Kesehatan

5 Kelainan Genetik Anak yang Sulit Dicegah

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Minggu, 08 Januari 2023
5 Kelainan Genetik Anak yang Sulit Dicegah

Tanpa disadari terjadi mutasi gen dalam tubuh, mutasi gen inilah yang menyebabkan terjadinya kelainan genetik pada anak. (Foto: freepik/freepik)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEJUMLAH anak mengalami rare disoder atau menyandang penyakit langka. Beberapa penyakit langka tersebut ternyata merupakan turunan gen dari orang tuanya. Tanpa disadari, terjadi mutasi gen dalam tubuh mereka.

Mutasi gen inilah yang menyebabkan terjadinya kelainan genetik pada anak. Kelainan genetik merupakan kondisi terjadi perubahan sifat dan komponen di dalam gen, sehingga menimbulkan penyakit dan beberapa di antaranya dianggap langka. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mutasi baru pada DNA atau kelainan pada gen yang diwarisi orang tua.

Baca Juga:

Pentingnya Periksa Penyakit Keturunan sebelum Menikah

Kelainan genetik ini memunculkan beragam kondisi, mulai dari cacat atau kelainan fisik dan mental, hingga penyakit tertentu seperti kanker. Meski begitu, tidak semua penyakit kanker disebabkan oleh kelainan genetik.

Dilansir Alodokter, terdapat beberapa kelainan genetik yang cukup sering terjadi pada anak-anak, antara lain:

1. Buta warna

Awalnya tanpa disadari, seolah anak kita belum mengerti warna. Namun, buta warna menjadi salah satu kelainan genetik yang mungkin tidak asing. Normalnya, mata manusia memiliki tiga jenis sel kerucut yang bereaksi terhadap panjang gelombang cahaya berbeda-beda.

Buta warna menjadi salah satu kelainan genetik yang mungkin tidak asing. (Foto: freepik/freepik)

Untuk dapat melihat warna dengan baik, maka pigmen dari ketiga jenis sel kerucut tersebut harus dapat bekerja dengan baik. Jika tidak, maka akan terjadi buta warna.

Terdapat dua jenis utama buta warna, yaitu:

- Buta warna sebagian (parsial), yang membuat penderita kesulitan membedakan warna biru dan kuning saja, atau warna hijau dan merah saja.

- Buta warna total atau achromatopsia, yang membuat penderita hanya dapat melihat warna abu-abu, hitam, dan putih.

2. Penyakit sel sabit

Kelainan genetik ini penyebabnya adalah adanya kesalahan gen yang kemudian memengaruhi perkembangan sel darah merah. Sel darah merah penderita penyakit ini berbentuk tidak wajar dan menyebabkan sel darah tersebut tidak dapat hidup lama seperti sel darah sehat pada umumnya.

Penyakit sel sabit mengakibatkan anak yang lahir dengan kondisi ini mengalami anemia. Selain itu, tubuh anak rentan terhadap infeksi, dan sakit di beberapa bagian. Meski begitu, ada juga penderita yang bisa hidup normal.

3. Hemofilia

Hemofilia merupakan kelompok kelainan pada darah yang terjadi secara turun temurun. Kelainan genetik ini terjadi karena adanya kesalahan pada salah satu gen pada kromosom X yang menentukan bagaimana tubuh membuat faktor pembekuan darah.

Kondisi ini menyebabkan darah tidak dapat membeku secara normal, sehingga ketika penderitanya mengalami cedera atau luka dan perdarahan akan berlangsung lebih lama.

4. Sindrom Klinefelter

Kelainan genetik ini hanya terjadi pada anak laki-laki. Penderita sindrom Klinefelter memiliki gejala berupa bentuk penis dan testis yang kecil, rambut hanya tumbuh sedikit di tubuh, memiliki payudara yang besar, badan tinggi, dan berbentuk kurang proporsional. Ciri khas lain pada kelainan genetik ini adalah kurangnya hormon testosteron dan infertilitas.

Baca Juga:

Telisik Fakta Down Syndrome

5. Sindrom Down (Down syndrome)

Sindrom Down terjadi karena adanya materi genetik yang berlebih pada anak, sehingga menyebabkan keterlambatan perkembangan anak secara fisik dan mental.

Tes NIPT (Noninvasive Prenatal Testing) merupakan langkah awal untuk mengantisipasi adanya kelainan genetik bawaan sebelum janin dilahirkan. (Foto: freepik/dcstudio)

Normalnya, seseorang mendapatkan 23 kromosom dari ayah dan 23 kromosom dari ibu dengan total 46 kromosom. Pada sindrom Down, terjadi kelainan genetik yang membuat kromosom 21 bertambah, sehingga total kromosom didapat oleh anak adalah 47 kromosom.

Namun kini, kondisi ini tidak dapat dicegah karena merupakan kelainan genetik yang sudah dapat dideteksi lebih awal sebelum anak lahir. Kondisi anak dengan sindrom Down dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sebagian anak dapat hidup dengan cukup sehat, sedangkan sebagian lagi memiliki masalah kesehatan, seperti kelainan jantung atau kelainan otot.

Selain itu, sindrom Harlequin Ichthyosis, Treacher Collins, sindrom Jacob, sindrom Edward, sindrom Angelman, alkaptonuria, sindrom Ehlers-Danlos, penyakit Kennedy, dan sindrom Crigler-Najjar, juga merupakan kelainan genetik yang sulit dihindari.

Sebagian besar kondisi medis yang disebabkan oleh kelainan genetik tidak dapat dicegah. Namun, ada yang bisa terdeteksi sejak di dalam kandungan melalui pemeriksaan kromosom.

Salah satu metode pemeriksaannya adalah NIPT. NIPT atau Noninvasive prenatal testing adalah pemeriksaan untuk memprediksi kelainan kromosom pada janin.

Tes NIPT ini merupakan langkah untuk mengantisipasi adanya kelainan genetik bawaan sebelum janin dilahirkan. Sehingga, orang tua dapat mengantisipasi perawatan medis yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup anak tersebut setelah lahir.

Nah, sangat penting bagi ibu hamil untuk rutin memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan untuk dapat mendeteksi dini kelainan genetik pada janinnya. Mengantisipasi dini lebih baik daripada terlambat. (dgs)

Baca Juga:

Gucci Beauty Gandeng Model Down Syndrom untuk Kampanye Kecantikan

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Bagikan