Merahputih.com - Menjelang pengumuman Ballon d'Or 2026, banyak pencinta sepak bola penasaran mengenai siapa sebenarnya pemenang Ballon d'Or pertama dalam sejarah Ballon d'Or.
Gelar prestisius edisi perdana pada tahun 1956 tersebut ternyata jatuh ke tangan Stanley Matthews, seorang legenda sepak bola Inggris yang secara luar biasa memenangkannya di usia 41 tahun.
Pencapaian epik ini menjadikannya peraih Ballon d'Or tertua yang rekornya nyaris mustahil dipecahkan oleh deretan pesepakbola top di era modern sekalipun.
Baca juga:
Link Streaming Gratis dan Jadwal Ballon d'Or 2026: Siapa Sanggup Jegal Lamine Yamal?
Tahun lalu, Ousmane Dembele sukses membawa pulang penghargaan sepak bola paling bergengsi dari majalah France Football ini.
Namun, sebelum kita sibuk berdebat soal peluang para nominator kuat Ballon d'Or 2026 seperti Lamine Yamal, Erling Haaland, Jude Bellingham, Kylian Mbappe, hingga Lionel Messi, mari kita flashback sejenak ke titik nol.
Trofi emas ini menyimpan cerita gila dari seorang Stanley Matthews yang membuktikan bahwa umur benar-benar sekadar deretan angka di atas lapangan hijau.
Siapa Stanley Matthews? Penakluk Di Stéfano di Edisi Perdana
Momen puncak Matthews terjadi pada penganugerahan Ballon d'Or 1956. Di usianya yang sudah hampir setengah abad, masa di mana pemain pro biasanya sudah pensiun, ia justru keluar sebagai juara.
Ia tidak sekadar menang melawan pemain biasa. Matthews sukses mengalahkan dua finalis raksasa pada masanya, yakni Alfredo Di Stéfano dan Raymond Kopa.
Bukti sahih bahwa kualitasnya tak pernah luntur oleh waktu juga terlihat dari dua gelar FWA Footballer of the Year yang direngkuhnya pada 1948 dan 1963, menandakan betapa konsisten performanya dari pertengahan hingga akhir karier.

Dari Ring Tinju ke Lapangan Hijau: Rahasia Kelincahan Sang Legenda
Lahir pada 1 Februari 1915 di Hanley, Inggris, Matthews adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Menariknya, darah olahragawan mengalir dari sang ayah yang merupakan seorang petinju lokal.
Keseimbangan tubuh dan cara saya bertumpu di atas lapangan hijau merupakan hasil dari latihan keras gaya bertinju yang ditanamkan ayah sejak saya masih kecil,
ungkap Matthews dalam berbagai catatan sejarah.
Latihan fisik ala petarung inilah yang pada akhirnya membentuk fondasi teknik dribel Matthews menjadi sangat mematikan dan sulit ditebak oleh bek lawan.
Karier Panjang Melintasi Era Perang Dunia
Ketahanan fisik Matthews membawanya melewati berbagai fase sejarah persepakbolaan Eropa, termasuk saat kompetisi harus terhenti akibat Perang Dunia.
Berikut adalah timeline singkat perjalanan karier sang legenda:
-
Era Awal & Pra-Perang: Membangun nama dan reputasinya bersama Stoke City.
-
Masa Perang Dunia: Tetap menjaga kondisi fisik dan bermain untuk Stoke City pasca-konflik global mereda.
-
Era Keemasan Baru (1947): Mengambil langkah berani dengan hengkang ke Blackpool, klub yang akhirnya mengantarkannya meraih trofi Ballon d'Or pertama di dunia.
Kisah Stanley Matthews menjadi pengingat abadi bahwa dedikasi, kedisiplinan, dan etos kerja keras mampu menembus batasan usia dalam level kompetisi tertinggi.
Sambil menantikan siapa yang akan mengangkat trofi di gala Ballon d'Or 2026 nanti, warisan sang kakek ajaib akan terus abadi di buku sejarah sepak bola.