Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Nasib Lokomotif Pengangkut Sukarno Setelah Dua Tahun Tak Terurus

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Minggu, 14 Oktober 2018
Nasib Lokomotif Pengangkut Sukarno Setelah Dua Tahun Tak Terurus

Lokomotif kuno saat tiba di Stasiun Purwosari beberapa tahun lalu. (MP/Raditya)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

LOKOMOTIF hitam bernomor D52099 itu masih tampak gagah meski di bagian atapnya berkarat. Ia mematung selama lebih kurang dua tahun di stasiun Purwosari, Solo. Saban hari terkena terik matahari dan terkadang bermandi air hujan.

Sejak dipindahtangankan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pada November 2016 lalu, lokomotif nan semula berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut direncanakan bakal diperbaiki di Balai Yasa, Yogyakarta.

"Sabtu besok akan dibawa ke Balai Yasa. Kita hanya ketempatan saja. Kalau penanganannya langsung dari aset kantor pusat, karena ini termasuk heritage. Sehingga perlu penanganan khusus," kata Executive Vice President Balai Yasa Yogyakarta, Hasyim Suwondo kepada merahputih.com.

Balai Yasa Yogyakarta, menurut Hasyim, memiliki peralatan mumpuni untuk merestorasi lokomotif tersebut. Cukup lengkap. "Sehingga jika membutuhkan peralatan tidak perlu mencari ke mana-mana," ungkap Hasyim.

Lokomotif D52099 semula didatangkan ke Solo untuk pengembangan wisata Kota Bengawan. Khususnya, sebagai cadangan kereta uap Jaladara. Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo berharap agar lokomotif tersebut segera diperbaiki untuk memanjakan wisatawan ke sejumlah lokasi bersejarah di kota Solo. Apalagi, Lokomotif D52099 memiliki nilai historis begitu kuat.

Lokomotif kuno saat tiba di Stasiun Purwosari beberapa tahun lalu. (MP/Raditya)

Sukarno-Hatta Menuju Yogyakarta

Belum genap setahun merdeka, keadaan Indonesia kembali mencekam. Ancaman itu datang dari tentara kolonial Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA). Kegentingan tersebut terjadi tepat Tahun Baru 1946. Penguasaan atas Indonesia menjadi incaran Belanda untuk kali kedua.

Dalam kondisi darurat itu, ibu kota negara mesti dipindahkan. Dari Jakarta menuju Yogyakarta. Begitulah kata Bung Karno seperti yang ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. "Tidak ada seorang pun dari saudara boleh membawa harta benda. Aku juga tidak," kata Sukarno, Rabu, 2 Januari 1946, di Jakarta.

Tak mau menunggu lama. Para tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta mulai merancang strategi bagaimana menuju Yogyakarta dengan aman. Munculah ide pemberangkatan menggunakan jalur darat, khususnya menggunakan Kereta Api Luar Biasa (KLB).

Persiapan dan Pengamanan Kereta

Di Dipo Manggarai, rangkaian kereta dipersiapkan. Salah seorang pemimpin KLB, Anwir dengan telaten memeriksa rangkaian. Sekitar empat kereta, termasuk kereta bagian poliklinik disusun. Presiden Sukarno bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta berada di dua kereta paling belakang.

Soedarjo, dalam buku Aku Ingat, menjelaskan demi menjaga keamanan Presiden beserta rombongan, pemberangkatan dimulai dari belakang rumah Bung Karno di Pegangsaaan Timur tepat pukul 18.00 WIB.

Kereta Poliklinik dalam rangkaian KLB. (MP/Noer Ardiansjah)

"Rangkaian dikeluarkan dari bengkel oleh Ali Noer dan kawan-kawan Angkatan Muda Kereta Api 17.15 dan pukul 17.30 dilangsir ke belakang rumah Bung Karno," kata Soedarjo.

Sebanyak 15 belas pasukan khusus disiapkan untuk mengawal Sang Proklamator. Sukarno berpesan agar para pengawal tidak membawa barang apa pun dalam proses pemindahan. "Yang agak mencolok dalam KLB dua buah mobil kepresidenan, merek Buick 7 seat cat hitam dan merek de Soto cat kuning."

Langsiran kereta api dari Manggarai ke Pegangsaan pada waktu itu memang lazim dilakukan. Mangil Martowidjojo, dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno, mengatakan para pengawal mengatur pemberangkatan dengan sebaik mungkin. "Agar seolah-olah tidak ada tanda-tanda bahwa Bung Karno dan rombongan akan meninggalkan Jakarta," tulisnya.

Rombongan mulai berangkat dari Pegangsaaan dengan hati was-was. "Bernapas saja harus sangat hati-hati," ungkap Sukarno. Lantaran serdadu KNIL di sekitar serdadu Belanda masih begitu kuat dan garang.

Setelah semua rombongan berada dalam KLB, kata Mangil, semua pengawal dipersilakan masuk ke dalam kereta. "Waktu itu keadaan di dalam KLB gelap sekali. Lampu-lampu sengaja tidak dinyalakan," tulisnya.

Sesampainya di Stasiun Manggarai, KLB berhenti sejenak. Tak juga tenang. Tentara besutan Belanda banyak berkeliaran. Setiap kereta diperhatikan. Dipelototi.

Beruntungnya, kereta yang ditempati para tokoh bangsa diabaikan NICA dan KNIL. "Seandainya kami ketahuan, seluruh negara dapat dihancurkan dengan satu granat," katanya.

Rombongan Selamat Sampai Yogyakarta

Tak lama berselang, KLB kembali berangkat. Kereta melaju dan berbelok melintasi arah Stasiun Jatinegara. Kemudian menuju Stasiun Klender dengan kecepatan ditambah hingga mencapai 25 km per jam.

