Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Sosiolog UI: Kedua Capres Tidak Jualan Wacana Baru

Wisnu Cipto - Jumat, 01 Maret 2019

MerahPutih.com - Gaya kampanye kedua pasangan Capres-Cawapres Pilpres 2019 dinilai tidak menawarkan hal baru kepada masyarakat dalam sudut pandang sosiologi sosial. Capres Nomor Urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan 02 Prabowo Subianto hanya mengulang-ulang gaya kampanye 2014.

"Tidak ada yang berubah, kedua Capres tidak jualan wacana baru," kata Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Yosef Hilarius Timu Pera, saat dihubungi MerahPutih.com, Jakarta, Kamis (28/2).

Menurut dia, masyarakat dapat melihat paslon nomor urut 02 kembali mengangkat jargon nasionalisme dan politik identitas yang sama ketika dulu dikalahkan Jokowi.

Akibatnya, lanjut dia, hadirnya Cawapres Sandiaga Uno dinilai hanya menawarkan sosok orang muda, tapi tanpa ada perubahan pola strategi.

"Hanya mengandalkan jargon-jargon lama. Isu nasionalis lagi, main politik identitas lagi. Tidak ada isu baru yang mencerdaskan," tutur Sekretaris Departemen Sosiologi FISIP UI yang akrab disapa Yerus itu.

Kritik yang sama juga dilayangkan kepada Jokowi yang mengusung Ma'ruf Amin. Menurut Yerus, petahana kembali mengumbar janji-janji pembangunan infrastruktur yang terbukti sukses membawanya menduduki kursi RI-1 di 2014.

jokowi
Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto. (Foto: Biro Pers Setpres)

Diakui Yerus, Paslon 01 sebagai petahana memang diuntungkan dengan hasil pembangunan 4 tahun terakhir yang bisa diklaim sebagai bukti keberhasilan pemerintah Jokowi dalam kampanye ataupun saat debat capres.

"Tapi intinya sama hanya mengulang pertarungan lama 5 tahun lalu, cuma plus pamer prestasi pembangunan era Jokowi," ungkap dosen FISIP UI itu.

Namun, Yerus mencatat satu perbedaan penting dalam konstelasi pilpres kali ini dari kedua kubu yang patut diacungi jempol. Menurut dia, tidak ada upaya masif menghembuskan isu Suku, Agama dan Ras (SARA) untuk memecah-belah masyarakat dalam gaya kampanye kedua pasangan yang bersaing, atau pun dari tim sukses mereka.

Yerus memaparkan model kampanye politik identitas yang mengangkat isu SARA itu begitu terasa saat Pilpres 2014. Puncaknya, lanjut dia, terjadi saat Pilkada DKI 2017 ketika masyarakat benar-benar terbelah menjadi dua kubu yang saling berseberangan.

"Satu yang positif, Pilpres kali ini tidak ada isu ke mana-mana yang memecah-belah bangsa," tutup Yerus. (*)

Baca Artikel Asli