MerahPutih.com - Usulan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengajukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi pemimipin koalisi besar pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menuai kritikan dari publik.
Kali ini, Analis Komunikasi Politik dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Silvanus Alvin menilai usulan partai yang dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep itu tidak elok, bahkan bisa menjadi blunder.
“Kalau menurut saya kurang elok di masa saat ini, karena proses Pemilu masih hangat jadi pembicaraan,” kata Alvin dalam sebuah acara diskusi daring, Sabtu,(16/3).
Baca juga:
Jokowi Diusulkan Pimpin Koalisi Besar, Gibran: Belum Ada Pembicaraan dengan Beliau
Menurutnya, saat ini Jokowi juga tengah menjadi sentral perbincangan. Alvin khawatir, isu yang digulirkan PSI justru akan memperburuk citra dari orang nomor satu di Indonesia tersebut. "Bila isu seperti ini digaungkan, khawatir dampaknya akan memperburuk citra Jokowi,” ungkapnya.
Lebih jauh Alvin juga menegaskan dirinya tak yakin, semua parpol koalisi Prabowo-Gibran bersedia menerima Jokowi sebagai pemimpin koalisi besar. “Kemudian isu ini juga perlu dilihat mendalam karena seolah menegasikan kharisma serta power dari ketua umum masing-masing partai,” imbuhnya.
Baca juga:
Airlangga Minta Jatah Golkar Minimal 5 Menteri di Kabinet Prabowo
Kalaupun tetap dipaksakan, kata Alvin, sosok Jokowi lebih layak menempati posisi sebagai dewan pertimbangan presiden ketimbang pemimpin koalisi. Hal ini berkaca dari kapasitas Jokowi sebagai negerawan.
“Bila memang kapasitas Jokowi sebagai negarawan masih dibutuhkan pasca menjadi presiden, maka bisa saja Jokowi diajak untuk menempati posisi sebagai dewan pertimbangan presiden,” tutup Alvin. (Pon)
Baca juga:
Wacana Jadikan Jokowi Ketua Koalisi Besar Diprediksi Sulit Terwujud