MerahPutih.com - Kedua kandidat Carpres dinilai menunjukkan ciri khas masing-masing dalam Debat Pilres keempat Sabtu lalu. Sang penantang nomor urut 02 Prabowo Subianto menunjukkan sikap keras dan tegas, sebaliknya petahana Joko Widodo (Jokowi) tampil kalem.
"Tidak ada di situ senyum-senyum dan cengengesan, Prabowo ingin mengesankan kepemimpinan strong leadership itu tidak bisa main-main karena ini harga mati dalam sebuah negara dalam rangka menjaga kedaulatan negara,” kata Pengamat politik Universitas Islam Negeri Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago, terkait kesan yang ditampilkan Prabowo saat debat, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (1/4).
Menurut Pangi, duet Sandiaga Uno itu langsung tampil agresif dengan mematahkan tudingan dirinya akan mendirikan khilafah jika menang Pilpres. Bahkan, lanjut dia, Prabowo sampai mengumbar terbuka latar belakang keyakinan keluarganya untuk menepis tudingan yang sangat dangkal itu.
"Prabowo kan mengatakan bahwa saya ini lahir dari keluarga Nasrani, itu kan dia udah kesal betul 'bagaimana kemudian saya dituduh anti pancasila, saya ini prajurit saya bersumpah. Saya ini patriot yang berani mati demi bangsa dan negara' dengan klarifikasi itu sebetulnya tuduhan itu sudah terjawab dan sudah selesai,” kata Direktur Voxpol Institute itu, mengutip ucapan Prabowo.
Namun, Pangi mengkritisi kebijakan luar negeri Jokowi terutama dalam mediasi konflik Myanmar yang dianggap gagal menghentikan genosida dan pelanggaran HAM di sana. Menurut dia, Prabowo seharusnya bisa mengkritik kenapa Jokowi tidak bisa memaksilkan posisi penting Indonesia di PBB atau ajang internasional seperti momen pertemuan G-20 untuk memperjuangkan muslim Rohingya.
“Harusnya Jokowi menggunakan panggung tersebut dengan baik dengan menyetarakan diri kita dengan negara lain, seperti yang dilakukan oleh Bung Karno bertemu dengan AS dan Rusia dan lain-lain,” kritik Pangi.
Sementara itu, Rektor Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar mengapresi respons akhir Prabowo yang menyiratkan pesan Indonesia harus kuat jika ingin disegani serta berdikari, baik dalam bidang politik dan ekonomi. "Bangsa Indonesia harus kuat, berdikari, tidak impor, bebas dari kemiskinan dihormati dan dihargai bangsa lain,” tutup dia. (*)