MerahPutih.com – Suasana mendung di pagi Idul Fitri tidak mengurangi semangat masyarakat Kota Jambi Seberang melaksanakan Salat Id di Masjid Jami Ba’alawi, Kelurahan Arab Melayu. Usai ibadah, masyarakat melanjutkan dengan silaturahmi dan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan turun-temurun: “Injak Bumi”.
Tradisi ini khusus diperuntukkan bagi bayi yang sedang belajar berjalan. Setelah Salat Id, para orang tua menyerahkan buah hati mereka kepada tokoh agama untuk dimintakan doa restu.
Dalam tradisi iti, bayi-bayi diusap tubuh dan kepalanya, diturunkan ke tanah sebagai simbol pertama kali “menyentuh bumi”, lalu dikembalikan ke pelukan orang tua.
Baca juga:
Tradisi Ziarah Kubur di Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Umat Muslim Kenang Handai Taulan
Doa Harapan Orang Tua
Seusai prosesi, orang tua menaburkan bunga dan uang logam ke udara, yang segera disambut riang oleh anak-anak sekitar.
“Sejak nenek moyang saya tinggal di sini, tradisi injak bumi sudah ada. Bahkan saya sendiri pernah melalui tahapan ini, dan kini giliran anak saya,” tutur Abu Umar, warga Arab Melayu sekaligus ayah dari salah satu bayi peserta, kepada media, Sabtu (21/3)
Bagi Umar, doa para tokoh agama diharapkan menjadi bekal anaknya tumbuh sehat dan berakidah kuat. "Melalui keikhlasan doa yang diucapkan, kami ingin anak-anak di sini menjadi pribadi yang berguna bagi keluarga dan lingkungan," imbuhnya.
Baca juga:
Dimensi Spiritual dan Budaya
Tokoh agama setempat, Abdulah Hamid, menjelaskan tradisi injak bumi adalah bentuk penghormatan terhadap bumi yang baru dipijak, sekaligus sarana mengambil berkah.
Doa yang dibacakan memohon perlindungan Allah dari gangguan gaib:
“A’udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq.”
“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissama’i wahuwas sami’ul ‘alim.”
Hamid menegaskan, adat ini dijaga sebagai bagian dari syiar Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal. "Intinya hanya itu, kita berusaha menjauhkan diri dari gangguan-gangguan gaib," ujarnya, dilansir Antara.
Baca juga:
Pesan Idul Fitri Prabowo: Mari Bangun Indonesia Lebih Adil Sejahtera
Sementara itu, Khatib Masjid Jami Ba’alawi, Majdi Hasan Musa, mengingatkan masyarakat Melayu Jambi agar tidak hanya mewarisi tanah, tetapi juga tuntunan.
Dia menekankan kekuatan keluarga Melayu terletak pada paduan agama, adat, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama. “Jangan sampai kita membangun rumah megah, tetapi justru merobohkan akhlak. Ajarkan adab sebelum ilmu, tanamkan rasa malu sebelum bangga,” tandasnya. (*)