Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Rupiah Makin Lemah, Biaya Produksi Makin Bengkak

Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 19 Mei 2026

MerahPutih.com - Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (19/5) melemah 38 poin atau 0,22 persen jadi Rp 17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.668 per dolar AS. Pelemahan rupiah seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar AS per barel.

Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) akan diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dollar,

ujarnya di Jakarta, Jakarta, Selasa (19/5).

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia diperkirakan akan memutuskan kenaikan suku bunga acuan 25 basis points (bps) menjadi 5 persen.

Pelemahan rupiah ini, dengan asumsi kurs di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara Rp 16.500 maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi.

Baca juga:

Dasco, Danantara dan OJK Cek IHSG dan Nilai Tukar Rupiah di BEI

Pelemahan rupiah selain karena kebutuhan dolar musiman, saat ini juga dipengaruhi oleh minat pelaku pasar asing yang menurun terhadap obligasi pemerintah sejalan dengan selisih yield yang menipis dibanding dengan obligasi pemerintah AS.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industri dapat mulai mencari dan bermitra dengan pemasok lokal sebagai alternatif pengganti (substitusi) bahan baku impor untuk menghadapi dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Adapun sentimen lainnya berasal dari tren kenaikan ekspektasi inflasi dan yield obligasi pemerintah AS yang masih terus berlanjut.

Kenaikan ekspektasi inflasi AS ini meningkatkan tingkat imbal hasil atau yield obligasi AS. Tercatat, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 2 tahun di 4,105 persen, 10 tahun di 4,631 persen, dan 30 tahun di 5,159 persen. Peningkatan ini menjadi level tertinggi baru untuk tahun 2026.

Pelemahan nilai rupiah akan berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama bagi industri yang masih bergantung pada produk atau bahan baku impor seperti industri kimia hingga farmasi. (*)

Baca Artikel Asli