MerahPutih.com - Presiden Donald Trump telah memerintah Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) untuk memblokade Selat Hormuz, buntut gagalnya negosiasi damai dengan Iran di Islamabad, Pakistan, kemarin.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan blokade akan mulai diberlakukan pada Senin hari ini pukul 14.00 GMT atau pukul 21.00 malam WIB.
Dalam pernyataannya di X dikutip Senin (13/4), CENTCOM mengatakan blokade diberlakukan terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Namun, CENTCOM memastikan pasukan AS tidak akan menghalangi kebebasan navigasi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran.
Baca juga:
Harga Minyak Dunia Langsung Meroket Beberapa Jam Setelah Perintah Trump Blokade Selat Hormuz
Harga Minyak Dunia Langsung Meroket
Merespon sikap AS itu, Analis energi global, Sarah Mitchell menilai langkah pemblokadean total Selat Hormuz bisa memicu krisis energi baru.
“Selat Hormuz adalah jalur vital yang mengalirkan hampir 20 persen minyak dunia. Blokade akan berdampak langsung pada pasokan global dan harga energi,” tuturnya, dilansir Antara.
Tidak butuh waktu lama imbas kebijakan Trump itu langsung terasa. harga minyak dunia langsung melonjak pada Minggu (12/4) pukul 22:01 GMT atau Senin (13/4) pukul 05.01 WIB, selang beberapa jam setelah Trump mengeluarkan perintah pemblokadean Selat Hormuz.
Data perdagangan mencatat harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 7,76 persen menjadi 102,59 dolar AS per barel (sekitar Rp 1,7 juta). Bahkan, Minyak mentah WTI berjangka Mei naik 8,2 persen menjadi 104,51 dolar AS per barel.
Baca juga:
Tawaran Final AS Ditolak Iran, Perundingan di Islamabad Berakhir Buntu
Fungsi Vital Selat Hormuz
Selat Hormuz yang berada di wilayah Iran memiliki peran vital bagi jalur pelayaran energi global. Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melewati selat ini setiap hari, menjadikannya titik krusial bagi pasokan energi global. (*)