Sesajen Album Kompilasi Mistisme Indonesia 'GUNAGUNA' Persembahan Abadi Records
Selasa, 14 Januari 2025 -
MerahPutih.com - Haydr Suhardy masih mengingat sebuah celetukan dari temannya yang bekerja di Abadi Records pada awal 2024 mengatakan, “Tahun ini ngapain ya? gimana kalau bikin lagu?,” ucap teman tersebut.
Dari sekadar celetukan ‘tongkrongan’ anak-anak Abadi Records yang juga Berprofesi sampingan sebagai selektor analog tersebut berhasil menghadirkan kompilasi album melodi atmosferik mistis bertajuk GUNAGUNA pada awal November 2024 silam.
Sebuah kompilasi yang mengusung musik elektronik house koheren dengan bunyi instrument tradisional serta beberapa sampel ‘jampe-jampe’ yang diambil dari film atau lagu bernuansa horror era 70 dan 80an Indonesia.
“Ide awalnya itu cuma mau bikin musik elektronik house, tapi apa nih yang bikin beda. Akhirnya kita pakai identitas Indonesianya. Akhirnya kita ambil sesuatu yang ‘mistis’ jadi lebih ke arah difrensiasinya sih mistis 70 sama 80an dan itu asalnya dari apa yang kita tonton,” jelas Haydr kepada MerahPutih.com di salah satu kedai kopi kawasan Pamulang, Sabtu (11/1).
Baca juga:
Eks Vokalis Utopia Pia Fellini Lakukan Proyek Solo, Lepas Single 'Karena Aku Berharga'
Kompilasi album ini merupakan persembahan dari Abadi Records menyajikan aura mistis Indonesia dalam enam trek di dalamnya. Setiap trek memiliki gaya progresif lewat elemen tradisional dan sentuhan etnik dalam komposisi yang tersaji.
Para peracik ‘musik’ di dalamnya di antaranya Munis, LMS, Haydr, Satta Fire, Herta dan Aldous. Hasil kolaborasi ini dimastering oleh Wouter Brandenburg, serta dibantu distribusi di Indonesia dari LaMunai Records.
Lebih lanjut, Haydr yang menjadi salah satu kolaborasi di album ini, menceritakan sedikit unsur yang dimasukan dalam trek berjudul ‘Kabut’ yang ia ciptakan untuk kompilasi ini.
“Gue tuh ambil sampel dari lagunya Bimbo yang berjudul ‘Pelet Kabayan’, tapi ada juga yang mengambil sampel dari film horor. Jadi enggak selalu hanya sampel lagu yang diambil, yang pasti memiliki benang merah mistis untuk melengkapi album ini,” lanjut pria lulusan Sejarah dari Universitas Indonesia ini.
Dengan penggarapan yang memakan waktu hingga satu sampai dua bulan per lagu, Haydr dan teman-teman Abadi Records membuktikan perpaduan unsur etnik dan modern yang diwakilkan oleh budaya mistis serta musik house elektronik terdengar begitu relevan tanpa terbatas pada genre tertentu.
Baca juga:
Logamulia Hadirkan Album 'Distrorsi Narasi' dalam Format Cakram Padat
Kemudian untuk distribusi sendiri, Abadi Records dibantu oleh The Pusher Distribution untuk jalur luar negeri agar bisa didengarkan oleh pendengar di mancanegara.
“Memang ketika buat ini, pasar yang ingin dikenalkan itu ke mancanegara. Jadi porsi jumlah yang disebar lebih banyak, karena lebih ingin memperkenalkan musik khas Indonesia ke mereka,” tambahnya.
Namun ekspetasi yang dipikirkan oleh Haydr tentang pasar lokal ternyata mengejutkan. Ia tak menyangka antusiasme yang muncul saat memasarkan album ‘GUNAGUNA’ ke media sosial dan mulai dihadirkan lewat digital streaming platform (DSP).
“Kalau sekarang sepertinya mau enggak mau harus ada di DSP, kalau kita sih keperluannya memperluas pendengar. Dan kagetnya ternyata ada juga yang mendengarkan,” tuturnya.
Baca juga:
Jaz Rowe Angkat Sudut Pandang Berbeda dari LDR Lewat Single Perdana 'Tak Biasa'
Tak hanya album kompilasi ‘GUNAGUNA’ saja yang diminati, bila menarik lebih luas, pasar peminat rilisan fisik piringan hitam melonjak setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari perkembangan record store di Indonesia, serta mulai banyaknya musisi lokal mulai merilis karyanya dalam bentuk fisik piringan hitam.
“Gue pun pribadi enggak menyangka perkebangan peminat piringan hitam itu bertumbuh setiap tahunnya. Bahkan banyak dari mereka yang rela mengocek kantungnya untuk bisa membeli rilisan fisik yang bisa dibilang memiloiki harga yang lumayan. Semoga saja ke depannya akan terus bertambah,” pungkas Haydr. (far)