Kesehatan Mental

Cek nih Ciri-ciri Gangguan Megalomania

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 03 Juni 2021
Cek nih Ciri-ciri Gangguan Megalomania

Pahami gejala awal gangguan megalomania. (Foto_ Pixabay_ geralt)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

APAKAH kamu punya teman yang terlihat super duper lebay sampai pernah menyebabkan masalah besar karena sikapnya tersebut? Meskipun temanmu menyebalkan, kamu tidak boleh langsung membenci dirinya. Mungkin nih, dia menderita penyakit mental yang dinamakan megalomania.

Seperti dilansir Practicalpie.com, biasanya penderita megalomania terbiasa membesar-besarkan sesuatu seperti contohnya masalah kecil dianggap malapetaka. Mereka juga haus akan pujian dan pengakuan dari orang-orang sekitarnya. Tak berhenti di situ, penderita megalomania juga akan mengalami sebuah delusi dan halusinasi seperti menganggap dirinya sendiri merupakan orang kaya raya, memiliki kekuasaan tak terkalahkan, atau lebih cerdas dari orang sekitarnya. Padahal kenyataannya, ia biasa-biasa saja. Tidak sulit kok melihat gejala gangguan megalomania, cek ciri-cirinya beikut.

BACA JUGA:

Pentingnya Bangun Pagi Untuk Kesehatan Mental

1. Terlalu percaya diri

man
Merasa diri paling baik dalam segala hal. (Foto_ Pixabay_ RoyalAnwar)

Memiliki karakter yang percaya diri memang penting agar tidak mudah dijatuhkan orang lain dan sebagai bekal utama saat terjun ke dunia kerja. Tapi kalau sudah berlebihan rasanya menyebalkan ya mendengar orang lain memuji dirinya sendiri terus menerus setiap hari? Nah, terlalu percaya diri merupakan indikasi utama seseorang mengidap megalomania loh.

2. Tidak bisa menerima kritik

man
Kritikan dianggap sebagai hinaan. (Foto_ Pixabay_ RyanMcGuire)

Salah satu ciri seseorang mengalami gangguan megalomania adalah membesar-besarkan segala sesuatu. Kamu bisa melihatnya ketika dirinya dikritik oleh orang lain. Biasanya penderita megalomania menganggap kritik sebagai hinaan dan cacian. Begitu pun dengan pujian. Mereka juga akan menganggap pujian yang tulus sebagai cara orang lain “menjilat” dirinya karena ada maunya saja.

3. Merasa superior

man
Merasa memiliki kekuasaan tertinggi. (Foto_ Pixabay_ Free-Photos)

Tidak punya jabatan tinggi dan tidak pernah memberikan kontribusi tapi merasa dirinya yang paling dibutuhkan oleh perusahaan. Akibatnya penderita akan memperlakukan orang di bawahnya dengan seenaknya karena merasa superior. Tak hanya itu, penderita megalomania juga tak segan untuk menyebarkan gosip dan fitnah agar saingannya dipecat. Wah kalau sudah begini sih harus mulai waspada dan mencari bantuan profesional. Karena gangguan megalomania bisa sangat merugikan orang lain.

4. Mudah emosi

MAN
Perubahan emosinya terlalu cepat. (Foto_ Pixabay_ RyanMcGuire)

Salah satu ciri gangguan megalomania pada seseorang bisa dilihat dari stabilitas emosinya. Jika seseorang mudah marah pada hal yang sangat sepele dan bisa “ngambek” dalam waktu yang cukup lama, orang tersebut mungkin mengidap megalomania. Penderita megalomania sangat mudah marah terhadap orang lain dan biasanya akan mereda ketika orang yang dianggap berbuat salah tersebut memohon maaf berkali-kali bahkan hingga berhari-hari.(mar)

#Kesehatan #Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Maria Theresia

Your limitation -- it's only your imagination.

Berita Terkait

Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Bagikan