Prabowo Takut Kalah? Ini Prediksi Para Pengamat Soal Strategi Tarik Ulur Sang Jenderal

Thomas KukuhThomas Kukuh - Sabtu, 07 April 2018
Prabowo Takut Kalah? Ini Prediksi Para Pengamat Soal Strategi Tarik Ulur Sang Jenderal

Presiden Joko Widodo saat bersama Prabowo Subianto di Istana Negara. (ANTARA FOTO)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Tak kunjung deklarasi sebagai calon presiden 2019, Prabowo Subianto kian menjadi pembicaraan. Beberapa pihak menyebut mantan Danjen Kopassus itu masih berhitung apakah dia akan menang jika melawan Joko Widodo. Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menduga Prabowo Subianto sedang galau.
Jadi, dia tak kunjung mendeklarasikan diri.

Menurut Pangi, Ketua Umum Gerindra itu tentu sudah berpikir matang bahwa besar kemungkinan akan kalah lagi jika mengulangi persaingan secara head to head dengan Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. "Prabowo sudah berpikir kalau dia maju dan hanya ada dua poros melawan Jokowi, dia pasti kalah," ujar Pangi seperti dilansir Jpnn.com Sabtu, (7/4).

Prabowo
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat menghadiri acara Rapat Kerja Nasional Bidang Advokasi dan Hukum DPP Gerindra. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Direktur eksekutif Voxpol Cente itu menambahkan, Jokowi dengan modal pengalaman sebagai Wali Kota Solo dan Gubernur DKI bisa mengalahkan Prabowo di Pilpres 2014. Nah, saat ini posisi Jokowi sebagai calon petahanan sehingga makin sulit dikalahkan. "Apalagi saat ini dengan capaian infrastrukturnya," katanya.

Masyarakat, kata Pangi, justru bosan jika pesaingan di Pilpres 2019 hanya antara kubu Jokowi dengan Prabowo. “Nonton film (judul yang sama, red) kalau sudah dua kali menjadi tidak menarik lagi," katanya.

Pangi meyakini saat ini Prabowo bukan lagi penantang Jokowi. Kalau ingin menang, maka Prabowo perlu mencalonkan tokoh lain. Selanjutnya, Prabowo cukup jadi kingmaker saja. "Jadi memang momennya Pak Prabowo saat ini sudah lewat," pungkasnya.

Prbowo
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah). (. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Sebelumnya, pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, ada beberapa faktor yang membuat Prabowo enggan terburu-buru memutuskan maju dalam kontestasi demokrasi lima tahunan.

"Yang pertama Prabowo sangat realistis. Melihat dari elektabilitas Jokowi sangat tinggi daripada Prabowo," kata Ujang. Hasil dari sejumlah lembaga survei memang menunjukkan elektabilitas Prabowo terpaut jauh dengan Joko Widodo. Misalnya, berdasarkan survei SMRC elektabilitas Jokowi mencapai 38,9 persen, sedangkan Prabowo hanya memperoleh 10,5 persen.

Faktor kedua, kata Ujang, sejauh ini sudah ada tujuh partai politik yang telah resmi menyatakan akan mengusung Jokowi di Pilpres 2019. Ketujuh parpol tersebut yakni, PDI Perjuangan, NasDem, PSI, PPP, Golkar, Hanura dan Perindo. "Yang kedua, partai koalisi 60 persen masuk ke Jokowi. Jadi 60 persen kekuatan konfigurasi partai politik sudah masuk ke Jokowi," tuturnya.

Yang ketiga, lanjut Ujang, Jokowi merupakan calon incumbent sehingga memiliki sumber daya yang luar biasa. Sebab, seluruh infrastuktur pemerintahan masih dalam genggamannya. "Sumber daya kekuatan, baik kekuatan finansial, APBN, Kejaksaan, Kepolisian dan lain-lain masih dikuasai Jokowi," jelas Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini.

Tak hanya itu, menurut Ujang, calon incumben selalu menjadi magnet politik nasional. Setiap orang maupun kelompok yang berkepentingan berusaha merapat dengan kekuasaan. "Semua orang merapat, semua orang ingin dekat, semua orang ingin mencari muka, semua orang ingin jadi tim suksesnya, sehingga kemungkinan Jokowi menang itu ada," ungkapnya.

Karena itu, kata Ujang, Prabowo tengah mengatur strategi dengan mengulur waktu pendeklarasian. Menurut dia, mantan Danjen Kopasus itu mesti mengkalkulasi kekuatan politik dengan matang. Jika tidak, Prabowo akan kembali menelan pil pahit kekalahan seperti di Pilpres 2014 silam.

