Prabowo Takut Kalah? Ini Prediksi Para Pengamat Soal Strategi Tarik Ulur Sang Jenderal
Sabtu, 07 April 2018 -
MerahPutih.com - Tak kunjung deklarasi sebagai calon presiden 2019, Prabowo Subianto kian menjadi pembicaraan. Beberapa pihak menyebut mantan Danjen Kopassus itu masih berhitung apakah dia akan menang jika melawan Joko Widodo. Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menduga Prabowo Subianto sedang galau.
Jadi, dia tak kunjung mendeklarasikan diri.
Menurut Pangi, Ketua Umum Gerindra itu tentu sudah berpikir matang bahwa besar kemungkinan akan kalah lagi jika mengulangi persaingan secara head to head dengan Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. "Prabowo sudah berpikir kalau dia maju dan hanya ada dua poros melawan Jokowi, dia pasti kalah," ujar Pangi seperti dilansir Jpnn.com Sabtu, (7/4).
Direktur eksekutif Voxpol Cente itu menambahkan, Jokowi dengan modal pengalaman sebagai Wali Kota Solo dan Gubernur DKI bisa mengalahkan Prabowo di Pilpres 2014. Nah, saat ini posisi Jokowi sebagai calon petahanan sehingga makin sulit dikalahkan. "Apalagi saat ini dengan capaian infrastrukturnya," katanya.
Masyarakat, kata Pangi, justru bosan jika pesaingan di Pilpres 2019 hanya antara kubu Jokowi dengan Prabowo. “Nonton film (judul yang sama, red) kalau sudah dua kali menjadi tidak menarik lagi," katanya.
Pangi meyakini saat ini Prabowo bukan lagi penantang Jokowi. Kalau ingin menang, maka Prabowo perlu mencalonkan tokoh lain. Selanjutnya, Prabowo cukup jadi kingmaker saja. "Jadi memang momennya Pak Prabowo saat ini sudah lewat," pungkasnya.
Sebelumnya, pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, ada beberapa faktor yang membuat Prabowo enggan terburu-buru memutuskan maju dalam kontestasi demokrasi lima tahunan.
"Yang pertama Prabowo sangat realistis. Melihat dari elektabilitas Jokowi sangat tinggi daripada Prabowo," kata Ujang. Hasil dari sejumlah lembaga survei memang menunjukkan elektabilitas Prabowo terpaut jauh dengan Joko Widodo. Misalnya, berdasarkan survei SMRC elektabilitas Jokowi mencapai 38,9 persen, sedangkan Prabowo hanya memperoleh 10,5 persen.
Faktor kedua, kata Ujang, sejauh ini sudah ada tujuh partai politik yang telah resmi menyatakan akan mengusung Jokowi di Pilpres 2019. Ketujuh parpol tersebut yakni, PDI Perjuangan, NasDem, PSI, PPP, Golkar, Hanura dan Perindo. "Yang kedua, partai koalisi 60 persen masuk ke Jokowi. Jadi 60 persen kekuatan konfigurasi partai politik sudah masuk ke Jokowi," tuturnya.
Yang ketiga, lanjut Ujang, Jokowi merupakan calon incumbent sehingga memiliki sumber daya yang luar biasa. Sebab, seluruh infrastuktur pemerintahan masih dalam genggamannya. "Sumber daya kekuatan, baik kekuatan finansial, APBN, Kejaksaan, Kepolisian dan lain-lain masih dikuasai Jokowi," jelas Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini.
Tak hanya itu, menurut Ujang, calon incumben selalu menjadi magnet politik nasional. Setiap orang maupun kelompok yang berkepentingan berusaha merapat dengan kekuasaan. "Semua orang merapat, semua orang ingin dekat, semua orang ingin mencari muka, semua orang ingin jadi tim suksesnya, sehingga kemungkinan Jokowi menang itu ada," ungkapnya.
Karena itu, kata Ujang, Prabowo tengah mengatur strategi dengan mengulur waktu pendeklarasian. Menurut dia, mantan Danjen Kopasus itu mesti mengkalkulasi kekuatan politik dengan matang. Jika tidak, Prabowo akan kembali menelan pil pahit kekalahan seperti di Pilpres 2014 silam.
"Menurut saya Prabowo kalaupun dia maju pasti di detik-detik terakhir. Karena Prabowo tidak mau maju terus kalah lagi. Kedua, usia beliau sudah senior, untuk (Pilpres) 2024 kan tidak punya peluang lagi. Artinya momentum baik Prabowo sebenarnya adalah momentum Pilpres 2019 ini," pungkas Ujang. (pon)