Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

Musikal 'Senja Teduh Pelita' Resmi Pentas, Angkat Kisah Fiksi Ilmiah dengan Lagu-lagu MALIQ & D'Essentials

Dwi Astarini - Sabtu, 04 Juli 2026

MERAHPUTIH.COM - MUSIKAL Senja Teduh Pelita resmi memulai rangkaian pementasan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang berlangsung pada 3–12 Juli 2026. Pertunjukan musikal orisinal hasil kolaborasi Indonesia Kaya, Jakarta Movin, dan MALIQ & D'Essentials ini menghadirkan kisah fiksi ilmiah yang mengangkat tema harapan, keberlangsungan hidup, serta hubungan manusia dengan alam di tengah dunia yang telah mengalami kehancuran.

Cerita membawa penonton ke masa depan ketika bumi berada di ambang kehancuran akibat krisis iklim, eksploitasi sumber daya yang tidak berkelanjutan, pandemi, hingga konflik antarnegara. Berbagai bencana tersebut menyebabkan populasi manusia menyusut drastis, sedangkan tanah yang subur dan air bersih menjadi sumber daya yang sangat langka. Dalam situasi tersebut, seluruh orang dewasa tiba-tiba menghilang dan menyisakan sembilan anak untuk menghadapi dunia yang telah mereka wariskan.

Di tengah kondisi penuh ketidakpastian, Arah, yang diperankan secara bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, membentuk Pasukan Pelita, kelompok yang terdiri dari anak-anak dengan kemampuan berbeda yang saling melengkapi. Bersama Kala (Xandrea Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo), Volta (Sahlendra Syarief), Langit (Mavisha Reakana), Hara (Emily Olivia), Palu (Nayaka Maleakhi), Raga (Nadindra Gynta), Binbin (J Rizhan), dan Lagu (Annabella Farizky), mereka memulai perjalanan untuk bertahan hidup sekaligus mencari keberadaan orang tua mereka yang misterius menghilang.

Baca juga:

Musikal 'Senja Teduh Pelita' Angkat Harapan Generasi Terakhir Bumi Lewat Lagu-Lagu MALIQ & D’Essentials



Dalam pencarian tersebut, Pasukan Pelita menemukan sebuah teluk yang masih asri dan belum tersentuh kerusakan. Tempat itu kemudian mereka beri nama Teluk Pelita, yang menjadi simbol harapan baru di tengah dunia yang porak-poranda. Namun, keberadaan teluk tersebut menghadirkan dilema besar: melanjutkan pencarian orang-orang yang mereka cintai atau menetap dan membangun kehidupan baru di tempat yang aman. Seiring perjalanan, mereka menyadari bahwa ancaman terbesar bagi masa depan bukan hanya kerusakan alam, melainkan juga sifat serakah yang dapat muncul dalam diri manusia.

Produser sekaligus sutradara Musikal Senja Teduh Pelita, Nuya Susantono, menjelaskan bahwa dunia yang dihadirkan dalam pertunjukan ini lahir dari inspirasi atas karya-karya MALIQ & D'Essentials yang kaya makna dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita merupakan sebuah universe yang lahir dari inspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas MALIQ & D’Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas hidup yang kita jalani. Bahwa di dalam diri kita ada cinta besarnya Arah yang akan melakukan apapun untuk orang yang disayanginya. Dalam diri kita pula ada Kala, yang berani berpikir kritis akan apa itu benar dan salah. Kita semua ialah Pasukan Pelita yang terus bertahan dan berjuang merawat kehidupan," kata Nuya.

Sebagai bagian dari pengalaman pementasan, sekitar 20 lagu MALIQ & D'Essentials dihadirkan untuk mengiringi perjalanan emosional para karakter. Sejumlah lagu seperti Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang, hingga beberapa karya dari album terbaru Begini Begitu diinterpretasikan ke dalam alur cerita, memperkuat emosi sekaligus menjadi jembatan antara musik dan narasi yang disajikan di atas panggung.(Far)



Baca juga:

Jelang Pementasan Teater Musikal Bertajuk Senja Teduh Pelita, Adaptasi Lagu MALIQ & D’Essentials

Baca Artikel Asli