Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Pria Misoginis Cenderung Merasa tak Romantis

Dwi Astarini - Selasa, 10 Agustus 2021

APA pendapatmu tentang perempuan yang memprioritaskan kariernya daripada menjadi ibu rumah tangga atau membesarkan anak? Atau perempuan sebagai pekerja konstruksi, pemadam kebakaran, pilot, atau pengusaha, bukan sekretaris, ahli kecantikan, atau pramugari?

Kalau kamu memiliki skor tinggi dalam seksisme permusuhan atau hostile sexism, mungkin yang ada pikiranmu perempuan seperti itulah yang mencoba mengambil alih kekuasaan laki-laki atau mengendalikan pria. Kamu mungkin bermusuhan atau bahkan menunjukkan agresi terhadap para perempuan semacam itu dengan menolak, mengancam, atau menghukum mereka yang berani menentang peran gender tradisional.

BACA JUGA:

Ketika Stres dan Cemas, Orang Cenderung Memilih Tontonan yang Sudah Pernah Disaksikan Sebelumnya

Tentu saja, permusuhan terang-terangan seperti itu bukan satu-satunya bentuk seksisme. Ada jenis seksisme yang terkait, tetapi kurang jelas yang disebut seksisme bijak atau benevolent sexism. Sebuah makalah yang baru-baru ini diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin menunjukkan hubungan antara hostile sexism dan benevolent sexism pada pria dimoderatori nilai pasangan dan status hubungan.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut, kamu pahami dulu pengertian seksisme bijak dan apa yang membedakannya dari seksisme permusuhan seperti yang diutarakan Arash Emamzadeh dari University of British Columbia, Kanada.

pria misoginis
Sikap seksis bijak melihat perempuan secara stereotip dan dalam peran yang terbatas. (123RF/kanghj103)

"Kita dapat mendefinisikan benevolent sexism sebagai sikap seksis yang objektif—seperti 'melihat perempuan secara stereotip dan dalam peran yang terbatas', dikombinasikan dengan niat dan perilaku positif yang subjektif, misalnya, membantu perempuan, mencari keintiman emosional," ujar Emamzadeh dalam artikel yang ditulisnya di Psychologytoday.com (6/8).

Jadi, jika seksisme yang permusuhan menghina, mendominasi, dan agresif, seksisme bijak bersifat paternalistik, hangat, dan menyanjung. Emamzadeh mengatakan hal itu terjadi karena mereka mendukung keyakinan seperti: 'laki-laki dan perempuan saling melengkapi'. Pria seksis yang baik hati mungkin tampak romantis. Namun demikian, mereka juga percaya laki-laki itu kuat, berani, dan tegas, sedangkan perempuan tidak kompeten, sensitif, rapuh, dan pasif.

Pria Seksis yang Baik Hati

pria misoginis
Seksisme permusuhan memandang perempuan ingin mengambil alih kekuasaan laki-laki. (123RF/lightwise)


Namun, banyak perempuan tertarik pada pria seksis yang baik hati, mungkin karena sikap prososial ini menunjukkan kesediaan dan keinginan untuk berinvestasi dalam hubungan romantis.

"Sebuah pertanyaan penting adalah apakah laki-laki seksis yang baik hati juga mungkin melakukan seksisme yang bermusuhan. Dan, apakah laki-laki yang melakukan seksisme yang bermusuhan juga bisa menjadi seksis bijak. Jawabannya dapat ditemukan dalam penelitian Bosson dan rekan-rekan tersebut," jelas Emamzadeh.

Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara seksisme permusuhan dan seksisme bijak kadang-kadang bersinggungan. Untuk kombinasi seksisme bermusuhan tinggi dan seksisme murah hati ini, Bosson dkk memberikan label misogini. Label itu berkaitan dengan status rendah pria dalam ranah romantis.

Laki-laki yang berstatus rendah dalam domain romantis memandang diri mereka jelek dan tidak menarik dan percaya bahwa mereka tidak menjadi pasangan romantis yang menarik dan berharga. Beberapa dari pria ini mungkin termasuk 'incel' atau 'selibat yang tidak disengaja', yang biasanya percaya bahwa daya tarik mereka menghalangi akses mereka ke pasangan romantis dan seksual perempuan.

Para penulis mencatat, “Jika pria dengan nilai pasangan rendah meragukan kemampuan pelindung dan penyedia bagi mereka (diperlukan untuk seksisme yang baik hati), mereka mungkin menemukan sedikit motivasi untuk merangkul ideologi kesatria dari seksisme bijak yang dapat mengimbangi permusuhan tinggi dan memfasilitasi saling ketergantungan romantis.”

Penelitian lebih lanjut tentang persepsi nilai sebagai pasangan romantis diperlukan, terutama karena hal itu dapat membantu mengidentifikasi pria muda yang cenderung mengembangkan pola pikir misoginis atau melakukan kekerasan terhadap perempuan.(aru)

>
Baca Artikel Asli