Abu Vulkanis Mendinginkan Suhu Bumi
Ilustrasi Ledakan Gunung Tambora pada 1815. (Foto learndo-newtonic.)
ABU vulkanis mampu terbawa angin sampai ribuan kilometer dari titik letusan. Tidak hanya berbahaya bagi kesehatan pernapasan manusia, abu vulkanis juga mengganggu kehidupan sehari-hari dan berdampak besar bagi lingkungan.
Gumpalan abu vulkanis mampu menyebar ke langit yang luas, dan mengubah siang hari menjadi gelap gulita dan mengurangi jarak pandang secara drastis. Tidak hanya itu, laman National Geographic juga menjelaskan bahwa gumpalan abul vulkanis sering disertai dengan awan besar, guntur, dan kilat.
Baca Juga:
Cara kerja petir vulkanis ini pun masih menjadi perdebatan oleh para ilmuwan. Meski begitu, banyak ahli yang berpendapat bahwa energi ledakan vulkanis mengisi partikel abunya dengan listrik. Partikel bermuatan positif akan bertemu dengan partikel bermuatan negatif baik di atmosfer yang lebih sejuk atau di puing-puing vulkanis itu sendiri. Kemudian, petir akan terjadi sebagai sarana untuk menyeimbangkan distribusi muatan ini.
Bahkan, abu vulkanis dan gas juga bisa mencapai stratosfer, yakni lapisan atas atmosfer bumi. Puing-puing vulkanis mampu memantulkan radiasi matahari dan menyerap radiasi tanah yang keluar, sehingga menyebabkan pendinginan suhu bumi.
Baca juga:
Pulau Pahawang, Snorkeling, Diving dan Bercanda Bersama Nemo
Dalam kasus ekstrem, erupsi gunung berapi juga bisa menciptakan musim dingin vulkanis atau yang dikenal juga sebagai volcanic winters. Letusan Gunung Tambora pada 10 April 1815 menjadi letusan gunung vulkanis terbesar sepanjang sejarah yang tercatat, mengeluarkan sekitar 150 km kubik puing ke udara. Letusan tratovolcano aktif yang terletak di Nusa Tenggara Barat, Indonesia itu memakan korban jiwa hampir 100 ribu orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dikutip dari Volcano Discovery, gunung Tambora menghasilkan letusan terbesar yang pernah diketahui di planet Bumi selama 10 ribu tahun terakhir.
Suhu rata-rata global menurun sebanyak 3 derajat celcius, sehingga menyebabkan cuaca ekstrem di seluruh dunia selama tiga tahun. Akibat abu vulkanis dari letusan Gunung Tambora ini, Amerika Utara dan Eropa mengalami tahun tanpa musim panas pada 1816. Tahun ini pun ditandai dengan gagal panen secara global, sumber penyakit, dan kelaparan yang mematikan. (shn)
Baca juga:
Bangkitkan Pariwisata Indonesia Bersama Gerakan Kembali Berwisata
Bagikan
annehs
Berita Terkait
68 Korban Longsor Cisarua Bandung Terindetifikasi, Tinggal 17 Jenazah Masih Diperiksa Tim DVI
Samsung Galaxy S26 Muncul di Geekbench, Kemungkinan Pakai Chipset Exynos 2600
Bocoran Terbaru OPPO Find X10: Usung Kamera Utama dan Telefoto 200MP
Bocoran Jadwal Rilis OPPO Find X9s, Find X9 Ultra, dan Find N6: Meluncur Global Tahun ini
Spesifikasi POCO X8 Pro Max Bocor, Dibekali Baterai Jumbo 8.500mAh
Bocoran OPPO Reno 16 Mulai Muncul, Dikabarkan Debut Mei 2026
Awal Februari Ini, Berbagai Daerah Dilanda Longsor, Banjir, Karhutla dan Cuaca Ekstrem
PDIP Dorong Anggaran MBG Diefisiensikan untuk Dana Darurat Bencana di Daerah
Keunggulan dan Ketahanan TITAN Durability di REDMI Note 15 Series
Banjir Bidara Cina: Ciliwung Meluap, Warga Mulai Garuk-Garuk Karena Gatal Masal