Sedekah Abug Tradisi Betawi yang Mulai Hilang
Selasa, 07 Juni 2016 -
MerahPutih Budaya - Seperti daerah-daerah lainnya di nusantara, Ibu Kota Jakarta pun memiliki tradisi unik saat masyarakatnya menjalani puasa di bulan suci Ramadan. Salah satunya adalah sedekah abug atau likur-likur.
Tradisi sedekah abug atau likur-likur ini biasanya dilakukan pada hari ke-23, 25, dan 27 bulan Ramadan. Biasanya dilakukan di masjid, musala atau rumah orang yang dituakan.
"Kalau jaman sekarang sih yang deket masjid ke masjid, kalau deket musala ya ke musala. Tapi kalau dulu karena musala sama masjid jarang, ya paling di rumah yang paling tua, kalau dia mau ketempatan kalau enggak ya cari lagi," ucap Samin Jebul (86), warga perkampungan Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (7/6).
Khusus warga perkampungan Betawi Setu Babakan, dulunya pada malam sedekah abug atau likur-likur para warga sengaja memasang obor di setiap sumur. Selain itu, Setu Babakan yang dulunya hanya memiliki lebar 80 meter juga dikelilingi oleh obor yang menyala.
"Jaman dulu di tempat mandi apalagi deket Setu itu dipasangin obor. Pas malem likur-likuran itu," ujarnya kepada merahputih.com.
Samin menjelaskan, sedekah abug atau likur-likur ini adalah kegiatan yang diharapkan bisa mendapat rida Ilahi pada bulan suci Ramadan.
Namun seiring berjalannya waktu, tradisi sedekah abug atau likur-likur ini semakin menghilang. Banyak orang yang malas melakukan kegiatan tahunan ini dengan berbagai alasan.
"Selametan sedekah abug atau sedekah likuran kalau sekarang paling 10 persen. Orang sekarang kebanyakan enggak mau repot, apalah alesannya banyak. Jaman dulu mah tiap waktu ada," pungkas Samin. (Yni)
BACA JUGA: