Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Musim Layangan di Libur Sekolah Ancam Keselamatan Whoosh, Tercatat Sudah Ada 452 Insiden

Wisnu Cipto - Kamis, 11 Juni 2026

MerahPutih.com - Memasuki libur sekolah bulan Juni, Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak bermain layang-layang di sekitar jalur operasional Whoosh. Aktivitas ini dinilai berpotensi mengganggu keselamatan perjalanan kereta cepat.

Baca juga:

KPK Usut Kasus Korupsi Kereta Cepat Whoosh, Penggelembungan Harga Lahan Disorot

Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, KCIC mencatat 452 insiden layang-layang ditemukan di jalur operasional Whoosh, terutama di kawasan Padalarang, Cimahi, dan Bandung. Rinciannya:

Bahaya Layang-Layang di Jalur Kereta

Kepada media, Kamis (11/6), General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, menjelaskan layang-layang yang putus dan terbawa angin dapat tersangkut pada jaringan listrik aliran atas (Overhead Catenary System/OCS).

“Layang-layang yang putus dan terbawa angin dapat membahayakan keselamatan perjalanan Whoosh,” General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa

Eva menjelaskan OCS menggunakan tegangan tinggi sehingga layang-layang atau benang yang tersangkut bisa merusak jaringan listrik maupun pantograf kereta. Dampaknya bukan hanya mengganggu keselamatan, tetapi juga menyebabkan keterlambatan perjalanan yang berdampak pada ribuan penumpang.

Baca juga:

Waspadai Modus Baru Penipuan, Ngaku Pengelola Whoosh

Keselamatan Whoosh Tanggung Jawab Bersama

Untuk mencegah gangguan, KCIC melakukan sejumlah langkah antisipasi. Mulai dari patroli rutin di sepanjang jalur operasional; pemasangan papan imbauan keselamatan; pengamanan layang-layang dan benang yang ditemukan; hingga koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat kewilayahan, sekolah, dan tokoh masyarakat

KCIC juga aktif melaksanakan program sosialisasi keselamatan. Sepanjang 2024–Mei 2026, KCIC telah menggelar 46 kegiatan sosialisasi di 38 sekolah (SD–SMP) dengan total 7.827 siswa, serta masyarakat di 6 kecamatan rawan gangguan layang-layang.

“Keselamatan operasional Whoosh tidak hanya mengandalkan teknologi dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat,” tutup Eva. (Knu)

Baca Artikel Asli