentingnya yakni kesepakatan apa yang dapat mereka capai.(dwi)
Baca juga: