Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Terjangkit Hog Cholera, 27 Ribu Lebih Babi Mati di Sumut

Zulfikar Sy - Sabtu, 14 Desember 2019

MerahPutih.com - Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumatera Utara mencatat sebanyak 27.070 ekor babi di Sumatera Utara mati akibat virus hog cholera atau kolera babi, hingga Jumat (13/12).

"Kematiannya terjadi sangat cepat. Dalam satu hari angka kematian yang terlapor rata-rata 1000-2000 ekor per hari. Ini data yang kita terima dari DKPP," kata Kepala Balai Veteriner Medan Agustia, Jumat, dikutip Antara.

Baca Juga:

Ciu dan Babi Cemari Bengawan Solo, Kapolda Masih Cari Solusi

Angka 27.070 babi yang mati tersebut menyebar di 16 Kabupaten yakni di Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Tebing Tinggi, Siantar dan Langkat.

Bangkai babi ditemukan Danau Siombak, Kota Medan. ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus
Bangkai babi ditemukan Danau Siombak, Kota Medan. ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus

Pihaknya yakin masih ada warga yang tidak melaporkan kematian babinya karena faktor jarak atau lokasi dan menguburnya secara swadaya.

"16 kabupaten/kota itu memang kantong ternak babi atau populasi babi di Sumut," katanya.

Baca Juga:

Gerindra dan Demokrat Desak Pemprov DKI Tutup Rumah Potong Babi di Kapuk

Angka kematian itu sudah dilaporkan ke Direktur Kesehatan Hewan dan Dirjen Peternakan setelah dilakukan analisis menyeluruh dari beberapa komponen, yakni hasil uji lab terdapat reaksi terhadap Afrikan Swine Fever (ASF).

Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Pinang, memeriksa barang bawaan penumpang di Pelabuhan Internasional Bandar Seri Udana Lobam, Bintan, Kepri, untuk mencegah masuk dan tersebarnya virus demam babi Afrika atau ASF. (Foto. Istimewa)
Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Pinang, memeriksa barang bawaan penumpang di Pelabuhan Internasional Bandar Seri Udana Lobam, Bintan, Kepri, untuk mencegah masuk dan tersebarnya virus demam babi Afrika atau ASF. (Foto. Istimewa)


Kemudian kajian secara epidemologi, terkait dengan mulai kapan terjadi, berapa yang mati dan sakit, dan terkait pola dan penyebarannya.

"Untuk menyatakan apakah kematian babi di Sumut diakibatkan ASF, keputusannya ada di Jakarta. Declare atas penyebab kematian babi di Sumut dampaknya besar dan tidak bisa dilakukan secara serta merta dikeluarkan," ujarnya. (Knu)

Baca Juga:

Rektor UIN Sumut: Radikal Ada di Semua Lini

Baca Artikel Asli