Awal Februari 2026 Ini Pemerintah Tarik Rp 36 Triliun Dari 9 Surat Utang Negara
Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
MerahPutih.com - Kementerian Keuangan melansir penawaran masuk terhadap Surat Utang Negara pada awal Februari ini tercatat pada lelang kali ini mencapai Rp 76,59 triliun.
Namun, pemerintah hanya menyerap dana senilai Rp 36 triliun dari lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) pada 3 Februari 2026.
Serapan terbesar berasal dari seri FR0108 (pembukaan kembali) yang dimenangkan sebesar Rp 10,5 triliun dari penawaran masuk Rp 20,6 triliun.
Imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 6,31996 persen dengan jatuh tempo 15 April 2036.
Baca juga:
Penerbitan Surat Utang Bikin Cadangan Devisa Naik Tipis
Selanjutnya, pemerintah menyerap dana senilai Rp 6,15 triliun dari seri FR0109 (pembukaan kembali) yang menerima penawaran masuk Rp 25,4 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 5,70605 persen dengan jatuh tempo 15 Maret 2031.
Dari seri FR0106 (pembukaan kembali), pemerintah memenangkan nominal Rp 5,6 triliun dari penawaran masuk Rp 6,94 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 6,53998 persen dengan jatuh tempo 15 Agustus 2040.
Serapan berikutnya yaitu seri SPN12270204 (penerbitan baru) yang dimenangkan sebesar Rp 5 triliun dari penawaran masuk Rp 6,92 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 4,61000 persen dengan jatuh tempo 4 Februari 2027.
Kemudian, pemerintah menyerap dana senilai Rp 2,85 triliun dari seri FR0105 (pembukaan kembali) yang mencatatkan penawaran masuk Rp 3,75 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 6,78996 persen dengan jatuh tempo 15 Juli 2064.
Serapan selanjutnya adalah seri FR0102 (pembukaan kembali) yang dimenangkan sebesar Rp 2,8 triliun dari penawaran masuk Rp 3,79 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 6,74989 persen dengan jatuh tempo 15 Juli 2054.
Seri SPN01260307 (penerbitan baru) dimenangkan sebesar Rp1,55 triliun dari penawaran masuk Rp 2,66 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan 4,48000 persen dengan jatuh tempo 7 Maret 2026.
Seri FR0107 (pembukaan kembali) dimenangkan senilai Rp1,05 triliun dari penawaran masuk Rp 4,13 triliun.
Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan 6,58795 persen dengan jatuh tempo 15 Agustus 2045.
Terakhir, pemerintah menyerap dana senilai Rp500 miliar dari seri SPN12260507 (pembukaan kembali) yang mencatatkan penawaran masuk Rp 2,4 triliun.
Dengan imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 4,50000 persen dengan jatuh tempo 7 Mei 2026.
Bagikan
Alwan Ridha Ramdani
Berita Terkait
KPK Gelar OTT di Jakarta dan Lampung, Sita Uang Miliaran dan 3 Kg Emas
Awal Februari 2026 Ini Pemerintah Tarik Rp 36 Triliun Dari 9 Surat Utang Negara
Dirut BEI Mundur, Purbaya: Ini Sinyal Positif
Iuran Indonesia ke Dewan Perdamaian Gaza Ala Trump Sebagian Bakal Dari APBN
Purbaya Tegaskan Pergantian Wamenkeu Tergantu Dinamika Politik, Bisa Berubah-ubah
Purbaya Inginkan Pajak Penghasilan di Marketplace Diterapkan Saat Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
Biar Tidak Dikeluhkan, Bandwidth Coretax Bakal Diperbesar Saat Puncak Pelaporan Pajak
Sinyal Tukaran Posisi Deputi Gubernur BI Juda Agung dengan Wamenkeu Thomas Djiwandono
Deputi Gubernur BI Juda Agung Mundur, Keponakan Prabowo Mencuat Jadi Pengganti
Menkeu Purbaya Kejar Penyelundup Beras Impor di Kepulauan Riau