MerahPutih.com - Bus masih menjadi pilihan utama yang digunakan pemudik untuk balik ke kampung halaman merayakan lebaran di tahun 2026.
Di mana, pengelola Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, mencatat puncak arus mudik pada Angkutan Lebaran Tahun 2026 meningkat lebih dari 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kami mencatat keberangkatan di arus mudik di tahun ini meningkat dibanding tahun lalu,” kata Kepala Terminal Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain.
Puncak arus mudik pada 2025 terjadi pada H-3 Lebaran dengan jumlah penumpang yang berangkat 3.224 orang. Sementara pada tahun ini, puncak arus mudik juga terjadi pada H-3 dengan jumlah pemudik yang berangkat mencapai 5.332 orang.
Baca juga:
KPK Temukan Dugaan Mobil Dinas Dipakai Mudik, DPR Desak Penindakan
Sementara itu untuk arus balik, puncaknya terjadi pada H+3 di Terminal Kampung Rambutan pada tahun ini dengan penumpang datang 7.114 orang. Volume penumpang pada tahun ini lebih sedikit dibandingkan puncak arus balik 2025 dengan jumlah penumpang 12.169.
Sejumlah bus penumpang dari berbagai daerah baik dari Pulau Jawa maupun Sumatera terus berdatangan, pada Minggu (30/3)
Penumpang arus mudik dan balik di Terminal Kampung Rambutan didominasi dari Surabaya, Malang, kemudian Yogyakarta, Tegal, Pakalongan, Purwokerto, Wonosobo, Cilacap, kemudian Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur untuk dari pulau Jawa. Sementara dari Sumatera terbanyak yaitu Padang, Palembang, Bengkulu, dan Lampung.
Mayoritas warga menilai bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) masih menjadi pilihan utama untuk mobilitas pada arus mudik dan arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 karena lebih ekonomis dan tak kalah nyaman dibandingkan pesawat udara.
“Yang jelas lebih ekonomis dan tak kalah nyaman,” kata pemudik asal Palembang Hertilitawati di Jakarta, Minggu.
Herti mengatakan bus AKAP menjadi transportasi yang dipilih menuju Jakarta setelah menghabiskan liburan di kampung halaman.
Ia mengaku berangkat bersama keluarganya mudik ke kampung halaman dan hari ini kembali ke Jakarta untuk menjalankan aktivitas seperti sedia kala.
“Kami ada delapan orang dan tentu lebih hemat menggunakan bus dibandingkan pesawat,” kata dia.