Cerita Pakistan Menjadi Penengah AS dan Iran untuk Kesepakatan Gencatan Senjata

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 08 April 2026
Cerita Pakistan Menjadi Penengah AS dan Iran untuk Kesepakatan Gencatan Senjata

Ilustrasi Bendera Iran. (Foto: dok. media sosial Google)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — LEWAT tengah malam di Pakistan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menulis di X. Ia membagikan bahwa upaya diplomatik terus berkembang secara stabil, kuat, dan penuh tenaga. “Ada potensi hasil yang substansial dalam waktu dekat,” katanya. Berselang beberapa jam kemudian, sekitar pukul 03.00 waktu setempat, Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menulis di X bahwa telah terjadi langkah maju dari tahap yang kritis dan sensitif.

Demikianlah perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung alot, dimediasi Pakistan. Setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan ancaman akan membumihanguskan Iran, diikuti serangan ke Pulau Kharg, Iran bereaksi keras menutup semua jalur diplomasi mereka dengan AS. Namun, pihak Pakistan tak menyerah. Mereka terus berupaya agar kesepakatan gencatan senjata tercapai.

Pada jam-jam sebelum gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan, muncul beberapa tanda kecil harapan dari Pakistan. Sebuah sumber dari Pakistan, dikutip BBC, menyebut pembicaraan terus berlangsung dengan cepat. Pakistan berperan sebagai perantara antara Iran dan Amerika Serikat.

Mereka yang melakukan negosiasi dari pihak Pakistan terdiri dari lingkaran yang sangat kecil. Suasana pembicaraan disebut muram dan serius, tetapi tetap berharap bahwa penghentian permusuhan akan menjadi hasilnya. Masih ada beberapa jam tersisa. Sumber tersebut mengatakan ia bukan bagian dari lingkaran kecil itu.

Baca juga:

Gencatan Senjata Iran-AS: Syarat Israel Tak Sejalan dengan Teheran



Selama beberapa minggu terakhir, Pakistan telah bertindak sebagai perantara antara Iran dan Amerika Serikat dengan menyampaikan pesan di antara kedua pihak. Pakistan memiliki hubungan historis dengan Iran, berbagi perbatasan, dan sering menyebut hubungan mereka sebagai ‘persaudaraan’.

Di lain sisi, mengenai hubungan Pakistan dan Amerika Serikat, Presiden Trump pernah menyebut kepala angkatan bersenjata Pakistan, Field Marshal Asim Munir, sebagai Field Marshal ‘favoritnya’ dan mengatakan bahwa ia mengenal Iran lebih baik daripada kebanyakan orang.

Dalam usaha mencapai kesepakatan gencatan senjata AS dan Iran, PM Sharif tak lupa meminta Presiden Trump untuk memperpanjang tenggat selama dua minggu dan meminta Iran membuka Selat Hormuz untuk periode yang sama.

Namun, kesepakatan itu masih jauh dari pasti. Saat berbicara di parlemen pada Selasa (7/4) malam, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan, hingga Senin, pihaknya sangat optimistis bahwa segala sesuatunya bergerak ke arah yang positif. Namun, optimisme itu berubah setelah Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Senin dan Iran menyerang Arab Saudi.

Meski begitu, ia menyampaikan bahwa Pakistan masih berusaha mengelola situasi semaksimal mungkin.

Field Marshal Munir bahkan menyampaikan kritik yang lebih terbuka. Saat berbicara kepada para pejabat militer pada Selasa, ia mengatakan serangan terhadap Arab Saudi merusak upaya tulus untuk menyelesaikan konflik melalui cara damai. Ini merupakan salah satu bahasa paling keras yang digunakan Pakistan terhadap Iran sejak konflik dimulai.

Akhirnya, kesepakatan tercapai. Sesaat sebelum pukul 05.00, Perdana Menteri Sharif mengumumkan gencatan senjata telah disepakati dan mengundang kedua pihak untuk bertemu di Islamabad pada Jumat (10/4) untuk melanjutkan negosiasi guna mencapai kesepakatan yang final.

“Kami masih sangat berhati-hati,” kata sumber Pakistan, dikutip BBC. Ia menyebut situasi masih sangat rapuh. Hingga kini, belum ada kepercayaan antarkedua pihak, dengan posisi yang sangat mengakar.