"Menurut saya Prabowo kalaupun dia maju pasti di detik-detik terakhir. Karena Prabowo tidak mau maju terus kalah lagi. Kedua, usia beliau sudah senior, untuk (Pilpres) 2024 kan tidak punya peluang lagi. Artinya momentum baik Prabowo sebenarnya adalah momentum Pilpres 2019 ini," pungkas Ujang. (pon)

#Prabowo #Prabowo Subianto #Joko Widodo #Pilpres 2019
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Berita Foto
Momen Akrab Pertemuan Prabowo dan Lukashenko Perkuat Kemitraan Indonesia–Belarus
Presiden Prabowo Subianto (kiri) bergandengan tangan dengan Presiden Belarus Alexandr Lukashenko (kanan) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 02 Juli 2026
Momen Akrab Pertemuan Prabowo dan Lukashenko Perkuat Kemitraan Indonesia–Belarus
Indonesia
Dr Tifa Tolak Damai di Sidang Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Tegaskan Pantang Mundur
Dr Tifa menolak damai di sidang kasus ijazah palsu Jokowi. Ia menegaskan, bahwa dirinya tidak akan mundur.
Soffi Amira - Kamis, 02 Juli 2026
Dr Tifa Tolak Damai di Sidang Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Tegaskan Pantang Mundur
Indonesia
Sidang dr Tifa Berlanjut Pekan Depan, Jokowi Siap Hadir Bawa Ijazah Asli
Jokowi siap hadir di sidang dr Tifa pekan depan. Ia akan membawa ijazah aslinya ke persidangan.
Soffi Amira - Kamis, 02 Juli 2026
Sidang dr Tifa Berlanjut Pekan Depan, Jokowi Siap Hadir Bawa Ijazah Asli
Berita
Ijazah Jokowi Dinyatakan Asli, Jaksa Sebut dr Tifa tak Mampu Buktikan Tuduhannya
Jaksa menyatakan bahwa ijazah Jokowi asli. Dr Tifa disebut tak mampu membuktikan tuduhannya.
Soffi Amira - Kamis, 02 Juli 2026
Ijazah Jokowi Dinyatakan Asli, Jaksa Sebut dr Tifa tak Mampu Buktikan Tuduhannya
Indonesia
Puan Tegaskan Sikap PDIP Tidak Abu-Abu, Jelas!
Partai politik yang berada di barisan pemerintah menghormati semua pendapat dan pandangan yang berbeda. Karena itu, dia menilai posisi PDIP sebaiknya harus jelas.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Puan Tegaskan Sikap PDIP Tidak Abu-Abu, Jelas!
Indonesia
Aleksandr Lukashenko Jadi Presiden Pertama yang Menginap di Istana Negara, ini Penjelasan Menlu Sugiono
Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, jadi pemimpin pertama yang menginap di Istana Negara, Jakarta.
Soffi Amira - Kamis, 02 Juli 2026
Aleksandr Lukashenko Jadi Presiden Pertama yang Menginap di Istana Negara, ini Penjelasan Menlu Sugiono
Indonesia
Presiden Prabowo Sambut Presiden Belarus Alexandr Lukashenko di Istana Merdeka
Presiden Lukashenko dikawal 17 motoris dan 80 pasukan berkuda Batalyon Kavaleri Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Presiden Prabowo Sambut Presiden Belarus Alexandr Lukashenko di Istana Merdeka
Indonesia
Link Live Streaming Sidang Perdana dr Tifa Dugaan Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Kendati demikian, PN Jaktim menerapkan sterilisasi total saat memasuki fase pembuktian demi menjaga integritas kesaksian para saksi ahli maupun saksi fakta
Angga Yudha Pratama - Kamis, 02 Juli 2026
Link Live Streaming Sidang Perdana dr Tifa Dugaan Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Indonesia
Gerindra soal Safari Politik Jokowi: Kami Fokus Kawal Pemerintahan Prabowo
Gerindra menegaskan, bahwa pihaknya belum membahas Pilpres. Mereka masih fokus menyukseskan program Presiden RI, Prabowo Subianto.
Soffi Amira - Rabu, 01 Juli 2026
Gerindra soal Safari Politik Jokowi: Kami Fokus Kawal Pemerintahan Prabowo
Indonesia
Prabowo Berikan Pangkat Kehormatan Kepada 3 Purnawirawan Polri
Pangkat kehormatan tersebut merupakan penghargaan atas jasa luar biasa ketiga purnawirawan tersebut kepada negara.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 01 Juli 2026
Prabowo Berikan Pangkat Kehormatan Kepada 3 Purnawirawan Polri
Bagikan