Soedarjo dalam buku yang sama mengaku tak menyangka atas apa yang telah terjadi. Keberangkatan rombongan dari Pegangsaan tidak diketahui patroli-patroli Belanda. "Lewat Stasiun Klender, Anwir mengizinkan masinis melaju dengan kecepatan sampai 90 km per jam," tulis Soedarjo.

Kereta Api Luar Biasa (KLB). (MP/Noer Ardiansjah)

Selama 15 jam perjalanan, pengawalan serta pengamanan diperketat. Jumat, 4 Januari 1946, sekitar pukul 9.00 WIB rombongan sampai di Yogyakarta dengan selamat.

Presiden sempat tinggal sementara di kawasan Pura Pakualaman sebelum akhirnya tinggal di istana bekas Gubernur Belanda di selatan Malioboro.

Sejak 4 Januari 1946, dimulailah peran Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia. Meski demikian, tak juga boleh dilupakan peran KLB yang begitu gagah mengantarkan para tokoh bangsa. (*) Artikel Radit (Solo) & Noer Ardiansjah.

#Lokomotif Kuno #Kereta Api
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
KAI Catat Lebih dari 35 Ribu Penumpang Manfaatkan Kereta Petani dan Pedagang
Sepanjang periode Januari hingga 29 Juli 2026 saja, Kereta Petani dan Pedagang di lintas Rangkasbitung–Merak telah melayani 31.546 pelanggan.
Dwi Astarini - Sabtu, 01 Agustus 2026
KAI Catat Lebih dari 35 Ribu Penumpang Manfaatkan Kereta Petani dan Pedagang
Indonesia
Nusantara Explorer Hadir atas Perintah Presiden Prabowo
Nusantara Explorer jadi bagian dari upaya memperkuat pariwisata nasional melalui moda transportasi berbasis rel.
Dwi Astarini - Kamis, 30 Juli 2026
Nusantara Explorer Hadir atas Perintah Presiden Prabowo
Indonesia
Intip Kereta Nusantara Explorer Yang Pertama Kali Digunakan Presiden Prabowo
adwal operasional komersial, rute perjalanan, tarif, serta komposisi akhir kereta akan diumumkan setelah seluruh aspek operasional dan keselamatan dinyatakan siap.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 30 Juli 2026
Intip Kereta Nusantara Explorer Yang Pertama Kali Digunakan Presiden Prabowo
Indonesia
Prabowo Perintahkan PT KAI dan Kemenhub Bangun Jalur KA di Sumatera dan Kalimantan, Kalau Bisa Bersamaan
"Habis Trans Sumatra, nanti Trans Kalimantan. Kalau bisa bersamaan, kita mulai," kata Prabowo
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 30 Juli 2026
Prabowo Perintahkan PT KAI dan Kemenhub Bangun Jalur KA di Sumatera dan Kalimantan, Kalau Bisa Bersamaan
Indonesia
Presiden Akui Ada Dilema Soal Kereta Api Cepat, Kota Cecil Tidak Terlayani Kereta Api
"Kadang-kadang dilema, ingin kereta api cepat, akhirnya kota-kota kecil tidak terlayani. Kereta api Indonesia harus benar-benar berpikir, utuh, komprehensif," tutur Presiden.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 30 Juli 2026
Presiden Akui Ada Dilema Soal Kereta Api Cepat, Kota Cecil Tidak Terlayani Kereta Api
Indonesia
Presiden Prabowo Resmikan Revitalisasi Tahap Pertama Stasiun Tawang
Revitalisasi Stasiun Tawang dikerjakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang selama 240 hari, terhitung sejak 5 Mei hingga 30 Desember 2025.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 30 Juli 2026
Presiden Prabowo Resmikan Revitalisasi Tahap Pertama Stasiun Tawang
Indonesia
PT KAI Habiskan 119,44 Juta Liter BBM Bersubsidi, Mulai Beralih ke B50
KAI mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap pada armada diesel sejak 1 Juli 2026.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 21 Juli 2026
PT KAI Habiskan 119,44 Juta Liter BBM Bersubsidi, Mulai Beralih ke B50
Indonesia
Perkuat Keselamatan Jalur Kereta Api, Balai Yasa Kiaracondong Bangun Jembatan Baja Seberat 138 Ton
Seluruh produk yang dihasilkan Balai Yasa Kiaracondong ditujukan untuk menjaga keandalan rel dan jembatan yang menjadi tulang punggung operasional kereta api.
Dwi Astarini - Selasa, 21 Juli 2026
Perkuat Keselamatan Jalur Kereta Api, Balai Yasa Kiaracondong Bangun Jembatan Baja Seberat 138 Ton
Indonesia
Kelas Eksekutif KAI Makin Diminati, Jumlah Penumpang Naik Jadi 7,5 Juta pada Semester I 2026
Kelas eksekutif KAI kini makin diminati. Jumlah penumpang naik menjadi 7,5 juta pada semester I 2026.
Soffi Amira - Sabtu, 18 Juli 2026
Kelas Eksekutif KAI Makin Diminati, Jumlah Penumpang Naik Jadi 7,5 Juta pada Semester I 2026
Indonesia
Konser Akbar di Monas, 13 KA keberangkatan Gambir Berhenti di Jatinegara
Pola operasi berhenti luar biasa (BLB) tersebut diterapkan untuk memberikan alternatif akses keberangkatan kepada pelanggan.
Dwi Astarini - Sabtu, 18 Juli 2026
Konser Akbar di Monas, 13 KA keberangkatan Gambir Berhenti di Jatinegara
Bagikan