Meski Pakistan mungkin akan menjadi tuan rumah pertemuan kedua pihak di meja perundingan, pertanyaannya pentingnya yakni kesepakatan apa yang dapat mereka capai.(dwi)

Baca juga:

PBB Sambut Rencana Perundingan Damai AS dan Iran

#Iran #Amerika Serikat #Pakistan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Iran Tegaskan Tetap Buka Jalur Diplomasi, tapi Siap Perang Jika Diserang AS
Araghchi juga mengungkapkan ketidakpercayaan Iran terhadap proses negosiasi dengan pemerintahan Trump.
Yusuf Abdillah - Senin, 28 September 2026
Iran Tegaskan Tetap Buka Jalur Diplomasi, tapi Siap Perang Jika Diserang AS
Dunia
Konflik Selat Hormuz Timur Tengah Masih Lanjut, Senat AS Tolak Resolusi Akhiri Konflik Iran
Senat AS menolak resolusi DPR yang memerintahkan Presiden Donald Trump mengakhiri konflik dengan Iran. Ketegangan militer di Selat Hormuz berlanjut.
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Konflik Selat Hormuz Timur Tengah Masih Lanjut, Senat AS Tolak Resolusi Akhiri Konflik Iran
Indonesia
Trump Berikan Ancaman Baru, Iran Siapkan Serangan Balasan
Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Syekh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyerukan dibentuknya kerangka kerja keamanan regional yang menyatukan negara-negara Teluk dan Iran.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
Trump Berikan Ancaman Baru, Iran Siapkan Serangan Balasan
Dunia
AS Berikan Sanksi Ekonomi Lebih Luas Mahkamah Pidana Internasional
Sebelumnya, Majelis banding Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menolak gugatan Israel atas legalitas penyelidikan ICC terkait dugaan kejahatan perang di Gaza setelah Oktober 2023.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
AS Berikan Sanksi Ekonomi Lebih Luas Mahkamah Pidana Internasional
Indonesia
Trump Berikan Peringatan Keras ke Iran, "Hal Besar Akan Terjadi" Jika Gagal Mengubah Sikap
Trump memberikan peringatan keras dirinya telah memasuki "fase pengambilan keputusan" yang sangat krusial terkait perang yang tengah berlangsung dengan Iran.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
Trump Berikan Peringatan Keras ke Iran,
Indonesia
Palestina Dilarang Hadiri Majelis Umum PBB, 152 Negara Protes ke AS
Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina menyambut baik resolusi PBB tersebut, mengapresiasi sikap semua negara yang mendukungnya
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 18 September 2026
Palestina Dilarang Hadiri Majelis Umum PBB, 152 Negara Protes ke AS
Dunia
Penembakan di Masjid Pakistan, 16 Orang Tewas
Baku tembak masih berlangsung antara para penyerang dan pasukan keamanan di lokasi kejadian yang berada di distrik Kohat, Khyber Pakhtunkhwa.
Dwi Astarini - Jumat, 18 September 2026
Penembakan di Masjid Pakistan, 16 Orang Tewas
Dunia
AS Kena Sekak Perjanjian 1947! Visa Presiden Iran Pezeshkian Lolos Masuk New York Hadiri Sidang PBB
Pemerintah AS terpaksa menyetujui visa Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menlu Abbas Araghchi untuk menghadiri Sidang Umum PBB ke-81 di New York
Wisnu Cipto - Jumat, 18 September 2026
AS Kena Sekak Perjanjian 1947! Visa Presiden Iran Pezeshkian Lolos Masuk New York Hadiri Sidang PBB
Dunia
Krisis Minyak Dunia Meledak! Iran Kunci Mati Selat Hormuz Sampai Trump dan Netanyahu Lengser
Iran menegaskan tidak akan membuka akses Selat Hormuz sampai Donald Trump dan Benjamin Netanyahu lengser, memicu krisis minyak global yang kian parah.
Wisnu Cipto - Jumat, 18 September 2026
Krisis Minyak Dunia Meledak! Iran Kunci Mati Selat Hormuz Sampai Trump dan Netanyahu Lengser
Indonesia
Tim Ahli dari Amerika Serikat dan Hong Kong Akan Bantu Operasi Pencarian Korban KM Virgo Transport 8
Operasi salvage dilakukan untuk menangani kapal yang mengalami kecelakaan, terutama ketika kapal tenggelam, terbalik, kandas, atau mengalami kerusakan berat
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 17 September 2026
Tim Ahli  dari Amerika Serikat dan Hong Kong Akan Bantu Operasi Pencarian Korban KM Virgo Transport 8
Bagikan