Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Nasib Harga Pupuk dan Produk Plastik di Ujung Tanduk Buntut Krisis Energi Global, Pemerintah Diminta Siapkan Mitigasi

Angga Yudha Pratama - Selasa, 07 April 2026

Merahputih.com - Krisis energi global akibat potensi penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga pupuk, produk plastik, dan kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, meminta pemerintah segera menyiapkan strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas harga pangan dan barang konsumsi berbasis hidrokarbon agar daya beli tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasokan migas dunia.

Baca juga:

Konflik Amerika-Israel dan Iran Bikin Harga Plastik Melonjak, Industri Komestik Ikut Terdampak

Dampak Rantai Pasok Migas terhadap Barang Konsumsi

Penutupan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz diprediksi memangkas pasokan migas secara signifikan. Kondisi ini secara otomatis melambungkan biaya produksi barang-barang turunan minyak dan gas.

Eddy Soeparno menjelaskan bahwa ketergantungan industri pada bahan baku hidrokarbon membuat kenaikan harga menjadi sulit dihindari.

"Sejumlah kebutuhan esensial yang bahan bakunya bersumber dari minyak dan gas telah atau akan mengalami kenaikan harga," ujar Eddy dalam keterangannya, Selasa (7/4).

Lonjakan biaya produksi tidak hanya menyasar minyak mentah, tetapi juga merembet ke produk jadi seperti obat-obatan, pakaian jadi, hingga peralatan rumah tangga. Sektor pangan menjadi yang paling rawan terdampak karena ketergantungan pada pupuk yang menggunakan bahan baku gas.

Langkah Mitigasi dan Efisiensi Nasional

Meskipun pemerintah saat ini masih menanggung selisih harga BBM untuk melindungi rakyat, langkah antisipasi terhadap produk non-subsidi harus tetap berjalan. Kenaikan harga kemasan plastik pada mie instan dan air minum dalam kemasan berpotensi memicu inflasi jika tidak ada intervensi yang tepat.

Eddy mengharapkan pemerintah menyediakan bantalan sosial atau subsidi tambahan bagi masyarakat ekonomi lemah. Di sisi lain, kesadaran publik untuk melakukan efisiensi energi menjadi faktor kunci dalam menghadapi krisis ini.

Baca juga:

Harga Plastik Naik, Pramono Minta Warga tak Panic Buying

"Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melakukan aksi penghematan energi serta daur ulang, khususnya plastik," ungkap Eddy.

Pihaknya juga mendukung penuh kampanye efisiensi nasional, termasuk pengurangan sampah makanan dan percepatan transisi ke kendaraan umum listrik seperti MRT dan bus listrik guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Baca Artikel Asli