Berkaca dari Aliando Syarief, Apa itu OCD?
Aliando Syarief. (Foto: Instagram/aliandooo)
BARU-BARU ini aktor Aliando Syarief mengabarkan bahwa dirinya didiagnosis terkena gangguan mental obsessive compulsive disorder (OCD). Kondisinya pun semakin memburuk saat ia dinyatakan positif COVID-19. Kabar ini diketahui dari live Instagram-nya pada Kamis (27/1).
"Dua tahun karena OCD enggak bisa ngapa-ngapain dan susah untuk dipahami. Gue fokus ke aman, enggak sinkron pikiran dan otak. 2019 harusnya ada projek lagi, tapi batal karena gue OCD," kata pemain sinetron Ganteng-Ganteng Serigala ini.
"Enggak bisa liburan, untuk mandi aja gue enggak bisa lo. Mandi itu susah, kayak mau jalan naik mobil atau ngambil barang itu sulit," lanjutnya.
Menurut laman Alodokter, OCD merupakan gangguan mental yang menyebabkan pengidapnya merasa harus melakukan sesuatu secara berulang-ulang (kompulsif). Bila tidak dilakukan, mereka akan merasa cemas atau ketakutan. Masalah kesehatan ini bukan kebiasaan seperti menggigit kuku atau memikirkan pikiran negatif saja.
Baca juga:
Aliando dan Adipati Dolken Jadi Pengisi Suara 'Warkop DKI Kartun'
Setiap orang memiliki kebiasaan atau pemikiran yang terkadang berulang. Tetapi, orang dengan OCD memiliki pikiran atau tindakn yang bahkan bisa dilakukan setidaknya satu jam sehari, di luar kendalinya, tidak menyenangkan, dan mengganggu pekerjaan serta kehidupan sosialnya.
Perasaan lega sesaat bisa muncul setelah melakukan perilaku kompulsif, namun kemudian gejala obsesif akan muncul kembali dan membuat mengulangi perilaku kompulsif. Mereka bisa saja menyadari bahwa perilaku yang mereka lakukan berlebihan. Akan tetapi, mereka merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghentikannya.
Gejalanya perilaku kompulsif contohnya seperti mencuci tangan berkali-kali sampai lecet, menyusun benda menghadap ke arah yang sama, atau memeriksa berulang kali apakah sudah mematikan kompor atau keran air.
Baca juga:
Banyak orang dengan OCD tahu pikiran dan kebiasaan mereka tidak masuk akal. Mereka tidak melakuaknnya karena menikmati, tapi karena tidak bisa berhenti. Lalu jika berhenti, mereka merasa sangat buruk sehingga mencoba memulai lagi.
Kategori pikiran obsesif dapat mencakup khawatir tentang diri sendiri atau orang lain yang terluka, kecurigaan pasangan tidak setia dan tanpa alasan untuk mempercayainya.
Untuk mendiagnosis OCD, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah untuk memastikan sesuatu yang lain tidak menyebabkan gejala. Mereka juga akan bertanya tentang perasaan, pikiran, dan kebiasaan. Jika terdiagnosis, tidak ada obat untuk memulihkannya, tetapi pasien dapat mengelola bagaimana gejala memengaruhi hidup melalui obat-obatan, terapi, atau kombinasi perawatan. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!