Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Jumat, 11 September 2026
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia

(Ilustrasi) Seorang warga melintas di kawasan Muara Angke, Jakarta, Kamis (16/1). ANTARA FOTO/Fauzan

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Bank Dunia memiliki data angka kemiskinan di Indonesia yang berbeda. Bahkan, mencapai puluhan jutaan orang perbedaannya.

Perbedaan angka tersebut disebabkan oleh perbedaan metode pengukuran serta tujuan penggunaan indikator kemiskinan, bukan karena adanya perbedaan kondisi kehidupan masyarakat.

BPS mencatat tingkat kemiskinan nasional Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen. Sedangkan Bank Dunia memperkirakan 64,1 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, dengan standar 8,30 dolar Amerika Serikat (AS) Purchasing Power Parity (PPP) atau sekitar R p51.087 per orang per hari.

Namun, BPS dan Bank Dunia menggunakan sumber data yang sama, yakni Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Namun, cara pengukuran kemiskinan yang digunakan berbeda karena memiliki tujuan yang berbeda.

Baca juga:

Kemiskinan Naik di Tengah Pertumbuhan Ekonomi, Luhut: Bisa Jadi karena Kenaikan Harga

BPS mengukur kemiskinan berdasarkan biaya hidup masyarakat Indonesia, dengan menghitung jumlah pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar lainnya, seperti perumahan, pakaian, serta transportasi.

Perhitungan tersebut dilakukan di 75 wilayah perkotaan dan perdesaan di setiap provinsi serta diperbarui dua kali dalam setahun untuk menyesuaikan perubahan harga.

Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional yang digunakan BPS tercatat sebesar Rp 669.235 per orang per bulan atau sekitar 3,60 dolar AS per hari. Ukuran tersebut dirancang untuk memberikan gambaran kemiskinan yang sesuai dengan standar dan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional untuk membandingkan standar hidup antarnegara. Lembaga tersebut menerapkan tiga tolok ukur berdasarkan kelompok pendapatan negara, yakni USD 3,00 per hari untuk negara berpendapatan rendah, USD 4,20 per hari untuk negara berpendapatan menengah bawah, dan USD 8,30 per hari untuk negara berpendapatan menengah atas.

Ukuran kemiskinan nasional dan internasional memiliki kegunaan masing-masing. Garis kemiskinan nasional yang ditetapkan pemerintah menjadi acuan dalam perumusan kebijakan nasional dan pemantauan upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Berdasarkan ukuran BPS, tingkat kemiskinan Indonesia tercatat menurun dari 8,47 persen pada Maret 2025 menjadi 8,07 persen pada Maret 2026.

Sementara untuk perbandingan global, estimasi Bank Dunia tahun 2025 menunjukkan 3,7 persen penduduk Indonesia berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem, 15,5 persen berada di bawah garis kemiskinan negara berpendapatan menengah bawah, dan 64,1 persen berada di bawah garis kemiskinan negara berpendapatan menengah atas.

Perbedaan angka yang cukup besar, hal tersebut terutama berkaitan dengan penentuan garis kemiskinan, bukan menunjukkan memburuknya kondisi kehidupan masyarakat. Ketika Indonesia masuk kategori negara berpendapatan menengah atas pada 2023, Bank Dunia menaikkan ambang batas kemiskinan dari USD 4,20 menjadi USD 8,30 per orang per hari.

Dengan ambang batas yang lebih tinggi, jumlah penduduk yang berada di bawah garis tersebut secara otomatis menjadi lebih besar. Namun, hal itu tidak berarti masyarakat menjadi lebih miskin dibandingkan sebelumnya.

Kedua lembaga juga memiliki pendekatan berbeda dalam memperhitungkan perubahan harga. BPS menyesuaikan garis kemiskinan dengan perubahan pola konsumsi dan standar hidup masyarakat, sedangkan Bank Dunia menggunakan standar internasional yang tetap dan menyesuaikannya dengan inflasi.

BPS mengukur kemiskinan dalam konteks Indonesia untuk mendukung pemantauan kemajuan dan kebijakan domestik, sedangkan Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional untuk membandingkan standar hidup antarnegara.

#Dampak Kemiskinan #Angka Kemiskinan #Badan Pusat Statistik (BPS)
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Pengangguran Indonesia Turun ke 4,65 Persen, Angkanya Mendekati Level 1994
Pemerintah menyebut TPT Indonesia mencapai 4,65 persen pada 2026. Jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, disertai dorongan pelatihan vokasi dan peningkatan keterampilan.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 27 Oktober 2026
Pengangguran Indonesia Turun ke 4,65 Persen, Angkanya Mendekati Level 1994
Indonesia
Menko PM Cak Imin Punya 3 Strategi Pemberdayaan Agar Taraf Hidup Masyarakat Meningkat
Di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terdapat paradigma baru yang diterapkan dalam pembangunan nasional, yakni pemberdayaan masyarakat.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 14 Oktober 2026
Menko PM Cak Imin Punya 3 Strategi Pemberdayaan Agar Taraf Hidup Masyarakat Meningkat
Indonesia
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar
BPS mencatat perdagangan Indonesia surplus USD 7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Ekspor USD 193,64 miliar dan impor USD 186,39 miliar.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar
Indonesia
Pemprov Jateng Targetkan Kemiskinan Turun Menjadi 8,70 Persen Akhir 2026
Salah satu upaya untuk menurunkan kemiskinan yakni dengan terus mengurangi ketimpangan antara jumlah kebutuhan rumah dan ketersediaan hunian.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
Pemprov Jateng Targetkan Kemiskinan Turun Menjadi 8,70 Persen Akhir 2026
Indonesia
Jamin Bantuan Pemerintah Tetap Diberikan, Data Desil Diperbaharui Tiap 3 Bulan
Guna memastikan validitas data secara berkelanjutan, pemerintah membuka luas akses partisipasi publik melalui berbagai kanal pemutakhiran mandiri.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Jamin Bantuan Pemerintah Tetap Diberikan, Data Desil Diperbaharui Tiap 3 Bulan
Indonesia
DTSEN Terus Dimutakhirkan, BPS Pastikan Keluarga Penerima Bansos Tercatat Akurat
BPS memperkuat DTSEN untuk memperbaiki akurasi data bantuan sosial. Warga dapat mengajukan perbaikan data melalui sejumlah kanal resmi.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 23 September 2026
DTSEN Terus Dimutakhirkan, BPS Pastikan Keluarga Penerima Bansos Tercatat Akurat
Indonesia
Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Komoditas yang turut memberikan tekanan di wilayah tersebut antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan daging sapi.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Indonesia
Persyaratan Bedah Rumah Didesak Buat Disederhanakan, FokusDi Kantong Kemiskinan
Realisasi program bedah rumah memperhatikan aspek pemerataan di seluruh wilayah Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 17 September 2026
Persyaratan Bedah Rumah Didesak Buat Disederhanakan, FokusDi Kantong Kemiskinan
Indonesia
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
BPS dan Bank Dunia menggunakan sumber data yang sama, yakni Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Namun, cara pengukuran kemiskinan yang digunakan berbeda karena memiliki tujuan yang berbeda.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 11 September 2026
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Dunia Tempatkan Indonesia Jadi Negara Termiskin 2026
Klasifikasi resmi World Bank sendiri menempatkan Indonesia di kelompok negara berpenghasilan menengah-atas, bukan negara paling miskin.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 10 September 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Dunia Tempatkan Indonesia Jadi Negara Termiskin 2026
Bagikan