Soy Kongo Rilis EP 'Sekap', Kritik Pembangunan dan Lanskap Kesadaran Lewat Gelapnya Darkwave
Rabu, 07 Januari 2026 -
MerahPutih.com - Unit darkwave/post-punk asal Samarinda, Kalimantan Timur, Soy Kongo, resmi merilis mini album (EP) bertajuk Sekap. Karya ini menjadi ruang eksplorasi kritis yang menyoroti relasi antara pembangunan, lingkungan, dan kesadaran manusia.
Judul Sekap berangkat dari penggalan kata '-scape', istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan bentang lingkungan secara luas dan utuh, mencakup karakter, pola, hingga nuansa suatu lanskap.
Di saat yang sama, kata 'sekap' juga dimaknai secara personal dan psikologis. Soy Kongo memandang pembangunan bukan sekadar mengubah ruang fisik, tetapi juga berpotensi mengurung bentang pikiran manusia—mulai dari ingatan, imajinasi, hingga identitas.
Kondisi tersebut perlahan membatasi kemampuan manusia untuk membayangkan kemungkinan lain, bahkan sekadar mengenang lingkungan yang pernah ada. Dampaknya, terjadi pergeseran nilai dan ketumpulan persepsi kritis secara kolektif.
Baca juga:
Portura Debut di Bandung, Kolaborasi Spesial di Lintas Resonan
Jo Soegono Rilis Album Debut 'Prof Jo', Suguhkan Kisah Hangat dan Jujur dalam 9 Lagu
Idgitaf Buka 2026 dengan 'Rutinitas', Lagu Jujur tentang Awal yang Tak Selalu Bahagia
Soy Kongo digawangi oleh lima seniman asal Samarinda, yakni Sabrina, Ule, Ruvi, Delly, dan Dery. Mereka dikenal lewat kecenderungan menghadirkan melodi yang menghantui serta atmosfer suara yang pekat dan gelap.
Dalam proses kreatifnya, Soy Kongo menyerap beragam pengaruh, mulai dari goth rock, darkwave/post-punk, hingga industrial, yang kemudian diramu menjadi lanskap bunyi muram dan intens.
Di balik karya-karyanya, dinamika Soy Kongo juga tak lepas dari konflik internal dan disfungsi relasi yang kerap mewarnai perjalanan mereka sebagai unit musik. Ketegangan tersebut justru kerap merembes ke dalam musik serta cara mereka menghadirkan diri di hadapan publik.
Meski relasi antarpersonel kerap bergejolak, Soy Kongo tetap berupaya membangun pengalaman musikal yang memikat sekaligus mengusik, menghadirkan rasa tidak nyaman yang disengaja sebagai bagian dari narasi artistik mereka. (Far)