MerahPutih.com - Israel telah melakukan berbagai serangan mematikan ke wilayah Lebanon sejak 2 Maret. Paling tidak serangan ini telah menewaskan 1.888 orang dan melukai 6.092 lainnya.
Iran mendesak Amerika Serikat memasukan perdamaian Lebanon sebagai bagian dari perundingan dan gencatan senjata.
Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, akan menjadi tuan rumah pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon pekan depan sebagai bagian dari negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
"Kami dapat mengonfirmasi bahwa Departemen akan menjadi tuan rumah pertemuan pekan depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Israel dan Lebanon," kata pejabat tersebut, Kamis (/9/4) dikutip Anadolu.
Baca juga:
Berunding Dengan Iran, Trump Minta Isarel Kurangi Serangan ke Iran
Menurut laporan media, delegasi AS akan dipimpin oleh Duta Besar untuk Lebanon Michel Issa, dengan Israel diwakili oleh Duta Besarnya untuk Washington , Yechiel Leiter, dan Lebanon oleh Duta Besar Nada Hamadeh-Moawad.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan bahwa gagasan gencatan senjata dengan Israel, diikuti oleh negosiasi langsung, mulai mendapatkan momentum positif di tingkat internasional.
Militer Israel meningkatkan serangan udara di seluruh wilayah Lebanon sejak Rabu (8/4), yang menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai 1.150 lainnya, meskipun telah diumumkan gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran.
Sementara mediator dari Pakistan dan pihak Teheran menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, Washington, namun Tel Aviv membantah hal tersebut.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif pada Kamis malam menyebut Israel sebagai "kutukan bagi kemanusiaan" karena genosida yang mereka lakukan terus berlanjut.
"Israel adalah penjahat dan merupakan kutukan bagi kemanusiaan. Ketika perundingan perdamaian berlangsung di Islamabad, genosida masih berlanjut di Lebanon," kata Asif melalui platform X.
Rakyat sipil tak berdosa terus dibunuh oleh Israel di Gaza, kemudian Iran, dan kini Lebanon, kata dia. "Pertumpahan darah tak kunjung berhenti," ucap Menhan Pakistan itu.