MerahPutih.com - Kisah Quasimodo kembali diangkat ke layar lebar melalui pendekatan berbeda dalam film The Hunchback, Soul of Paris. Film ini dijadwalkan tayang di platform streaming Netflix.
Berbeda dari adaptasi animasi Disney yang identik dengan dongeng klasik, film terbaru ini mengusung perpaduan drama sejarah, aksi, dan thriller. Berlatar Paris pada 1830, film garapan sutradara Jean-François Richet tersebut memiliki durasi 1 jam 43 menit.
Cerita berpusat pada Quasimodo, seorang pemahat batu bertubuh bungkuk yang kerap dianggap sebagai monster oleh masyarakat. Namun, di tengah wabah kolera yang mengancam kehidupan warga Paris, ia justru diduga memiliki peran penting dalam menemukan obat untuk penyakit mematikan tersebut.
Dugaan itu membuat Quasimodo menjadi buruan polisi. Situasi semakin rumit ketika ia harus melindungi Agnès, seorang penari yang dicintainya, sekaligus menghadapi ancaman dari pihak-pihak yang ingin memanfaatkan dirinya.
Baca juga:
Keanu Reeves Gantikan Alan Ritchson di Film Aksi Netflix 'Maelstrom', Intip Sinopsisnya
Quasimodo Terjebak dalam Perburuan dan Gejolak Revolusi
Trailer terbaru The Hunchback, Soul of Paris memperlihatkan kehidupan Quasimodo yang berubah menjadi penuh ancaman. Ia berada dalam posisi dilematis ketika harus memilih antara melindungi perempuan yang dicintainya dan menyelamatkan diri dari kejaran kepolisian.
Di saat bersamaan, Paris tengah menghadapi gejolak politik menjelang Revolusi Juli 1830. Situasi tersebut membuat Quasimodo terseret ke dalam konflik yang jauh lebih besar dari persoalan pribadinya.
Romansa, perburuan, dan pergolakan politik menjadi bagian yang saling berkaitan dalam perjalanan hidup Quasimodo. Sosok yang sebelumnya berusaha menghindari konflik justru harus menghadapi berbagai ancaman sekaligus.
Terinspirasi Teori Sejarah tentang Sosok Quasimodo
Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Jean-François Richet menjelaskan bahwa naskah film ini terinspirasi oleh teori Adrian Glew, seorang arsiparis asal Inggris.
Teori tersebut menyebutkan bahwa karakter Quasimodo dalam novel karya Victor Hugo kemungkinan terinspirasi oleh seorang pemahat batu sungguhan yang pernah ditemui sang penulis.
Meski mengambil inspirasi dari teori tersebut, Richet menegaskan bahwa film ini tidak dibuat berdasarkan kisah nyata secara langsung.
“Kami memulai dari premis yang kredibel, bukan dari kisah nyata,” jelas Richet.
Film The Hunchback, Soul of Paris mengambil latar menjelang Revolusi Juli 1830 di Prancis. Dalam ceritanya, Quasimodo diburu oleh Direktur Keamanan dan seorang dokter yang ingin melakukan eksperimen terhadap dirinya demi menemukan obat kolera.
Perburuan tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan utama. Di tengah wabah dan kekacauan Paris, Quasimodo bukan hanya berjuang mempertahankan hidup, tetapi juga menghadapi pihak-pihak yang memandang kondisi fisiknya sebagai objek penelitian.
Baca juga:
Netflix Rilis Trailer 'Serangan Balik', Lukman Sardi Adu Aksi di 12 November
Angkat Isu Ketimpangan Sosial dan Eksperimen Medis
Richet menjanjikan bahwa film ini tidak hanya mengandalkan aksi dan adegan kejar-kejaran. The Hunchback, Soul of Paris juga mengeksplorasi persoalan sosial, hubungan antara rakyat dan kaum elite, hingga etika dalam dunia kedokteran.
Sutradara tersebut menyebut sejumlah tema yang menjadi landasan cerita film, mulai dari perjuangan kelas hingga cara masyarakat memandang keindahan dan keburukan.
Film ini berbicara tentang perjuangan kelas, rakyat, kaum elite, kedokteran, keindahan, dan keindahan dari keburukan,
Sutradara The Hunchback Soul of Paris, Jean-François Richet.
Salah satu persoalan yang turut disorot adalah praktik eksperimen medis terhadap manusia, termasuk anak-anak, demi menemukan vaksin. Menurut Richet, aspek tersebut memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan ilmu kedokteran. (Tka)