MERAHPUTIH.COM - CAGUB Jakarta Ridwan Kamil (RK) mengisi salah satu sesi dalam program pelatihan di Golkar Institute yang bertajuk Executive Education Program for Young Political Leaders, Batch-17, pada Jumat (6/12).
Dalam kelas tersebut, RK membagikan pengalaman serta berbagai pencapaiannya, mulai sebelum masuk dunia politik sampai berkiprah sebagai Wali Kota Bandung, Gubernur Jawa Barat, dan menyudahi tugasnya.
Dalam paparannya, Ridwan Kamil menyampaikan setiap individu ialah pemimpin, minimal pemimpin untuk diri sendiri. Dengan begitu, tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin terlaksana dengan baik, tetap berada pada track yang semestinya dan tidak melanggar aturan dalam situasi apa pun. Dengan begitu, individu-individu tersebut bisa naik kelas menjadi pemimpin di keluarga atau masyarakat.
Kepada para peserta kelas di Golkar Institute, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Ridwan Kamil memberi sampel kerja-kerja terbaik yang pernah ia lakukan selama memimpin masyarakat. Salah satunya ialah keberhasilan Pemerintah Daerah Jawa Barat menihilkan desa miskin dalam satu periode kepemimpinannya. Dari total lebih kurang seribu desa miskin menjadi nol desa miskin di Jawa Barat.
Baca juga:
Ridwan Kamil Bicara Peluang Pilkada Jakarta Lanjut ke Putaran Kedua
"Waktu saya jadi gubernur 2018, desa miskin di Jawa Barat itu ada seribuan. Dari seribu desa tertinggal dan sangat tertinggal di Jawa Barat menjadi nol. That’s my best achievement, yang saya banggakan dan saya bawa sampai hari ini," ungkapnya.
Indonesia, lanjut Ridwan Kamil, akan mencapai momentum puncaknya pada 2045 mendatang. Dengan jumlah penduduk berusia produktif sebanyak 70 persen, dia menyatakan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia. Indonesia bahkan diprediksi bisa menembus empat besar ekonomi dunia. Cita-cita besar itu, harus dipupuk dari saat ini.
"Kalau bisa jaga momentumnya, kita bisa peringkat empat dunia. Syaratnya, satu jangan bertengkar. Karena satu-satunya negara di 2045 yang 70 persen penduduknya itu usia muda hanya Indonesia. Jadi, it's now or never. Tinggal bagaimana angka 70 persen itu bertakdir menjadi mesin negara atau bertakdir menjadi beban negara," terangnya.(asp)
Baca juga:
RIdwan Kamil Tawarkan Cara Khusus Tangani Stres Warga Jakarta