MerahPutih.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) diketahui sedang merancang skenario serangan darat ke Iran selama beberapa pekan, meski keputusan berada di tangan Presiden AS, Donald Trump.
Menurut laporan Washington Post, para pejabat mengatakan rencana tersebut dapat menandai "fase baru perang" yang "lebih berbahaya" bagi pasukan AS dibanding dengan yang sudah berlangsung selama empat pekan terakhir.
Operasi darat yang direncanakan itu tidak akan menjadi invasi berskala penuh, tetapi bisa mencakup penyergapan oleh personel operasi khusus dan infanteri, menurut pernyataan pejabat yang tak disebutkan namanya.
Namun, operasi semacam itu membuat personel AS terpapar ancaman dari drone dan rudal, tembakan darat, serta peledak rakitan.
"Tugas Pentagon adalah membuat persiapan agar Panglima Tertinggi mendapatkan pilihan yang paling optimal," ucap juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.
Baca juga:
Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Komisi XII DPR Desak Prabowo Lobi Iran
"Hal tersebut bukan berarti Presiden telah membuat keputusan," tambah Leavitt.
Sedangkan di antara skenario yang dibahas adalah operasi terhadap Pulau Kharg, titik ekspor minyak yang penting bagi Iran, dan operasi penyergapan di pesisir Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman pelayaran.
Para pejabat menyebutkan, bahwa misi tersebut dapat berlangsung beberapa pekan, bukan beberapa bulan. Lalu, pejabat lainnya memperkirakan operasi tersebut bisa berlangsung beberapa bulan.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa ia tidak akan mengerahkan personel ke manapun.
Baca juga:
Perang di Iran, Bikin Harga BBM di Inggris Naik 15 Persen Jadi Rp 33.800 Per Liter
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menegaskan, perang dengan Iran "tak akan menjadi perang berkepanjangan." Sebab, tujuan perang tersebut dapat dicapai tanpa pengerahan pasukan darat.
Menurut pernyataan pejabat, sebanyak 13 personel militer AS tewas dan 300 lebih lainnya terluka dalam berbagai serangan di kawasan Teluk, sejak perang terjadi pada akhir Februari 2026.
Pandangan masyarakat terhadap pengerahan pasukan darat AS ke Iran juga terbelah, dengan sebuah jajak pendapat mendapati 62 persen responden menolak serangan darat ke Iran, dan hanya 12 persen yang mendukung.
Ketegangan di kawasan Teluk mengalami eskalasi sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu, yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Baca juga:
PBB dan Amerika Serikat Minta Perundingan dengan Iran Buka Selat Hormuz
Iran pun membalas lewat serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah-wilayah di Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan balasan itu menelan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dan penerbangan global. (*)