KEINGINAN untuk cepat langsing acap diarih dengan menjalankan diet ekstrem. Dari hanya mengonsumsi satu jenis makanan hingga menghilangkan karbohidrat dari menu harian. Sejumlah pakar diet telah mengingatkan betapa berbahayanya diet ekstrem.
Seperti dilansir ANTARA, pakar gizi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik (PDGKI) Feni Nugraha mengatakan diet ekstrem pasti akan menurunkan berat badan dan membuat tubuh langsing. Namun, di saat yang sama, hal itu juga menimbulkan berbagai risiko kesehatan pada tubuh.
BACA JUGA:
Menurut dia, pelaku diet ini akan melakukan defisit kalori yang memunculkan masalah. Salah satunya ialah sembelit akibat kurang konsumsi serat yang bisa didapat dari sayur dan buah.
Saat sembelit, ada risiko mengeluarkan feses berdarah. Dalam kondisi ekstrem, seseorang bisa tidak bisa buang air besar hingga enam hari.
"Ketika seseorang menjalankan diet ekstrem, akan terjadi gangguan pergerakan fungsi usus. Apalagi sekarang yang dijalankan itu banyak yang kurang serat. Serat penting untuk BAB. Serat akan menarik air ke usus besar, membuat feses lebih lunak dan berbentuk, sehingga BAB lancar. Saat serat kurang karena diet ekstrem, memang cendrung sembelit," kata Feni Nugraha dalam sebuah bincang daring, Senin (15/3).
Serat penting untuk memelihara keseimbangan bakteri usus dan sistem imun tubuh akan terjaga karena 70% imunitas ada di saluran cerna. Serat terbagi dua yakni serat larut dan tak larut.
Serat larut akan diubah seperti gel oleh bakteri usus. Itu membuat feses lebih padat dan berbentuk serta mengurangi penyerapan zat-zat tertentu yang memiliki dampak negatif untuk tubuh. Misalnya menghambat penyerapan karbo ke darah, sehingga mencegah kelonjakan gula darah. Selain itu, serat menghambat penyerapan lemak dan kolesterol.
Sementara itu, serat tidak larut membantu memperlambat penyerapan makanan dan bahan yang tidak dibutuhkan tubuh. Serat ini membuat volume tambahan di perut sehingga membuat kamu kenyang lebih lama sekaligus membantu penurunan berat badan.
Saat diet, kamu disarankan mengonsumsi 3-5 porsi sayur dan 2-3 porsi buah setiap hari. Konsumsi 3-5 porsi sayur memenuhi 50% dari kebutuhan serat 20 gram atau 10 gram, ditambah 2-3 porsi buah sehari, sehingga 80% kebutuhan serat tercukupi.
Dengan asumsi satu porsi buah mengandung sekitar 2 gram serat, sisa kebutuhan serat bisa dipenuhi dari karbohidrat kompleks, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Selain itu, warna-warni buah dan sayur berfungsi sebagai antioksidan. Amat direkomendasikan mengonsumsi minimal lima warna per hari, yakni hijau, merah, kuning, ungu, dan putih.
Senada, pPakar gizi dari PDGKI Arti Indira menegaskan sayuran tidak akan menghambat penurunan berat badan atau menyebabkan kegemukan.
Lebih jauh, ia menyoroti kerugian diet ekstrem. Salah satu yang ia tekankan yakni efek defisiensi mikronutrien, karena enggan mengonsumsi sayuran dan sumber zat gizi lainnya dan terfokus pada menghindari nasi.
"Ada orang yang tidak mau makan nasi saat diet. Kita suka lupa, selain sebagai sumber karbohidrat, di dalam nasi juga ada vitamin dan mineral seperti zat besi, fosfor, magnesium, dan mangan. Jangan terlalu restriktif saat menjalankan program diet," katanya.
Risiko lain apabila kamu melakukan diet ekstrem yakni terkena batu empedu. Dokter spesialis gizi Samuel Oetoro mengatakan diet ekstrem atau penurunan berat tubuh lebih daripada 1,5 kg per minggu artinya asupan lemak dalam tubuh sangat sedikit atau bahkan tidak ada, termasuk lemak yang sehat.
"Secara fisiologis, saat lemak masuk ke usus 12 jari, secara otomatis kantong empedu akan memompa cairan ke usus 12 jari, karena lemak baru harus bercampur dengan empedu untuk bisa diserap tubuh, di samping nanti diproses lagi dengan enzim pencernaan," ujar Samuel.
Ia mengatakan, kalau asupan lemak sangat sedikit atau tidak ada, tidak ada rangsangan bagi kantong empedu untuk memompa keluar cairan empedu. "Akhirnya, empedu tersimpan saja di dalam kantong, mengendap, dan lama-lama terbentuklah batu empedu," imbuh Samuel.
Namun, apabila kamu menerapkan program diet yang benar, lemak tetap ada, tapi lemak sehat, empedu akan dipompa keluar dari kantong dan tidak terjadi pembentukan batu empedu.
Pakar gizi menekankan, kamu perlu memenuhi semua komponen zat gizi, merujuk pada saran Kementerian Kesehatan, yakni Isi Piringku. Satu piring dibagi menjadi dua bagian. Dua pertiga dari setengah bagian pertama diisi karbohidrat dan sepertiganya protein. Pilih karbihidrat kompleks. Untuk protein, pilihannya nabati dan hewani.
Pada setengah piring bagian kedua, kamu bisa mengisi dua pertiganya dengan sayur dan sepertiganya buah.
Mengenai waktu makan, Feni mengatakan sampai sekarang belum ada kepustaan yang mengaturnya. Menurut dia, waktu makan ketat sangat menyulitkan di kehidupan sehari-hari. Dia menyarankan mencoba makan di waktu yang konsisten setiap hari, tapi tidak perlu harus sangat ketat di jam yang benar-benar sama.
"Memang menurut studi, waktu makan yang tidak konsisten kurang baik, karena berhubungan dengan ritme sirkadian kita. Waktu makan yang konsisten akan membantu metabolisme tubuh," jelas Feni.(dwi)