Kesehatan

Bikin Langsing Cepat, Diet Ekstrem Timbulkan Risiko Kesehatan

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 16 Maret 2021
Bikin Langsing Cepat, Diet Ekstrem Timbulkan Risiko Kesehatan

Diet ekstrem bisa memberi risiko pada kesehatan.(foto: pixabay/stevepb)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KEINGINAN untuk cepat langsing acap diarih dengan menjalankan diet ekstrem. Dari hanya mengonsumsi satu jenis makanan hingga menghilangkan karbohidrat dari menu harian. Sejumlah pakar diet telah mengingatkan betapa berbahayanya diet ekstrem.

Seperti dilansir ANTARA, pakar gizi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik (PDGKI) Feni Nugraha mengatakan diet ekstrem pasti akan menurunkan berat badan dan membuat tubuh langsing. Namun, di saat yang sama, hal itu juga menimbulkan berbagai risiko kesehatan pada tubuh.

BACA JUGA:

4 Makeup ini Pantang Dipinjamkan

Menurut dia, pelaku diet ini akan melakukan defisit kalori yang memunculkan masalah. Salah satunya ialah sembelit akibat kurang konsumsi serat yang bisa didapat dari sayur dan buah.

Saat sembelit, ada risiko mengeluarkan feses berdarah. Dalam kondisi ekstrem, seseorang bisa tidak bisa buang air besar hingga enam hari.

"Ketika seseorang menjalankan diet ekstrem, akan terjadi gangguan pergerakan fungsi usus. Apalagi sekarang yang dijalankan itu banyak yang kurang serat. Serat penting untuk BAB. Serat akan menarik air ke usus besar, membuat feses lebih lunak dan berbentuk, sehingga BAB lancar. Saat serat kurang karena diet ekstrem, memang cendrung sembelit," kata Feni Nugraha dalam sebuah bincang daring, Senin (15/3).

Serat penting untuk memelihara keseimbangan bakteri usus dan sistem imun tubuh akan terjaga karena 70% imunitas ada di saluran cerna. Serat terbagi dua yakni serat larut dan tak larut.

Serat larut akan diubah seperti gel oleh bakteri usus. Itu membuat feses lebih padat dan berbentuk serta mengurangi penyerapan zat-zat tertentu yang memiliki dampak negatif untuk tubuh. Misalnya menghambat penyerapan karbo ke darah, sehingga mencegah kelonjakan gula darah. Selain itu, serat menghambat penyerapan lemak dan kolesterol.

Sementara itu, serat tidak larut membantu memperlambat penyerapan makanan dan bahan yang tidak dibutuhkan tubuh. Serat ini membuat volume tambahan di perut sehingga membuat kamu kenyang lebih lama sekaligus membantu penurunan berat badan.

Saat diet, kamu disarankan mengonsumsi 3-5 porsi sayur dan 2-3 porsi buah setiap hari. Konsumsi 3-5 porsi sayur memenuhi 50% dari kebutuhan serat 20 gram atau 10 gram, ditambah 2-3 porsi buah sehari, sehingga 80% kebutuhan serat tercukupi.

Dengan asumsi satu porsi buah mengandung sekitar 2 gram serat, sisa kebutuhan serat bisa dipenuhi dari karbohidrat kompleks, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Selain itu, warna-warni buah dan sayur berfungsi sebagai antioksidan. Amat direkomendasikan mengonsumsi minimal lima warna per hari, yakni hijau, merah, kuning, ungu, dan putih.

Senada, pPakar gizi dari PDGKI Arti Indira menegaskan sayuran tidak akan menghambat penurunan berat badan atau menyebabkan kegemukan.

Lebih jauh, ia menyoroti kerugian diet ekstrem. Salah satu yang ia tekankan yakni efek defisiensi mikronutrien, karena enggan mengonsumsi sayuran dan sumber zat gizi lainnya dan terfokus pada menghindari nasi.

"Ada orang yang tidak mau makan nasi saat diet. Kita suka lupa, selain sebagai sumber karbohidrat, di dalam nasi juga ada vitamin dan mineral seperti zat besi, fosfor, magnesium, dan mangan. Jangan terlalu restriktif saat menjalankan program diet," katanya.

Risiko lain apabila kamu melakukan diet ekstrem yakni terkena batu empedu. Dokter spesialis gizi Samuel Oetoro mengatakan diet ekstrem atau penurunan berat tubuh lebih daripada 1,5 kg per minggu artinya asupan lemak dalam tubuh sangat sedikit atau bahkan tidak ada, termasuk lemak yang sehat.

"Secara fisiologis, saat lemak masuk ke usus 12 jari, secara otomatis kantong empedu akan memompa cairan ke usus 12 jari, karena lemak baru harus bercampur dengan empedu untuk bisa diserap tubuh, di samping nanti diproses lagi dengan enzim pencernaan," ujar Samuel.

Ia mengatakan, kalau asupan lemak sangat sedikit atau tidak ada, tidak ada rangsangan bagi kantong empedu untuk memompa keluar cairan empedu. "Akhirnya, empedu tersimpan saja di dalam kantong, mengendap, dan lama-lama terbentuklah batu empedu," imbuh Samuel.

Namun, apabila kamu menerapkan program diet yang benar, lemak tetap ada, tapi lemak sehat, empedu akan dipompa keluar dari kantong dan tidak terjadi pembentukan batu empedu.

Pakar gizi menekankan, kamu perlu memenuhi semua komponen zat gizi, merujuk pada saran Kementerian Kesehatan, yakni Isi Piringku. Satu piring dibagi menjadi dua bagian. Dua pertiga dari setengah bagian pertama diisi karbohidrat dan sepertiganya protein. Pilih karbihidrat kompleks. Untuk protein, pilihannya nabati dan hewani.

Pada setengah piring bagian kedua, kamu bisa mengisi dua pertiganya dengan sayur dan sepertiganya buah.

Mengenai waktu makan, Feni mengatakan sampai sekarang belum ada kepustaan yang mengaturnya. Menurut dia, waktu makan ketat sangat menyulitkan di kehidupan sehari-hari. Dia menyarankan mencoba makan di waktu yang konsisten setiap hari, tapi tidak perlu harus sangat ketat di jam yang benar-benar sama.

"Memang menurut studi, waktu makan yang tidak konsisten kurang baik, karena berhubungan dengan ritme sirkadian kita. Waktu makan yang konsisten akan membantu metabolisme tubuh," jelas Feni.(dwi)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Bagikan